
AUTHOR POV
Iring-iringan dua mobil itu akhirnya sampai juga di rumah Fani, adiknya Ayah Akbar. Rumah yang menjadi saksi tumbuh dan besar Ayah Akbar bersama Adiknya, Fani kini ditempati Fani setelah kedua orang tuanya tiada. Shakira dan Bianca juga tumbuh dan besar di rumah itu, tapi sudah hampir dua tahun belakangan rumah itu hanya dihuni Om Bagas, Tante Fani, dan Shakira, karena Bianca sudah pindah ke Bandung ikut bersama suaminya yang masih bekerja di perusahaan Dave, menjadi orang kepercayaan Dave dalam mengelola perusahaan peninggalan mendiang Daddynya, sebelum nanti akan diserahkan Dave pada salah satu anaknya.
“Bukain sabuk pengamannya dulu Yang, nanti aku gendong satu-satu Rendra sama Lendra, kamu gendong Syta aja,” ucap Dave yang masih di dalam mobil, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Perjalanan Bandung- Jakarta kali ini cukup melelahkan mereka melakukan perjalanan hampir 5 jam lamanya karena harus sering berhenti, baby Alyah Teteh Kecil Triplets sering menangis saat di jalan sehingga setiap ada rest area dalam tol selalu di singgahi, untuk menenangkan Baby Alyah yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh.
“Iya, Mas … hati-hati ya kalau masih capek aku minta bantuan sama Om Bagas aja, kamu kayaknya capek banget begini, udah lama ya nggak keluar Bandung mobilan sendiri begini,” ucap Kiyara sambil mengelus bahu suaminya.
“Iya, Yang … untung aja kaki nggak kram, udah yuk bawa anak-anak, aku masih kuat kok,” ajak Dave mulai membuka sabuk pengamannya sendiri lalu keluar dari mobilnya dan membuka pintu samping untuk mengangkat Rendra terlebih dahulu sementara Kiyara masih berada di dalam mobil untuk menjaga dua anaknya, sebelum Dave kembali membawa Lendra dan dia membawa Syta.
Baru beberapa detik saat Dave hilang di balik pintu Om Bagas sudah datang menghampiri Kiyara dan membawa Lendra dalam gendongannya. “Biar Om yang bawa Lendra, kasihan Dave kayak yang kecapekan banget begitu,” ucap Bagas sebelum menggendong cucunya itu.
“Iya Om, makasih ya maaf ngerepotin Om,” kata Kiyara sambil mengekor di belakang Omnya, dengan Nasyta di dalam gendongannya.
“Mana ada ngerepotin, orang anak kamu juga kan cucu Om, Ki. Ayah sama Kakak kamu juga itu kayaknya kecapekan, kalian sih nggak pakai sopir, harusnya pakai sopir aja tadi dari Bandung,” ujar Bagas.
“Iya, Om … niatnya kan mau santai gituh jalan ke Jakarta ternyata santai pun kita tetep kecapekan soalnya udah lama nggak pernah naik mobil ke luar kota,” jawab Kiyara.
“Iya, nanti pas pulang kalian bawa sopir kantor Om aja, kasihan Dafa sama Dave. Nah, ini kamar buat kalian selama ada di sini, nggak lupa kan ini kamarnya siapa?” tanya Om Bagas.
“Ingat, ini kamarnya Ayah pas lagi bujang kan Om?”
“Heum betul, dan Ayah kamu sekarang ada di kamar almarhum, almarhumah Kakek dan Nenek, dan Dafa ada di kamar sebelah kamar ini,” jawab Om Bagas dan diangguki oleh Kiyara.
“Ayo, masuk …” sambung Om Bagas.
Bagas dan Kiyara, merebahkan tubuh kedua balita itu di atas kasur menyusul Rendra yang sudah tidur di atas ranjang. “Terima kasih Om, sudah di bantu membawa Lendra,” ucap Kiyara.
“Sama-sama, sudah segera istirahat dulu nanti kalau sudah berenergi lagi segera ke dapur biar tambah berenergi lagi,” pesan Om Bagas dan diacungi jempol oleh Kiyara.
“Eh, sebentar Om … ini Tante sama adek-adek kemana meni sepi begini?” tanya Kiyara.
