Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Sayang, Tanggung Jawab!


__ADS_3

Kiyara berucap syukur dan berteriak senang ketika mendapat kabar jika Mommynya sudah bisa keluar dari rumah sakit, meski tidak bisa sembuh total karena memang ini adalah kasus kambuh yang lambat diketahui sehingga pengobatan hanya bisa dilakukan untuk menekan pertumbuhan sel kanker itu sendiri. Tapi Kiyara dan Dave, tetap senang dengan berita menggembirakan ini.


“Alhamdulillah, ya Mas,” ucap Kiyara yang kini mengganti panggilannya ke Dave dari Kakak menjadi Mas, karena permintaan Dave sendiri agar Kiyara bisa membedakan antara memanggil suami dan Kakaknya, apalagi namanya dan nama Dafa hampir sama, Dave-Dafa, Dafa-Dave


“Iya, Sayang setelah 33 hari di sini dan lusa kita bisa pulang, atau kalau mau nambah hari lagi biar Mommy istirahat dulu di Apartemen juga nggak apa-apa,” ucap Dave, dia teramat senang Mommynya bisa kuat melawan penyakit yang bisa dikatakan mematikan itu, tidak sia-sia dia membagi tubuhnya beberapa kali pulang pergi Bandung-Singapur.


“Iya, Mas … aku rasa sebaiknya Mommy istirahat dulu di sini. Emh, nanti saat Mommy sudah di rumah Bandung


tetap harus di jaga ketat Mas, apalagi makanan dan jadwal istirahatnya jangan sampai kecolongan, jadwal terapi hormonnya juga kita konsultasikan lagi sama dokter yang di sini biar bisa di sesuaikan lagi ke depannya kalau kita bawa Mommy berobat lanjutan di rumah sakit Bandung atau Jakarta.”


“Iya, Sayang … malam ini ayo kita menginap di rumah sakit, sambil membawakan Mommy makanan,” ajak Dave, tadi mereka izin pulang lebih sore pada Mommynya, padahal Dave memiliki rencana terselubung.


“Boleh, Mas … sebentar ya, aku mau pake kerudung dulu sekalian mau nyiapin baju buat Mommy besok keluar dari

__ADS_1


rumah sakit.”


Dave, tersenyum lembut melihat kecekatan sang istri yang begitu memikirkan Mommynya, dia juga sangat bersyukur kejadian beberapa waktu bisa diselesaikan dengan cepat dan menjadi pembelajaran bagi keduany terutama untuk Dave, nahkoda kapal yang kini sudah mulai berlayar mengarungi samudra yang lebih luas lagi, samudra pernikahan.


“Mommy enaknya di belikan apa Yang?” tanyanya sembari mengekori Kiyara yang kini sedang merapikan baju untuk di bawa ke rumah sakit.


“Yang sehat dan jangan terlalu berlemak, Mommy harus makan makanan sehat. Kita juga harus makan makanan sehat, Sayang … biar Mommy tidak merasa sendirian, dan badan kita juga biar sehat selalu,” ucap Kiyara.


memang adanya begitu, biasalah pengantin seumur jagung bawaannya kalau nggak itu ya anu.


“Ish, Mas ini … jangan keseringan aku takut pas akunya nggak sadar udah isi di bor terus sama kamu, kasihan anak kitanya kegencet,” ucap Kiyara, membuat mata Dave membulat sempurna teringat juga selama satu bulan lebih pernikahannya dia belum juga absen kecuali pas dia ditinggal Kiyara menginap di rumah sakit dan saat dia sedang kembali ke Indonesia mengurus pekerjaannya selebihnya gempur terus selagi ada waktu meski itu hanya 40 menit.


“Apa mungkin, Sayang? Karena selama pernikahan kita Mas, nggak pernah absen kecuali kalau kita lagi LDRan aja, apa kita cek aja sekalian nanti di rumah sakit?” tanya Dave sembari membelai lembut perut istrinya yang memang sudah buncit sedari dulu meski belum terisi bayi.

__ADS_1


“Jangan dulu, aku takut kecewa soalnya kan memang kadang haid aku nggak tiap bulan Mas, aku juga nggak ada tanda-tanda hamil kok, cuman moodyan aja tapi itu mungkin karena aku mau PMS tapi nggak jadi lagi, jadi hormonnya labil,” jelas Kiyara.


“Iya deh, tapi semoga memang sudah ada di dalam sini, aamiin Ya Allah,” ucap Dave sembari mencium pipi tembam istrinya itu, sementara Kiyara hanya tersenyum lembut sembari mengaamiinkan ucapan sang suami, bagaimana pun juga dia memang menginginkan seorang anak tumbuh di perutnya ini, anak dari pria yang memang sangat ia cinta dan sayangi.


Tangan Kiyara terjulur mengusap lembut rahang tegas milik suaminya. “Kamu kok jadi manis banget gini, Mas?


Bener-bener masih nggak nyangka aku dinikahin kamu gini, padahal dulu masyAllah jahil banget kamu, mana mulutmu ini pedes banget kalau ngomong, eh sekarang jauhh beda malah bisa buat aku melayang-layang sangking manisnya kamu,” ucap Kiyara sembari menatap dalam suaminya yang memiliki netra biru laut yang mampu bersaing dengan pekatnya air laut.


“Ketulusan hatimu adalah jawabannya, Sayang. Mungkin dulu tanpa sadar aku udah suka sama Kamu tapi karena gengsi dan dasarannya aku lagi badung-badungnya jadilah aku suka ngegodain kamu karena dengan cara itu aku bisa dekat sama kamu,” jawab Dave sembari memegang tangan lembut Kiyara yang masih berada di rahangnya.


“Terima kasih, Mas …” ucap Kiyara sembari tersenyum lembut lalu dengan secepat kilat mengecup bibir suaminya dan berlari keluar kamarnya.


“SAYANG … TANGGUNG JAWAB AKU UDAH ON LAGI INI!!!”

__ADS_1


__ADS_2