Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Lemas Lagi


__ADS_3

Author Pov


“Apa lowongan sebagai office boy di kantormu itu masih ada, Arin?” tanya Kiyara saat mereka sudah berada di luar ruang rapat.


“Jangan memancingku lagi, dasar gendut! Modal dukun aja gaya, lu!” ketus Arin.


“Jaga ucapanmu, Rin. Aku tak akan lagi diam jika di tindas apalagi sekarang posisi kita? ah, aku bisa meminta pada suamiku kapan saja untuk memecatmu bukan?” jawab Kiyara dengan tak kalah ketus, membuat Arin hanya bisa menggerutu dalam hati saja, tak mungkin akan melakukan konfrontasi secara terang-terangan di tempatnya mencari uang seperti ini bisa hancur karirnya dalam sekejap mata.


“Sudahlah, sana pergi ke ruangan suamimu nikmati saja apa yang kamu miliki saat ini, sebelum Dave sadar siapa istrinya ini. Wanita gendut yang dulu hanya dijadikan bullyannya saja belagu, mungkin Dave habis gagar otak dan kehilangan ingatannya semoga dia lekas sadar,” ucap Arin dengan menggebu.


“Terserahmu! Sudah sana kembalilah ke ruang rapat, aku bisa sendiri ke ruangan suamiku,” ucap Kiyara, mengusir Arin karena jujur saja hatinya sudah jedag-jedug karena lagi-lagi keberanian itu muncul begitu saja.


Tanpa kata Arin, meninggalkan istri atasannya itu, mengepalkan tanganya kuat-kuat, menahan gejolak amarah yang ada dalam hatinya, apalagi jika mengingat kenyataan jika atasannya itu tak mengingatnya sama sekali sebagai adik kelasnya sewaktu SMA dulu.


“Dasar Gendut nggak tahu diuntung, udah tadi pagi ngehasut tunangan gue sekarang? OMG, dia bisa menghancurkan karirku,” gerutu Arin.


Sementara Kiyara yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, tentu saja mendengar gerutuan Arin yang jaraknya belum jauh dari tempatnya berdiri, hanya bisa menyunggingkan senyumnya saja.


“Mencoba menjadi seseorang yang tak mudah di tindas ternyata menyenangkan juga, meski jantungku masih belum pro ini kayaknya, masih suka jedag-jedug gegera takut,” ucap Kiyara dalam hati lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan suaminya.


Pintu ruangan sang suami sudah di depan mata, kala hand phonenya berdering dan memunculkan sebuah nama sahabatnya, membuat Kiyara buru-buru masuk ke dalam ruangan suaminya agar bisa mengangkat telepon dengan nyaman.


Klik …


“Assalamu’alaikum, Wi … apa kabar?” sapa Kiyara saat mengangkat telepon dari Tiwi, sahabatnya.


“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah sehat, kamu lagi di mana?” tanya Tiwi.

__ADS_1


“Aku lagi di kantornya Mas Dave, ada apa?”


“Aku mau mampir tadinya, ini aku ada di sekitaran perumahan kamu. Tapi kamunya nggak ada di rumah ya sudah lain kali saja aku mampir.”


“Sorry, Wi … iya lain kali mampir ya ajak Kak Tama juga, jangan sering-sering keluar rumah sendirian, bahaya.”


“Iya, Ki … ini juga sama Kak Tama, tapi dia masih turun buat beliin aku rujak. BTW, aku belum ketemu kamu lagi sehabis keluar dari rumah sakit, padahal aku mau ngucapin terima kasih banyak sama kamu dan Kak Dave yang udah support aku sampai sejauh ini juga sudah meyakinkan Kak Tama untuk bertanggung jawab sama aku, meski sampai saat ini kadang aku masih suka sedikit gemeteran kalau liat Kak Tama.”


“Iya, Sayangkuuuhh … sama-sama, udah jangan pikirin aku sama Mas Dave yang penting kamu sudah bisa tenang sekarang, udah mau sebulan nikah aku ikut seneng, tinggal si Cakra aja nih yang belum ada gandengan, nanti kita cariin mojang Bandung aja tuh anak ya Wi, he he he.”


“Iya, tuh boleh … ya udah aku matiin dulu ya ini Kak Tama udah jalan ke mobil, kapan-kapan aku mampir ke rumah kamu ya Ki. Makasih, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh …”


Kiyara, lalu menaruh hand phonenya di atas meja kerja Dave. Karena kini dia sedang duduk di kursi kebesaran suaminya itu, sibuk melihat-lihat apa saja yang ada di meja kerja suaminya selain laptop dan tumpukkan berkas-berkas.


