
Setelah selesai membeli berbagai jajanan khas abang-abang yang biasa mangkal di taman kompleks, mereka berdua kini sudah kembali menaiki kuda besi milik Dave dengan sangat pelan, menikmati suasana kompleks perumahan mereka dengan status baru bagi keduanya. Banyak angan dan harap di benak mereka pada hubungan yang baru saja mereka tanam bersama di hati masing-masing, berharap suatu hari nanti bisa terjalin hubungan yang lebih dan lebih baik lagi, pernikahan misalnya.
"Besok, kita lari pagi di taman tadi yuk Kak, mau nggak?" tanya Kiyara, dia teringat ucapan Dave yang akan menemaninya melakukan metamorfosa pada dirinya, menjadi pribadi yang jauh lebih sehat lagi dan jika bisa berat badannya sedikit turun, minimal tak lagi obes, mau pipinya masih chubby dan perutnya memiliki satu atau dua belut pun tak masalah yang penting sehat dengan pola makan dan olahraga yang teratur serta istiqomah dilakoni.
"Boleh, mau jam berapa, kamu nggak ke cafe?"
"Habis subuhan aja Kak, Kakak kan harus ke kantor juga. Gimana mau Kak?"
"Boleh, besok kita lari bareng."
"Makasih, Kak."
Dave, mengangguk dan tersenyum manis meski senyumnya tak dapat dilihat oleh Kiyara.
__ADS_1
"Kak, ini kan hari minggu Uncle Jeff bukannya jam seginian ke rumah ya, kalau ketemu Mommy gimana Kak? Tadi kan Mommy mau ke rumah," ucap Kiyara dengan nada khawatir.
"Tenang aja, Ki. Pasti Bunda kamu ngelindungin Mommy lagi, toh rencananya hari ini aku mau ngobrol sama Daddy, mau meluruskan semua permasalahan yang terjadi."
"Kakak, udah siap?" tanya Kiyara.
"InsyaAllah, doain ya semoga Kakak kuat ngomong sama Daddy Kakak, dan Kakak juga bisa ngambil keputusan yang tepat buat kehidupan Kakak, Mommy, dan Daddy Kakak kedepannya."
"Iya, Kak Kiyara pasti doain Kakak."
Motor yang melaju dengan sangat pelan itu, kini tengah memasuki pekarangan rumah Kiyara, di mana dugaan mereka tepat sasaran, ketika melihat sebuah mobil yang tak asing bagi mereka terparkir apik di halaman rumah Kiyara.
Kiyara, turun dari atas motor Dave dengan perlahan. "Gimana, Kak ... mau masuk?"
__ADS_1
"Ayo, ini jajanannya kamu bawa masuk dulu kasihin ke Kakak Ipar kamu dulu, aku akan masuk beberapa menit dari kamu masuk."
Kiyara, mengangguk sembari menerima beberapa kantung plastik yang disodorkan Dave.
Dari tempatnya berdiri Dave, melihat Kiyara sudah masuk ke dalam rumahnya. Dia sama sekali tak takut jika Daddynya akan melihat dia dari balik kaca di dalam ruang tamu, karena akhir-akhir ini Daddynya itu selalu di ajak oleh Ayah Kiyara untuk bersantai di taman belakang atas saran dari Kak Dafa, yang beralasan jika Daddynya itu selalu berada di ruang tamu saat bertamu bukan tidak mungkin dia akan tahu jika rumah dihadapan rumah Kiyara adalah rumah Dave.
Kaki jenjangnya sudah mulai berjalan ke arah samping rumah Kiyara, menuju gazebo yang tadi sempat ia tempati untuk curhat pada Dafa. Semakin lama langkahnya semakin dekat dengan gazebo, suara bapak-bapak yang tengah mengobrol jelas terdengar di telinganya, membuatnya semakin memantapkan hati untuk menyudahi semua ini.
"Assalamu'alaikum," ucapnya mengalihkan atensi bapak-bapak yang tengah asyik bertukar cerita.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya.
Mata berwarna biru itu, menatap sayu pada lelaki muda yang hampir mirip 90% dengan dirinya saat usianya masih muda dulu, ada rasa sesal, rindu, juga sayang yang terpendam dari raut wajah temaram itu, dengan hati yang terus bersorak merutuki perbuatannya dulu yang secara tidak langsung melukai sosok pemuda di hadapannya ini.
__ADS_1
"Nak ... kamu di sini," ucapnya lirih.