Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Menggoda Adik Ipar


__ADS_3

“Kakak, sih jadinya kita telat ke rumah sakit … mana Ara belum masak lagi,” gerutu Kiyara sembari menata kerudungnya agar terlihat rapi dan pas di wajah chubbynya.


“Yah, Yang … Aku kan butuh gizi yang cukup sebelum mengurus pekerjaan mana kita nanti LDRan juga dan kamu itu selalu saja menggoda di mataku jadi mana tahan aku melihatnya lebih baik seperti semalam, kamu benar-benar membuatku melayang.”


“Astaga, apa katanya? Aku menggoda? Ada-ada saja Kak Dave ini, bagaimana jika aku masih 87kg hahaha mana kuat dia menahan tubuhku untuk bergerak di atasnya, aku saja semalam sangsi dia mendesyah dan meracau seperti itu karena nikmat atau karena terlalu berat membiarkanku duduk di sana,” batin Kiyara dalam hati.


Kiyara, membalik tubuhnya menatap lekat suami tampannya itu lalu tangannya mengusap lembut rahang tegas Dave. “Sabar ya, nanti setelah semua ini bisa kita lewati, Mommy sembuh dan kita bisa kembali ke Bandung secepatnya aku janji akan belajar lebih baik lagi untuk memuskan Kakak di atas sana,” ucap Kiyara sembari menunjung tempat tidurnya.


“Kamu selalu saja bisa berkata manis.”


Cup


Cup

__ADS_1


Cup


Cup


“Geli, Kak …”


Cup


Cup


“Iya … iya, ayo kita beli di depan rumah sakit saja di sana ada yang jual makanan Indonesia, Kakak mau sarapan nasi krawunya Gresik, di sana nggak kalah enak loh Yang sama di kota aslinya soalnya yang punya emang orang Jawa Timur kalau nggak salah,” ajak Dave.


“Oke, Kiyara sarapannya samaan aja sama Kak Dave, sekalian bungkus buat Kak Dafa ya Kak,” ucap Kiyara.

__ADS_1


“Boleh, ayo … kita bungkus 3 emh apa sekalian empat aja barangkali Mommy mau,” kata Dave.


**


Terik matahari, membuat silau pandangan lelaki tampan di dalam taksi yang ia naiki … meski masih bisa melihat pemandangan di luar tapi tetap saja teriknya matahari cukup mengganggunya. Pria itu kini sedang menuju salah satu rumah sakit besa di negara Singapura, rumah sakit yang cukup terkenal dengan pengobatan kanker terbaik, meski berat untuk pergi tapi dia harus pergi juga karena sebagai anak sulung, di keluarganya Dafa harus bisa memposisikan diri sebaik mungkin, apalagi dia memiliki peran baru yang sangat membutuhkan kedewasaan serta kasih sayangnya tiada tara, Papa, yah dia adalah Papa baru bagi anaknya yang masih berusia hitungan bulan saja, tapi di sini, di Singapura Adik iparnya meminta bantuan untuk menjaga adik bungsunya sendiri di negara tersebut. Sebagai Kakak tentu saja dia menyanggupi hal itu, meski harus mengorbankan waktu untuk bersama anak istrinya sendiri, tapi dia cukup tenang meninggalkan anak istrinya di Bandung karena ada orang tuanya yang menjagakan orang terkasihnya itu.


Taksi yang di naiki sudah berhenti di depan lobby rumah sakit, baru saja menginjakkan kaki tubuhnya sudah di tubruk dan dipeluk erat oleh adiknya yang tak lagi gadis itu dengan erat.


“I miss you so much, Kak.”


“Sayang, jangan peluk Bang Dafa di tempat umum seperti ini nanti yang dikira suamimu Bang Dafa bukan aku,” ucap Dave sembari melerai pelukkan adik dan kakak yang tengah saling merindu itu.


Plak …

__ADS_1


Dafa yang gemas dengan keposesifan, Adik Iparnya itu memukul kecil bahu Dave. “Dia adikku, jangan coba-coba memisahkan kami,” ucap Dafa dan kembali menarik tubuh adik kandungnya ke dalam dekapannya lagi.


“Hahaha, ternyata seru juga menggoda Lele Mata Biru ini,” kata Dafa dalam hati ketika melihat wajah cemberut Dave.


__ADS_2