Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Over Protektif


__ADS_3

KIYARA POV


Ada rasa haru yang terus menerus menggelitik di hati, mengetahui kehamilan pertamaku rasanya sangat luar biasa, eh bukan kehamilan pertama sih … ini adalah kehamilan ke- duaku setelah mengalami keguguran beberapa waktu lalu tanpa sempat mengetahui dan merasakan kehamilan itu. Dan kini, alhamdulillah sekali aku sudah kembali mengandung, anak kembar 3 … masyaAllah senang sekali karena keinginanku untuk memiliki anak kembar terijabah.


Mengelus perut, kini menjadi kebiasaanku … rasanya selalu luar biasa, meski belum ada pergerakkan dari dalam sana tapi semenjak tahu ada 3 janin di dalam perutku rasanya ikatan batin itu ada dengan sendirinya. Membuatku ingin selalu, membuainya dengan gerakkan lembut dari luar dan ini juga selalu dilakukan Mas Dave, Papa dari anak-anakku ini, emh atau lebih tepatnya Papa dari anak, anak, dan anakku.


Sejak satu minggu lalu, saat aku dan suami mengumumkan berita kehamilan kembar tiga, Bunda dan Mommy tentu saja dengan pasangan masing-masing, memilih bergantian menginap di rumah kami dan menjadikan tiada hari tanpa kehadiran salah satu atau keduanya selama satu minggu full ini.


“Ini minum dulu susunya.”


“Ya Allah, kagetin aja Mas ini,” ucapku, padahal nggak salah Mas Dave juga sih, akunya aja yang ngelamun sampek nggak sadar suami sendiri ada di hadepan mata. Meski begitu, aku langsung mengambil satu  gelas susu rasa coklat yang diberikan Mas Dave padaku, lalu meneguknya perlahan menikmati susu ibu hamil dengan varian coklat.


“Ngelamunin apa sih? Dari tadi di panggil juga nggak ada nyahut,” jawabnya sembari, mengusap sudut bibirku dengan jaru jempolnya.


“Makasih,” ucapku sembari tersenyum lebar.


“Aku nggak lagi ngelamunin apa-apa kok Mas, lagi ngerasain perut aja. Kalau udah ketahuan ada isinya baru berasa kadang kenceng gitu di bagian bawah sini,” kilahku.


 “Sekarang lagi kerasa kenceng?” tanyanya dengan meraut khawatir.


“No, aku lagi berpikir aja kenapa pas udah ketahuan ada isinya baru kadang kerasa kenceng, padahal sebelumnya tuh aku nggak ngerasa apapun,” jelasku dan di balas usapan lembut di pucuk kepalaku lalu beralih pada perutku yang meski baru dua bulan sudah terlihat sedikit lebih buncit, tapi aku masih sangsi … ini tambah buncit lantaran aku hamil atau karena lemak yang semakin bertambah seiring dengan napsu makan yang kembali menggeliat, dominan tak teratur lagi.


“Sayang, bukan karena kamu tak merasa tapi kemarin-kemarin kamu acuh, tak menghiraukan rasa kenceng atau mungkin bahkan sakit, soalnya nggak ngeh ada si dedek apalagi kamu juga sempet ada flek kan? Ya itu buat kamu ngerasa kalau ada sakit di perut kamu, kamu mikirnya yang lain bukan karena ada si dedek-dedek emesh ini, padahal mereka udah kasih kode sama Mamanya,” jawabnya.


“Si dedek juga udah ngasih kode sama Papanya,” jawabku sambil terkikik geli, lantaran memang begitu adanya selama 9 minggu ini aku sama sekali belum merasakan ngidam atau muntah-muntah seperti layaknya orang hamil, hanya sedikit lebih sensitif saja meski kadang masih bisa terkontrol.

__ADS_1


“Ish, ngeledekin Mas, nih ceritanya,” ucapnya sembari menoel pipiku.


Ting … tong … ting … tong …


“Ada tamu tuh, Mas … ke bawah yuk bukain pintu,” ajakku.


“Santai aja Sayang di bawah lagi ada Bunda sama Ayah, tadi beliau berdua lagi nonton tv, nungguin si utun nggak bangun-bangun dari abis sarapan jadinya mereka jagain di bawah, he he he,” ucap Mas Dave.


“Iya, tapi kita juga harus ke bawah jangan di duluin Ayah atau Bunda nyusul ke sini, kasihan harus naik turun tangga,” jawabku lalu berjalan menuju gantungan kerudung rumahanku dan memakainya begitu saja tanpa mengganti bajuku, karena hari ini kebetulan aku sedang memakai daster lengan panjang.


