
~Entah sesakit apa hati dicabik oleh sesama, tapi pastikan hanya kebaikan yang akan membalas rasa sakit itu~
.
.
“Ini, tugasnya sudah di selesaikan semua oleh Nak Cakra, tadi dia titip pesen, ‘maaf’ katanya.” Tumpukan dua buku tulis diantar sang Bunda masuk ke dalam kamarnya, sembari membawa susu coklat kesukaan Kiyara. Tapi, Kiyara yang masih merasa kecewa juga shock sama sekali tak bersuara.
“Nak, boleh Bunda bicara?”
“Silakan Bun, sini bukunya biar Kiyara simpen dulu …” tangan Kiyara meraih dua buku yang masih di tangan sang Bunda, lalu meletakkannya di atas meja belajar.
“Ini susunya diminum dulu …” Kiyara mengangguk lalu meraih segelas susu coklat hangat.
“Kita duduk di atas kasur aja ya, Bun,” ajak Kiyara dan diangguki oleh sang Bunda.
Keduanya sudah duduk berhadapan di atas kasur, Kiyara juga sudah meneguk sedikit susu hangatnya dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidurnya. Matanya menatap lurus pada Sang Bunda yang memandangnya dengan lembut.
“Bunda mau bicara, maaf ya kalau ada kata-kata Bunda yang nyakitin atau kurang srek sama hati kamu … Gini, Bunda cuman mau bilang … jangan terlalu larut dalam rasa sedih dan kecewa, Bunda tahu kamu jarang banget cerita masalah pribadi sama Bunda, tapi untuk yang satu ini, sepertinya Bunda cukup paham letak permasalahannya.” Tangan lembut sang bunda, membelai lembut tangan gempal Kiyara, menyalurkan kekuatan … seolah berkata … semua akan baik-baik saja.
“Bunda nggak mau ikut campur terlalu jauh, tapi Bunda pesen jangan mikirin dan melihat sesuatu dari satu sudut pandang aja … Bunda tahu kamu kecewa dengan sikap Cakra tapi, ingat dia Adiknya Agam, pasti jauh lebih sakit dia dibanding kamu, lihat … ! dia tetap tegar, malah dia rela jauh-jauh kesini untuk menunaikan janjinya pada Almarhum, jangan benci dia ya, Nak.”
Tangan lembut wanita yang sudah melahirkan Kiyara, terulur mengusap lembut punggung tangan Kiyara. “Bun, Bunda tahukan gimana baiknya Agam dulu, dia selalu mau nemenin Kiyara disaat semua temen-temen Kiyara nggak mau main sama Kiyara, selalu nolongin Kiyara kalau ada yang ngebully baik secara verbal maupun fisik. Kiyara sedih karena sudah kehilangan sahabat sebaik dia, tanpa tahu langsung kepergiaannya yang untuk selama-lamanya, Bun. Kiyara nggak marah kok sama Cakra, dia udah baik sama Kiyara tapi Kiyara, kecewa Bun, kenapa Cakra nggak jujur aja, biar Kiyara tahu … biar Kiyara bisa do’ain Agam meskipun Kiyara belum bisa nemuin Agam di Surabaya sana, Bun.”
“Iya, Bunda paham kok. Sekarang kamu istirahat dulu ya, jangan terlalu dipikirkan nanti kalau sudah ada waktu kita pergi ke Surabaya, ya … ke rumah Pakde Reza, ziarah ke makam Kakek, Nenek juga ziarah ke tempatnya Agam.”
Kiyara, mengangguk … mengiyakan ucapan Sang Bunda, inilah yang dia suka dari Bundanya selalu ada untuknya tanpa diminta, menenangkan hatinya dengan ucapan dan usapan lembutnya. “Iya, Bun … terima kasih, ya. Selamat malam.”
***
“Ya, mana mungkin Kak Dave … bintang sekolah suka sama cewek modelan Kiyara. Udah tuh cewek gendut, gayanya enggak banget, pinter sih, tapi ya lu pikir aja lah mata laki-laki juga fungsi kali.”