“Aduh, so sweet banget Mas Suamiku … hi hi hi,” ucap Kiyara saat melihat figura kecil yang di taruh di atas meja, yang berisikan foto nikahnya bersama sang suami, lalu ada fotonya juga saat di Singapura.


Ya, aslinya memang seperti itu jika dilihat oleh orang yang tak julid, hanya saja kebanyakkan orang selalu mencari celah atas kebahagiaan yang di terima oleh orang lain dan mungkin juga karena adanya rasa iri, karena bisa jadi kehidupannya yang tak lebih beruntung dari seorang Kiyara Wulandari, memiliki suami tampan, hidup berkecukupan, dan tentu saja memiliki keluarga dan sahabat yang selalu menyayanginya, bagaimana pun keadaannya.


Tangan gemuknya kembali menaruh figura itu ke tempat semula, lalu dia beranjak dari duduknya menuju rak-rak buku yang tertata rapi, membuat senyumnya mengembang sempurna, menyadari bahwa suaminya memang telah banyak berubah dari pertama kali dia mengenal Dave semasa SMA dulu.


Sampai satu jam berlalu Kiyara masih sibuk mengitari ruangan Dave dengan seksama, tapi kemudian tenggorokkannya terasa kering membuat dia berjalan menuju kulkas yang di sediakan di dalam ruangan Dave, mengambil minuman dingin lalu duduk di sofa menikmati guyuran air dingin di tenggorokkannya.


“Alhamdulillah segar sekali,” gumamnya.


Sementara itu di ruang rapat kini semua orang mendadak gaduh karena CEO mereka terlihat semakin pucat dan pucat, meski di awal rapat para investor sudah memberikan saran agar rapat ditunda terlebih dahulu, tapi Dave masih bersikukuh untuk melanjutkan rapat investor pagi ini. Dan saat sudah akan selesai, tiba-tiba saja tubuhnya jadi lemas seperti pagi tadi.

__ADS_1


“Tolong bantu bawa ke ruangannya,” ucap Dafa yang juga hadir di rapat itu sebagai calon investor di perusahaan adik iparnya.


Pada akhirnya, rapat terpaksa di lanjutkan oleh asisten Dave untuk penutupan meeting pagi itu. Sementara Dafa membantu karyawan Dave untuk memapah tubuh adik iparnya itu menuju ruangan milik Dave.


“Kamu kenapa sih, Dave tiba-tiba makin lemes gini?” tanya Dafa dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Dave.


Huwek … huwek …


Dave, sudah seperti orang mabuk saja, sudahlah jalan sempoyongan karena badannya terlalu lemas kini malah ‘huwek-huwek’ seolah ingin memuntahkan makanannya lagi akibat mual yang dideranya.


“Tahan, jangan muntah di sini …” ucap Dafa.


“Buka pintu ruangannya cepat!” teriak Dafa pada Arin, yang entah kenapa malah mengekori bosnya, padahal asisten Dave sudah menahannya untuk tetap mengikuti rapat sampai selesai.


“B- baik, Pak,” jawab Arin tergagap.


Ceklek …


“Mas Dave, Ya Allah kamu kenapa lagi?” ucap Kiyara sembari berlari menuju suaminya.


Grep …


“Yang, badan aku lemes lagi,” ucap Dave sembari memeluk erat tubuh istrinya membuat Dafa menepuk dahinya pelan melihat adik iparnya itu, yang seolah-olah memiliki kekuatan kembali setelah bertemu dengan istrinya. Sementara Arin dan satu karyawan laki-laki yang membantu Dave hanya bisa mematung di tempatnya, tak menyangka atasannya bisa semanja itu.


“Kalian lanjutkan rapatnya, terima kasih sudah membantu saya membawa Adik Ipar saya,” ucap Dafa mengusir Arin dan karyawan adik iparnya itu.


“Baik, Pak …”

__ADS_1


Klek …


Dafa, membalikkan tubuhnya melihat ke arah pasangan suami istri yang masih seusia jagung itu. “Astaghfirullah, adik ipar lucknut, bisa-bisanya malah manja-manjaan sama istrinya gitu,” ucap Dafa mengagetkan Dave yang kini tengah menyembunyikan kepanya di perut sang istri, karena Dave sedang merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


__ADS_2