Semenjak hamil, Mas Dave sangat amat melarangku memakai celaana dalammm bentuk apapun, selain CD tentunya ya he he he … takut anakanya kegenjet kolorr katanya, aneh-aneh banget deh pemikirannya, ampun deh punya suami satu itu.


“Pelan-pelan, jalannya jangan terlalu ngehentak,” tegur Mas Dave karena tak sengaja aku berjalan sedikit lebih cepat saat mendengar suara sahabatku dari bawah.


“Iya-iya, sorry aku terlalu seneng di bawah ada sahabat aku,” ucapku sembari tersenyum lebar dan langsung saja aku melingkarkan tangan di lengan kokohnya itu, biar nggak ngambek lagi.


Tiwi, hampir saja berlari jika tak melihat tatapan tajam Mas Dave yang seolah memberi rambu ‘jangan mendekat!’, membuatku mengulum senyum saja.


“Tiwiii … uh, kangen sekali,” ucapku saat sudah mendapat izin dari Mas Dave untuk mendekat ke arah sahabatku.


“Kamu sakit? kenapa pucet begini tadi juga jalan dituntun sama Kak Dave,” celotehnya sembari mendudukkanku di sofa yang sama dengannya.


“Kiyara, lagi hamil Sayang … alhamdulillah sudah dua bulan lebih, 9 minggu kalau lebih tepatnya,” jawab Bunda yang sedari tadi sudah duduk di sofa sebelah Ayah.


Di sana aku dapat melihat raut terkejut sekaligus senang dari wajah Tiwi, sudah tak ada lagi mata yang redup dan takut itu … waktu perlahan mengembalikan Tiwi seperti semula, sebelum dia mendapat kekerasan anu dari Kak Tama. Sementara Kak Tama, lelaki itu hanya diam saja, duduk di sofa single tak jauh dari tempat kami duduk, setidaknya dia sudah membuktikan ucapannya padaku dan Mas Dave yang akan mengembalikan Tiwi seperti semula, gadis periang dan ceria.

__ADS_1


“Serius? Aaaah, aku senang sekali mendengarnya, sehat-sehat keponakan Tante Ti,” ucapnya sembari mengusap pelan perutku dan aku menganggukinya dengan semangat.


“Nak Tiwi, sudah isi?” tanya Bunda, setelah menjeda ucapannya seolah-olah sedang menimbang apa pertanyaan itu akan menyakiti hati sahabat anaknya atau tidak.


“Belum, Tan … doakan saja.”


“Insya Allah, secepatnya Bun eh Tan,” jawab Tama yang hampir berbarengan dengan sang istri.


“Iya, pasti Tante doakan … tapi kalian masih baru menikah juga jadi nikmati dulu saja masa masih berdua, atau kalau kalian mau segera memiliki momongan di rumah Tante masih punya buah zuriat dan kurma, beli satu minggu yang lalu niatnya buat Kiyara tapi alhamdulillah sebelum di antar ke sini, di hari yang sama malah Kiyara duluan yang datang ke rumah depan itu, bawa kabar bahagia,” ujar Bunda.


 “Eh, atuh jangan Tan,” tolak Tiwi, sembari tersenyum meringis seolah membayangkan sesuatu.


“Nggak, apa-apa di terima saja orang dikasih kok nolak kamu ini, Honey … aku juga mau cepet-cepet punya anak,” jawaban tak terduga malah terucap dari mulut Kak Tama, membuatku tersenyum lebar.


“Eh, sebentar aku buatkan minuman dulu malah keasyikan ngobrol begini,” ucapku sembari menepuk jidatku sendiri, memang ya kalau udah ketemu sahabat yang lama nggak ketemu bawaannya pingin langsung ngobrol mulu.


“Biar, aku aja Yang … kasihan anak, anak, anak kita … nanti kecapekan,” ucap Mas Dave yang membuatku malah reflek menepuk jidatku kembali.


“Anak, anak, anak? Maksud lu apa, Bang?” tanya Kak Tama dengan nada arogannya, dia kayaknya masih ada dendam sama suamiku tercinta karena ngegepukin dia di rumah sakit berbulan-bulan lalu.


“Dia nanam saham 3 sekaligus,” jawab Ayah dengan santai.


“What? Kamu hamil 3 bayi di dalem rahim kamu Ki?” tanya Kak Tama dengan wajah kagetnya.


“Hem, iya …”

__ADS_1


“Wahhh … selamat Kiyara impian kamu bener-bener terwujud!!!” heboh Tiwi, membuatku menyunggingkan senyuman bahagiaku, betul sekali kata Tiwi jika impianku terwujud, meski melalui jalan terjal dan berliku untuk bisa sampai di titik ini, dan tentu saja membuat Mas Suami jadi over protektif padaku dan ke tiga anak kami tentunya.


__ADS_2