“Tapi gue heran sih, kata anak-anak kelasnya … selama ada anak baru yang selalu ngebantu si Gendut, tiba-tiba Kak Dave jadi kayak yang deketin si Gendut terus. Anak barunya lumayan loh, manis … nggak kalah tampan juga dari Kak Dave, wajahnya pribumi asli.”
Baru saja melangkahkan kaki gendutnya di dalam gerbang sekolah, tapi hatinya sudah kembali tersayat-sayat oleh belati tak kasat mata. Hatinya pilu, selama ini dia sama sekali tak pernah memikirkan tentang lawan jenis apalagi suka-sukaan, cinta-cintaan.
“Kenapa mereka bisa berpikiran seperti itu? Bagaimana mungkin juga Kak Dave, menyukaiku … selama ini saja dia yang paling sering mengejekku, mengataiku, dan selalu seenaknya sendiri denganku,” bisik Kiyara dalam hatinya.
Dua gadis di hadapan Kiyara, sudah membelokkan langkahnya ke arah berlainan dengan tujuan Kiyara saat ini. Tapi saat melewati lapangan basket, di sana sudah sangat … sangat ramai, suara sorak riuh rendah terdengar dari tempat Kiyara berdiri.
“Ini, masih kurang 15 menit menuju jam masuk, tapi kenapa di sana sangat ramai?” monolognya, ketika netra coklat pekatnya melihat arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Meski sangat penasaran, langkah kakinya sama sekali tidak goyah untuk tetap melangkah ke arah kelasnya.
“Hai, Ki …,” sapa Fani yang terlihat baru saja selesai menyapu lantai kelasnya, terbukti dengan sapu lantai yang ada di genggamannya juga peluh yang membasahi dahi jenongnya.
“Emh … halo Fan,” balas Kiyara sembari tersenyum kaku.
“Itu di lapangan rame banget, ada apa sih?” tanya Fani, yang ternyata kepo juga tentang lapangan basket yang sangat ramai pagi ini.
Kiyara menggelengkan kepalanya. “ Tidak tahu, aku baru saja datang. Kamu piket?”
“Oh, iya hari ini jadwal piketku, tadinya aku ingin ke lapangan basket penasaran banget soalnya, tapi nggak dibolehin sama temen-temen piket lainnya,” ucap Fani yang terlihat cemberut.
Kiyara, tersenyum lembut. “Hey … jangan cemberut, nanti pasti beritanya menyebar, tunggu saja. Emh … terima kasih sudah menyapaku, aku pergi ke kelasku dulu.”
__ADS_1
“Sok manga, geulis.” Kiyara terkekeh kecil mendengar ucapan Fani, lalu melambaikan tangannya sebelum beranjak menuju kelasnya yang tak jauh dari kelas Fani.
Kiyara bergumam kecil saat akan memasuki kelasnya. “Gini ya, rasanya punya temen cewek yang care.”
“Dor … !!!” Kiyara terlonjak kaget saat suara yang terdengar lantang menyentak gendang telinganya.
“Astaghfirullah … Kak Dave.”
“Hahaha, kunaon Ndut? Muka lu sampek merah kayak gitu?” dengan tidak tahu dirinya Dave, menyentuh pipi tembam Kiyara, tapi dengan cepat Kiyara menggelengkan kepalanya, menghindari sentuhan Dave.
“Kakak, nggak punya sopan santun ya?” alis kanan Dave terangkat, heran dengan sikap gadis gendut di hadapannya itu.
“Halah, muna banget lu jadi orang … padahal semua cewek di sekolah ini bahkan dengan senang hati memberiku ciuman ataupun pelukan hangat mereka, dasar Gendut songong.”
Kiyara menundukkan pandangannya. “Apa salahku kali ini, Tuhan? Bahkan untuk menjaga diriku sendiri aku dimaki olehnya.”
Tanpa banyak bicara, Kiyara membalikkan tubuhnya dan segera masuk ke dalam kelasnya untuk menaruh tas dan kembali keluar kelas, karena hari ini jadwal Kiyara berolahraga.
Celana olahraga selutut, kaos olahraga dengan lengan sebahunya, sudah melekat sempurna sedari tadi hanya tinggal mengikat rambut sebahunya dan bagian ini paling Kiyara benci, karena dengan mengikat rambutnya akan memperlihatkan dengan jelas pipi tembamnya, tapi bila tak diikat maka Kiyara akan cepat gerah dan risih.
