
AUTHOR POV
Angin berhembus menggerakkan awan-awan putih di atas sana, menemani perjalanan sepasang kekasih yang tengah dilanda kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, dengan diiringi salawat atas Baginda Rasulullah S.A.W yang mengalun merdu di audio mobilnya, pasangan suami istri itu melajukan kendaraannya menuju salah satu rumah sakit terdekat yang masih membuka jam praktik dokter kandungan.
Tangan yang saling tertaut, mimik wajah yang tegang mengisyaratkan harap-harap cemas, membuat siapa saja yang melihatnya akan tahu jika keduanya sedang dilanda gerogi akut tapi berusaha saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain, seperti halnya pasangan pada umumnya.”Nervous, banget aku Yang,” ucap Dave.
“Sama, Mas … aku mah lebih ke takut ngecewain kamu,” lirih Kiyara hampir tak terdengar oleh sang suami.
“Apa Yang?” tanya Dave.
“Eh, enggak … enggak … enggak apa-apa, aku cuman bilang sama aku juga nervous banget, Mas, gituh,” kilahnya.
“Mending gini ya, kita pastiin dulu di rumah sakit, oh iya udah di cek betul-betul kan ya? Dokter kandungannya masih ada jam praktik?” tanya Dave sekali lagi, dan diangguki pasti oleh istrinya.
“Aku nggak mau menunda lebih lama lagi jadi harus dipastikan dengan akurat jika di rumah sakit yang di tuju masih ada jadwal dokter kandungan yang masih praktik siang ini atau enggak, kalau enggak kita cari rumah sakit lain jauh dikit nggak masalah, soalnya kalau musti nunggu dokter kandungan yang buka jam praktik sendiri di deket kompleks perumahan kita masih nanti sore jam empatan itu pun kalau kita dapat antrian pertama kalau dapet yang buncit baru dilayani jam delapan malem atau malah bisa-bisa jam sembilan malem,” gumam Dave yang membuat
Kiyara tersenyum tipis sembari mengusap perutnya yang tak rata karena masih memiliki belut berukuran sedang yang melilit perutnya.
“Iya, Masku Sayang … aku sudah cek di rumah sakit ini masih ada dokter kandungan yang buka praktiknya sampai nanti jam tiga sore, jadi tenang saja ini kan masih siang,” jawab Kiyara.
“Iya, maaf ya … aku cerewet,” ucap Dave.
__ADS_1
“He he he, Mas nyadar juga kalau jadi cerewet ya,” ucap Kiyara sembari mengusap pelan bahu suaminya.
“Emang aku cerewetnya kapan aja? Bukannya baru ini aja ya, Yang?” tanya Dave sembari mengerutkan dahinya tapi tetap memfokuskan matanya pada jalanan aspal di hadapannya.
“Udah lama tahu, kamu jadi cerewet, Mas … semenjak di Jerman kali ya, jadi banyak omong banget sama aku tapi sama orang lain tetep adem-adem aja, malah kayaknya tambah cuek deh kamu Mas apalagi nih sama cewek lain, tapi aku si,” ucap Kiyara sembari mengulum senyumnya saat mengucapkan kata terakhir ya.
“Itu mungkin karena aku sekarang jadi jauh lebih sayang sama cinta sama kamu, Yang … mangkannya bawaannya tuh pingin ngomelin kamu mulu,” jawab Dave.
“Udah ih, tuh ujung-ujungnya jadi ngegombal mulu lagi. Tuh rumah sakitnya udah keliatan,” ujar Kiyara dengan pipi yang bersemu merah, menikah dengan Dave benar-benar membuat hidupnya jauh lebih berwarna, meski sering makan hati ketika banyak pasang mata milik perempuan-perempuan cantik memandang lapar pada suaminya itu.
“Emh … Mas, nanti apapun hasilnya kamu jangan sedih atau pun kecewa ya, meski begitu aku tetap berdoa dan berharap semoga memang betul di dalam rahim aku sudah tumbuh benih Mas, apalagi pas kita ngadon di Jerman kan bebarengan sama musim semi ya Mas, semoga … semoga … jadi … jadi …,” sambung Kiyara sambil mereeemas pelan tangan kiri suaminya yang sedari tadi memang saling bertautan dengan tangannya.