“Lagi ke rumah adiknya Om, nganter baju buat acara lusa,” jawab Om Bagas.
__ADS_1
“Oh, iya-iya Om.”
“Ya sudah, sana istirahat dulu. Itu suami kamu kayaknya di kamar mandi.”
“Iya, Om …”
Klek …
Tak berselang lama setelah Bagas keluar dari kamar, Dave keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Loh, kok udah mandi aja Mas ini,” ucap Kiyara kaget.
“Iya, biar agak segeran gituh Yang,” jawab Dave.
“Sebentar ya aku juga mau bebersih dulu, abis itu aku pijetin bentar ya,” ucap Kiyara dan diangguki oleh Dave.
~~
“Nanti di salami dan di sapa semuanya ya, anak, anak, anak Mama dan Papa yang cakep-cakep,” ucap Kiyara sebelum membuka pintu kamarnya.
“Siap, Mama,” jawab ketiganya dengan kompak, membuat Dave tersenyum lembut melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik di bawah asuhan istrinya.
Klek …
“Lama sekali,” ucap pria kecil yang berdiri sambil bersandar di tembok sebelah pintu, membuat ke lima orang yang baru saja ingin keluar dari kamar terkaget-kaget dibuatnya.
“Astaghfirullah, El … ngagetin kita aja, kamu kenapa berdiri di sini?” tanya Kiyara yang masih mengusap dadanya karena kaget akan suara yang tiba-tiba terdengar saat baru saja membuka pintu kamar.
“Aku menunggu Triplets keluar, dari tadi di sini, ketuk-ketuk nggak ada yang dengar, aku udah bosen digodain Tante Shakira,” gerutu El dengan muka cemberutnya membuat Kiyara dan Dave mengulum senyumnya.
“Mau main ya Kak?” tanya Syta dan diangguki oleh El.
“Tapi sebental ya, kita mau menyapa lain-lain dulu,” ucap Lendra.
__ADS_1
“Jangan lama-lama nanti aku tunggu di kamar itu ya,” jawab El sambil menunjuk kamar sebelah yang ditempatinya selama ada di sini.
“Siap, Kak,” jawab triplets kompak lalu diangguki oleh El.
“Ya, sudah Kakak El masuk kamar dulu ya jangan sendirian di sini, nanti Triplets ke kamarnya Kakak,” pesan
Kiyara dan diangguki oleh El sambil berlalu menuju kamarnya.
“Nah, sekarang kita ke ruang keluarga,” ajak Dave sambil menggandeng tangan anak-anaknya.
Suara riuh dengan gelak tawa terdengar dari ruang tengah, membuat Kiyara sudah menyunggingkan senyumnya dari jauh. Sungguh suasana yang sangat ia rindukan, berkumpul dengan keluarga besar seperti ini, tapi ini masih minus keluarga Bundanya yang dari Surabaya jadi masih kurang lengkap.
“Itu, Triplets tuh,” heboh Shakira, si calon manten yang tingkahnya masih pecicilan.
“Halo, semuanya,” sapa Syta dengan ramah, tentu saja senyumnya mengembang sempurna.
“Ah, gemas sekali.”
“Hai juga, Triplets.”
“Ayo ini, Oma bingung mana yang Narendra sama Nalendra, kok Oma cuman tahunya Nasyta aja,” goda Fani yang sedarii dulu mengukuhkan panggilannya dengan sebutan Oma.
“Aku Lendla, Oma Fani,” ucap Rendra.
“Aku Lendla, Oma,” ucap Lendra.
Hahahaha … suara gelak tawa mengisi ruang keluarga itu akibat kecadelan dua anak kembar, untung saja satu kembar lainnya perempuan dan namanya tidak ada huruf Rnya. Nggak bayangin kalau ketiganya memperkenalkan nama ‘Lendla’ semua.
“Kok sama Lendlanya?” tanya Fani dengan wajah yang dibuat bingung.
“Aku Llleendla, Oma,” ucap Rendra dengan susah payah.
“Bukan, aku Abang yang peltama yang Na- nya pakai llllrrlllrrrrrrr … Nallrrrrendrrrla” kesal Rendra.
__ADS_1