“Seperti biasanya saja, aku akan berjalan paling akhir dan memilih barisan paling belakang. Aku tidak ingin menjadi bahan tertawaan oleh teman-temanku sendiri, sungguh memalukan,” batin Kiyara, sembari meneruskan langkah kakinya menuju lapangan olahraga.
“Ki, sorry,” ucap laki-laki yang memakai baju olahraga sama seperti yang dikenakan Kiyara.
Kiyara membalikkan tubuhnya dan tersenyum. “Bukan masalah, Cak. Aku juga minta maaf, karena kemarin langsung pergi gitu aja.”
“Serius kamu maafin aku?” Kiyara mengangguk. “Makasih, Ki … aku harap kamu masih mau jadi temen aku atau mungkin sahabat, biar seperti Agam, aku juga ingin melindungimu. Kita kenal belum sampai sebulan tapi, aku ngerasa udah kenal lama banget sama kamu, izinin aku buat menunaikan janjiku pada Almarhum.”
Kiyara tertegun, saat mendengarkan penuturan Cakra adik kembar dari sahabat kecilnya … rasanya ingin menangis melihat ketulusan yang terpancar dari netra hitam milik Cakra, satu lagi di kehidupannya … menemukan orang yang tulus, yang mau menjadi temannya.
“Aku, akan menunaikan janjiku Kak … sampai nanti datang seseorang yang dengan tulus mau menjaga Kiyara dengan baik,” bisik Cakra dalam hatinya.
“Ayo, kita ke lapangan … !” ajak Cakra yang diangguki oleh Kiyara.
Tatapan mata tajam yang penuh selidik juga tanya, menyoroti langkah Cakra juga Kiyara yang baru saja menapakkan kakinya di area lapangan yang sudah terlihat ramai oleh teman-temannya dan juga kakak kelasnya. Olahraga kali ini bertepatan dengan praktik olahraga kelas 12 sehingga ada 3 kelas 12 yang ikut meramaikan lapangan olahraga dan 1 kelas 11 yaitu kelas Kiyara.
Dug … .
“Aw … asshhh …,” terlihat bola menggelinding setelah membentur wajah tembam Kiyara.
“Ahahahaha …,” suara gelak tawa terdengar mendengung di telinga Kiyara, kepalanya pusing, wajahnya sudah berdenyut tak menentu karena terkena lemparan bola basket yang cukup keras.
“Dasar Gendut, mangkannya kalau jalan lihat-lihat udah tahu ada yang lagi main basket, nyelonong aja lu.”
“Emang, kerasa? Mukanya aja daging semua gitu … !”
Padahal, kenyataannya Kiyara dan Cakra berjalan bersisihan di pinggir lapangan, sama sekali belum masuk area basket. Tapi, karena Dave … dasarannya memiliki dendam kesumat pada Kiyara yang tadi sempat menolak pipinya disentuh oleh Dave, membuat Dave sangat kesal dan malu, sehingga memutuskan untuk mempermalukan Kiyara di hadapan banyak orang.
“Cak, anter ke UKS kepalaku pusing banget.” Dengan sigap Cakra memapah tubuh Kiyara, yang mulai berjalan dengan sedikit sempoyongan akibat pusing dan nyeri di bagian wajahnya.
“Ki, hidung kamu berdarah … !” ucap Cakra panik, karena melihat darah yang mulai mengucur dari hidung Kiyara.
“Dave, lu nggak kira-kira ya … tuh liat si Gendut hidungnya berdarah gituh kena bola yang lu lempar.” Dave, hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu memilih melanjutkan bermain basket tanpa rasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
“Dasar, bule kagak punya hati lu … hahaha … tapi, yaudah lah ya orang si Gendut udah punya bodyguardnya sendiri.”
Hari ini dilalui Kiyara dengan berbaring di ranjang pesakitan UKS sampai di dua mata pelajaran terakhir dia baru memasuki kelasnya lagi, hidungnya mimisan cukup banyak, terlebih mukanya yang kini terlihat bengkak dan sedikit memar keunguan. Untung saja tadi Kiyara tidak sampai pingsan dan merepotkan banyak orang untuk mengangkatnya menuju UKS.