Dave, menyunggingkan senyumnya lalu menarik lembut tangan istrinya itu untuk ia kecup punggung tangannya. “Apapun, Sayang … aku akan selalu support kamu, kalau sudah ada aku bakal jadi orang paling bahagia, tapi kalau belum kita kan masih bisa berusaha lagi, kita bisa honey moon lagi … toh usia pernikahan kita juga masih muda belum terlalu lama jadi santai aja meski berharap juga he he he, iya kan?”
“Sayang kamu juga, Istriku.”
Ah, Kiyara benar-benar dibuat meleleh oleh suaminya itu … bagaimana tidak, semenjak di Jerman suaminya itu selalu saja membuatnya melayang-layang, bukan hanya karena surga dunia yang mereka rengguk bersama, tapi juga karena semakin manisnya ucapan Dave saat mengobrol dengan istri gendutnya itu, belum lagi perhatian-perhatian yang selalu dihujani untuk sang istri, membuat Kiyara benar-benar beruntung dinikahi lelaki seperti suaminya itu.
Siang menjelang sore itu, tak banyak orang yang akan periksa kandungan, karena memang hanya ada beberapa pasangan suami istri yang mengantri sebelum dan sesudah Kiyara periksa. Dia mendapat urutan 3 dari 5 orang pasien yang mengantri di poli itu dan sudah berlalu 1 orang antrian pertama di dalam sudah ada antrian nomor 2 yang artinya sehabis ini adalah giliran Kiyara dan suami.
Wajah bahagia terlihat jelas dari pasangan yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, dan senyum bahagia itu juga menular pada Kiyara yang tengah sibuk mengusap perutnya. Semua itu tak pernah luput dari perhatian Dave, suami siaga untuk istri tercintanya itu.
__ADS_1
“Nyonya Kiyara Wulandari, silakan Bu,” ucap perawat atau asisten dokter kandungan di dekat pintu masuk, mempersilakan pasangan suami istri itu untuk memasuki ruang pemeriksaan.
“Terima kasih, Sus,” ucap Kiyara sebelum masuk ke dalam ruangan.
Di dalam sudah di sambut dengan senyum ramah wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan sneli putihnya. “Selamat siang, Nak …” ucap dokter tersebut, tidak menyebut Bapak atau Ibu pada pasangan muda itu, lebih memilih menyebut dengan sebutan ‘Nak’ karena melihat pasangan muda itu sudah seperti melihat anaknya sendiri.
“Selamat siang juga, Bu Dokter he he he, atuh meni ramah pisan si Ibu tehh …, perkenalkan saya Kiyara dan ini suami saya Dave, Bu Dokter … Ah itu dia, Bu Dokter Risma,” ucap Kiyara dengan menjabat tangan dokter kandungan itu, membuat Dave menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat tingkah kedua wanita beda usia yang sama-sama SKSD itu.
“Ya, harus ramah dong Nak Kiyara, Nak Dave … emh, kalian mau periksa kandungan, konsultasi kehamilan, konsultasi pencegah kehamilan atau mau periksa …?”
“Kami mau konsultasi dan periksa kandungan,” jawab Dave cepat.
“Sudah berapa bulan usia kandungannya?” tanya Dokter Risma, tapi bukan jawaban yang dokter tersebut terima malah sepuluh alat tes kehamilan yang di keluarkan Dave dari papper bag yang ia bawa sedari tadi, membuat suster yang berdiri tak jauh dari dokter Risma menggelengkan kepalanya pelan, selalu saja ada tingkah unik dari para pasiennya itu.
“Ha, maksudnya? Ooohhh … saya tahu, kalian baru tes dan hasilnya positif?”
“No … no … tadi kita tes di ke sepuluh alat ini tetapi hasilnya berbeda ada yang garis dua ada yang satu, jadi saya dan istri memutuskan untuk mengeceknya saja ke sini Dok,” terang Dave.
“Oh, I see .. mari kita langsung usg saja biar ketahuan di dalam rahimnya Nak Kiyara sudah ada dedek bayinya atau belum,” ucap Dokter Risma sembari berjalan menuju brangkar.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya, readers ... thank you.