Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
9. Dalam Diam


__ADS_3

~Meski sorot mata tak dapat memancarkan segala hal dan rasa yang ada, tapi setidaknya mampu membantu bibir yang kelu, karena degup jantung yang tak menentu ~


.


.


.


Aula sudah sepi, tak ada lagi anak mentor yang berada di sana kecuali Kiyara dan Tama, seniornya yang tengah sibuk memandanginya. Ia, disergap rasa takut juga khawatir.


“Lu, masih inget gue?” suara berat itu, memenuhi gendang telinga Kiyara … membuatnya bimbang bukan main antara harus jujur atau pura-pura tak ingat saja. Tapi,


sayang kepalanya tak mau diajak kompromi, karena tanpa aba-aba kepalanya sudah


mengangguk, mengiyakan pertanyaan Tama.


“Bagus kalo lu masih inget gue, hoki juga lu bisa masuk kampus ini, Adik gue aja nggak


bisa masuk dan sayang banget gue baru tahu lu kuliah di sini setelah lu kuliah hampir 3 semester.” Ia, masih terjerat dalam tatapan tajam pria bernetra hitam yang seakan-akan bisa menelannya hidup-hidup.


“Maafin yang tadi, Bang.” Tama, tertawa sinis menggelengkan kepalanya lalu berjalan


mendekat ke arah Kiyara.


“Nope, gue paham sekarang kenapa lu tadi


kayak orang bingung campur ketakutan. Karena kalo gue nggak salah tebak, lu, masih takut sama gue … !”


Langkah kaki Tama yang semakin mendekat, membuat Kiyara beranjak dari tempatnya terpaku … dan tatapan mata tajam Tama, semakin mengingatkan Kiyara pada kejadian yang paling ia ingin lupakan. Kejadian pada saat Tama mencaci makinya, ketika Aurel,


adik Tama kalah seleksi OSN Biologi tingkat sekolah, kejadian pada saat Tama, yang kala itu sudah duduk di bangku SMA mendatanginya di tempat les lalu menguncinya di kamar mandi tempat les-lesan, kejadian pada saat Aurel memfitnah dirinya menyimpan kunci jawaban, memfitnah dirinya mencontek Aurel, dan


kejadian saat satu persatu teman-temannya pergi menjauh dari sisinya membullynya secara verbal karena bentuk tubuh yang katanya tak sempurna karena terlalu besar sampai puncaknya dia jatuh sakit karena diet ketat serta psikisnya yang down, mengubahnya menjadi gadis dengan tingkat percaya diri dibawah rata-rata, selalu merasa rendah diri.


Dug … Kakinya membentur kaki meja, membuat ia meringis bingung … harus menghindar

__ADS_1


kemana lagi?


“Bang, please … ! tolong … jangan gini, iya


… iya … a-aku takut sama Abang … ! Aku nggak mau lagi dibully sama orang-orang atas kesalahan yang nggak pernah aku buat,


terlebih karena fisikku …” Bisiknya dalam hati, kalimat itu sudah tersusun dari tadi, sudah berulang kali ia ucapkan, sayang hanya dalam hati, sedangkan bibirnya masih saja kelu untuk bicara, memilih bungkam tanpa mencoba membela, sedang sorot matanya sudah memancar kesedihan dan ketidakberdayaan.


Bayangan masa lalunya terus berputar-putar di kepalanya, membuatnya pusing bukan main.


Lalu sesuatu tiba-tiba mengalir begitu saja dari lubang hidungnya. “Lu, kenapa?” teriak Tama dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi khawatir saat netra hitamnya menangkap cairan kental berwarna merah keluar dari hidung Kiyara.


Brug … tubuh besar itu tiba-tiba limbung, sebelum Tama sempat menahannya.


Tama, meringis menatap tubuh besar berbalut  busana muslim yang sudah telungkup di depannya, dengan keyakinan dan kekuatan penuh, Tama mencoba mengangkat tubuh Kiyara. Berhasil … !!!


“Bodoh … ! kenapa gue malah main-main gini, nggak nurutin omongannya Bang Dafa, gue


sendiri yang susah kan … ! dan lu, kenapa mesti limbung sih … !” Tama, terus saja menggerutu sembari menggendong tubuh Kiyara yang bobotnya mungkin lebih berat dibanding dirinya sendiri meski tinggi badan keduanya jauh berbeda.


Beruntung, Satria masih mendengar teriakan Tama yang menggema di koridor itu, membuatnya segera berlari menghampiri Tama yang terlihat kesusahan membawa Kiyara. “Bang, kenapa Kiyara? Kemeja lu sampek kenak darah juga, tuh … !”


“Udah, jangan nanya-nanya dulu. Lu cepetan buka mobil, kita bawa Kiyara ke rumah sakit


… !”


“Gue, bawa motor, Bang.”


Tama, berdecak sebal sembari terus melangkahkan kakinya menuju parkiran. “Lu, lari ambil tas gue di atas meja paling depan dalem aula, cepetan … !” Tanpa menjawab, Satria langsung berlari dengan sekuat tenaganya.


Parkiran kampus tampak lengang, tak banyak kendaraan yang berjejer memudahkan Tama untuk menemukan mobilnya yang terparkir rapi, yang sayangnya berada di paling ujung


parkiran di tempat teduh bawah pohon trembesi yang dahannya seolah sedang


memayungi 2 mobil di bawahnya.

__ADS_1


“Buruan buka pintu belakang … !” teriak Tama, saat mendapati sosok Satria dari pantulan


kaca mobil.


Tit … tit …


Pintu mobil sudah terbuka lebar, dengan hati-hati Tama, menaruh tubuh Kiyara di kursi


bagian belakang lalu dia ikut duduk disana menjadi tumpuan tubuh Kiyara untuk bersandar. “Lu, yang nyetir mobilnya, buruan … !”


Mobil mewah milik Tama, sudah melaju di


atas aspal hitam Kota Bandung. Melaju dengan kecepatan tinggi, akibat kepanikkan Tama, ketika melihat darah dari hidung Kiyara tak berhenti mengalir, hal yang tadi sempat luput dari penglihatannya karena sibuk menggendong tubuh besar itu.


“Bang, hubungi keluarganya, Bang … !” ucap Satria tak kalah khawatir.


Tama, mengangguk setuju. Di raihnya smartphone miliknya yang berada di saku kemejanya, menggulirkan layarnya perlahan, mencari satu nama, orang yang tadi pagi baru saja bertemu dengannya, lalu menekan


namanya untuk ia telepon.


Tut … tut … tut … .


“Assalamu’alaikum, Tam … ada apa?”


“Wa’alaikumsalam … Bang, ini gue mau ngabarin Kiyara pingsan dan mimisan. Ini gue bawa ke rumah sakit deket kampus, masih di jalan … kalo bisa lu susulin kita ke sana.”


“Brengsek. Lu apain Adik gue, hah?”


“Sorry, ntar gue jelasin. Lu ke sana aja, buruan … !”


Tangannya langsung menggulirkan gambar telepon berwarna merah, menutup panggilan dengan sepihak. Dia paham ini kesalahannya, tapi bukan waktunya untuk dipojokkan oleh


Kakak si Gendut yang sedang merebahkan badannya di bahu kekar, Tama.


“Gue, turunin di pintu masuk … lu turun di sana ya Bang, gue parkir mobil dulu ntar gue susul ke bagian UGD.” Tama menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2