Kiyara, masuk dengan mencoba menulikan telinganya tak memasukkan hati setiap hujatan yang keluar dari mulut teman-temannya. “Aku, kuat … Tuhan … kuat,” bisiknya dalam hati, meski sedikit malu karena mukanya yang terlihat aneh serta tatapan merendahkan dari teman-teman kelasnya.
“Nanti pulang sama aku aja ya,” bisik Cakra.
Kiyara menggeleng. “Aku dijemput Kak Dafa.”
“Oke, nanti aku temenin dulu di gerbang sekolah nunggu Kak Dafa dateng.”
***
Kring … kring …
Jam pulang sekolah tiba, Kiyara dan Cakra sudah bersiap untuk meninggalkan kelas, berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. tanpa mereka sadari sepasang mata berwarna biru tengah menatap keduanya dengan tajam dari balik helm full facenya.
“Kamu, naik apa?” tanya Kiyara.
“Aku, bawa sepeda motor. Nanti setelah kamu di jemput Kak Dafa aku langsung ke parkiran ambil motor.”
“Aku ngerepotin kamu dong, Cak.”
“Nggak ada yang direpotin Ki. Santai aja.”
Ngeng … ngeng … ngeng … suara mesin motor yang sengaja dikeras-keraskan oleh Dave saat melewati Kiyara dan Cakra, membuat Kiyara berjingkat kaget terlebih jaraknya yang sangat dekat.
“Astaghfirullah …”
“Dasar orang iseng …!” teriak Cakra, tangan gempal Kiyara terulur mengusap bahu Cakra. “Udah, Cak … biarin aja.”
“Nah itu mobilnya Kak Dafa, kamu langsung ke parkiran aja Cak … nggak apa.”
“Oke, deh … Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam …”
***
Kiya membuka perlahan pintu mobil bagian depan. “Kak Dafa, ayo kita pulang.” Dafa menolehkan kepalanya melihat sang adek sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Innalillahi, kenapa dengan wajahmu, Dek?”
Kiyara memegang wajahnya hati-hati, lalu menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa kok, Kak. Tadikan ada pelajaran oleharaga, terus nggak sengaja kena bola.”
“Kita, langsung ke rumah aja ya … biar nanti diobati Bunda. Beli bukunya, kapan-kapan aja kalau Adik, Kakak ini udah sembuh.” Kiyara mengangguk patuh.
Selama diperjalanan baik Kiyara maupun Dafa, keduanya sama-sama terdiam, memikirkan masalah hidupnya masing-masing.
Kiyara yang asyik memerhatikan pohon dan gedung-gedung yang berada di sebelah kiri mobil terpekik kaget. “Astaghfirullah, bukankah itu Kak Dave? Kenapa bajunya memiliki noda merah begitu banyak? Apa itu darah?” monolognya dalam hati, ketika mobil sang Kakak melaju di dekat taman kota.
“Kak, itu … itu Kakak Kelas Kiyara, bajunya banyak darahnya Kak … lihat deh. Ayo, kita bantu Kak … !” Dafa pun memberhentikan mobilnya tak jauh dari Dave yang sedang berdiri memegangi perutnya.
__ADS_1
Kiyara, turun dengan tergesa dari mobil sang Kakak. “Kak Dave, Kakak kenapa?”
Dave yang sedari tadi menundukkan kepalanya, kini melihat gadis gendut yang selalu jadi bahan bullyannya sudah berdiri tegak di depan matanya bersama sang kakak, wajahnya terlihat jelas meraut khawatir. “Hatinya terbuat dari apa? Padahal hati dan fisiknya sudah pernah aku lukai tapi tetap baik kepadaku. Masih sudi meraut khawatir seperti itu, dengan muka bengkak karena ulahku … dan apa dia tetap akan baik seperti ini jika tahu apa yang aku lakukan kepadanya sebelum mata pelajaran tadi pagi, mungkin hari ini dia tak mendengarnya karena ---” Monolog Dave dalam hati, sebelum tubuh tegapnya tersungkur menabrak badan sintal Kiyara.