
AUTHOR POV
Dave, sudah pergi sedari pagi ke kantornya … tentu saja karena banyaknya pekerjaan yang tak bisa diwakilkan pada orang kepercayaannya sehingga sesekali ia harus turun tangan sendiri seperti saat ini. Usaha yang sedari muda ia tekuni itu kini sudah berkembang sangat pesat, juga perusahaan yang diturunkan dari keluarga Daddynya ikut berkembang pesat saat ia pegang. Mengingat bagaimana perjuangan Grandpa, Daddy, dan Unclenya membuat Dave selalu berusaha agar bisa membahagiakan mereka semua dengan caranya, terutama untuk Daddy dan Grandpanya yang sudah tiada, Grandpanya sudah meninggal menyusul Daddynya satu tahun lalu di Jerman.
Sementara itu Kiyara kini tengah menyisir rambut lurus milik anak perempuannya, mengikatnya jadi satu di belakang lalu memberi poni tipis menutupi dahinya.
“Sudah cantik, anak Mama,” ucap Kiyara.
“Yey, Syta cantik,” pekik Syta dengan heboh membuat kedua saudaranya itu geleng-geleng kepala di buatnya.
“Ma, kita jadi ke lumah Nenek dan Kakek, sekalang?” tanya Lendra dan diangguki oleh Kiyara.
“Heum, nanti bantuin Mama bawa oleh-oleh buat Nenek dan Kakek ya,” ucap Kiyara.
“Siap, Mama nanti Lendla bantuin,” kata Rendra dan diangguki oleh kedua saudaranya.
Baby tripletsnya sudah siap dengan pakaian senada, kapan lagi Kiyara bisa mendandani anak-anaknya dengan pakaian yang sama seperti ini, karena sudah dapat dipastikan dengan seiring berjalannya waktu, nanti saat anak-anaknya itu beranjak dewasa akan susah untuk mendandani mereka dengan style yang sama, karena pada saat itu datang mungkin mereka sudah punya gayanya sendiri yang menjadi ciri khas pribadinya.
“Mama, mau pakai kerudung dulu ya, kalian yang anteng jangan berantem,” pesan Kiyara pada ketiga anaknya yang kini duduk di kasurnya masing-masing.
__ADS_1
“Abang, bawa bola balu kita, nanti kita main sama Kak El,” ucap si Bungsu dan diangguki antusias oleh Rendra.
“No … no … no ….” Ucap Syta sambil menggerak-gerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
“Abang sama Adek ndak boleh, main bola di lumah Nenek sama Kakek, nanti Nasyta ndak ada tawan main,” seru Syta dengan wajah cemberutnya.
“Kakak, main saja bonekana sama Uwa Asti, atau sama Teteh tecil,” jawab Lendra Teteh kecil yang dimaksud adalah anak kedua dari Dafa dan Asti yang usianya baru 14 bulan.
“Ish, Kakak melajuk sama Adek,” ucap Syta dengan hidung yang sudah kembang kempis.
“Sudah … sudah … jangan belantem, ndak baik … nanti kita main ular tangga aja di lumah Nenek sama Kakek, Kak El kan punya banyak mainan, kita juga bisa main lego, jangan belantem nanti Mama malah, kalian ndak diajak ke lumah depan loh,” lerai Rendra, sebagai anak tertua dia selalu punya caranya sendiri untuk membuat adik-adiknya kembali akur, tapi tak sering juga dia memilih diam dan membiarkan kedua saudaranya itu untuk menyelesaikan perdebatan mereka sendiri, bergantung pada situasi dan kondisi saja.
“Heum,” jawab keduanya dengan kompak membuat Rendra menggelengkan kepalanya.
“Siap, Mama!”
Ke empat orang itu berjalan menuju rumah yang ada di sebrang rumah mereka dengan obrolan kecil yang
terselip menemani perjalanan singkatnya. Tangan-tangan mungil triplets yang sibuk membawa kotak baperware yang berukuran sedang, tak membuat ketiganya lengah saat berjalan.
__ADS_1
“Belalti Mama dulu tinggal di sini sama, Kakek, Nenek sama Uwa Dafa juga?” tanya Nasyta saat mereka sudah memasuki halaman rumah Nenek dan Kakeknya.
“Iya, dulu Mama waktu kecil sampai sebelum menikah sama Papa kalian, Mama tinggal di sini, tinggal sama orang tua dan saudaranya Mama, seperti kalian saat ini tinggal sama Mama dan Papa juga saudara kalian,” jawab Kiyara.
“Belalti nanti kalau Lendla besal, Abang, dan Kakak juga besal, kita ndak akan tinggal sama Mama dan Papa lagi?” tanya Lendra dengan tatapan sendunya.
“Heum, tapi salah satu dari kalian harus tinggal sama Mama dan Papa, menemani masa tua Mama dan Papa,” jawab Kiyara lagi.
“Huwwwwaaa … indak mahu begitu, indak mahuuu huwaaa… mahunya sama-sama telussss sampai nanti-nanti, sampai besok-besok … huwaaaa,” jerit Syta saat mendengar jawaban Mamanya, membuat Kakek yang berada di dalam rumah tergopoh-gopoh keluar saat mendengar tangisan cucunya itu.
“Ada apa ini, Nasyta kenapa menangis seperti ini Ki?” tanya Ayah Akbar pada anaknya yang kini tengah menenangkan anak tengahnya itu sementara baperware yang tadi dipegang Syta sudah diambil Rendra dan dibawanya bertumpukkan dengan baperware yang dia bawa.
“Enggak apa-apa, Yah … he he he,” jawab Kiyara yang jujur saja bingung harus menjawab seperti apa, karena ini semua berawal dari obrolan singkat yang malah membuat putri kecilnya itu berpikiran entah kemana, sementara kedua anak laki-lakinya terlihat biasa saja sekarang, terlebih Rendra dengan muka datarnya.
“Sini, biar Nasyta Ayah yang gendong,” ucap Ayah Akbar dan diangguki oleh Kiyara.
“Rendra, Lendra, ayo ikut Kakak ke kamar, kita main Lego,” ajak El pada Rendra dan Lendra.
“Sebentar Kak, biarkan Abang sama Adek menyapa yang lain dulu ya baru ke kamar Kakak,” ucap Kiyara yang selalu mengajarkan anak-anaknya agar berlaku sopan di manapun tempatnya.
__ADS_1
“Siap, Tan,” jawab El.
Di dalam rumah Nasyta sudah tak lagi menangis kencang, entah bagaimana Kakeknya itu membujuk gadis kecil yang baru saja menangis kencang,sehingga bisa diam di gendongannya. Tak berselang lama, malah gadis kecil itu sudah berkeliling rumah mencari Nenek, Uwa Asti, dan juga Teteh kecilnya.