Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Lotek Kebahagiaan


__ADS_3

Kiyara kini sudah berada di ruang rawat Tiwi, ya gadis itu harus di rawat inap untuk melihat perkembangannya


apalagi gadis itu sempat kekurangan darah dan lengan kanannya patah, sehingga harus di beri perawatan ekstra pasca operasi.


“Sudah clear semuakan?” tanya Dave pada Tama yang kini sedng meraup kasar wajahnya setelah mendengar penjelasan Fani.


“Iya, sudah dan semua memang salahku. Ini semua buah atas apa yang aku tanam bertahun lalu,” jawab Tama


dengan nada bergetar, sungguh dia sangat menyesali apa yang sudah terjadi, dan menyadari satu hal dia terlalu emosional.


“Aku juga salah, Kak … maafkan aku dan aku merasa sangat berdosa pada sahabatku ini,” ucap Fani yang kin tengah berada di samping ranjang sahabatnya itu.


“Sudah-sudah, sekarang bagaimana keputusan Kak Tama?” tanya Kiyara.


Tama, menghirup napasnya dalam-dalam. “Aku akan menikahi Tiwi,” ucap Tama.


Kiyara, Dave, dan Fani berucap syukur lirih, akhirnya keputusan baik sudah di putuskan oleh Tama.


“Dan aku akan belajar mencintainya,” sambung Tama dengan memandang lekat wajah wanita yang baru kemarin dia gagahi itu kini malah sudah tergolek lemas di ranjang pesakitan.


“Alhamdulillah, semangat berjuang untuk menumbuhkan dan mendapat cinta, Tam,” ucap Dave sembari menepuk bahu Tama.


“Thank’s kalian semua udah ngebuka jalan pikir gue,” kata Tama.


Beberapa jam mereka menunggu di dalam ruang rawat tersebut tapi belum ada tanda-tanda Tiwi akan terbangun dari tidurnya efek obat bius saat operasi tadi, membuat orang-orang di sana ketar-ketir di buatnya.


“Kalian pulang saja, aku akan di sini menunggunya sampai sadar, lagian kata dokter tadi Tiwi tinggal menunggu


efek obat biusnya hilang maka dia akan sadar, sana kalian pulang saja, istirahat di rumah,” ucap Tama.


“Biar kami temani,” ucap Kiyara.

__ADS_1


“Sudah, pulang saja aku janji akan menjaganya dengan baik,” ucap Tama meyakinkan Kiyara.


“Sudah, ayo kita pulang saja … kasih ruang dan waktu untuk Tama biar dia nanti yang menjelaskan pada Tiwi saat dia sudah sadar,” ucap Dave sembari berdiri dari duduknya.


“Hem, ya sudah … kami pamit dulu dan tolong kabari jika Tiwi sudah sadar,” ucap Fani dan diangguki oleh Kiyara.


Di dalam perjalanan pulang  tampak Kiyara yang masih tak habis pikir dengan kelakuan Tama, masih tampak kesal tapi perlahan juga dia mengingat bahwa semua ini adalah takdir kisah hidup sahabatnya, meski merasa tak enak hati karena secara tidak langsung masih ada sangkut paut dengan dirinya tapi sang suami menegaskan ini bukan kesalahan Kiyara, sama sekali bukan.


“Mas, aku takut Tiwi bakal nekat lagi nanti setelah sadar,” ucap Kiyara.


“Udah, jangan banyak pikiran sama sahabat kamu itu, doakan saja yang terbaik untuk dia. Yakinlah, Tama bisa


mengurus semuanya dengan baik, bisa menjelaskan kepada Tiwi dengan kepala dingin dan bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya juga, doakan saja sama kamu,” jawab Dave sembari tetap memerhatikan jalanan di depannya.


“Sama itu sahabat kamu satunya besarkan hatinya jangan kayak gituh, meskipun secara tidak langsung dari dia


awal mulanya tapi dia juga nggak sepenuhnya salah. Nanti kalau semua sudah kondusif, kalian berbicaralah bertiga jangan sampai putus silaturahmi,” sambung Dave.


“Iya, Mas … insya Allah nanti kami obrolkan ini. Mas ini kan menjelang sore tapi kita belum makan, beli lontong dulu yuk Mas di warung deket perumahan kita, aku mau bikin lotek nanti waktu sampai, buat ngeganjel perut sebelum makan malam, he he he.”


“Siap, Bos !”


Pohon-pohon dan gedung-gedung di pinggir jalan seolah berlarian di balik jendela mobil yang dikendarai Dave, tak


terasa hampir setengah empat mereka baru sampai rumah dan langsung di sambut oleh pembicaraan serius Daddy Jeff dan Mommy  Sita mengenai keberangkatan menuju Jerman yang masih satu bulan lagi itu.


“Ada apa ini?” tanya Dave, sementara Kiyara sehabis menyalimi kedua mertuanya wanita itu langsung saja berpamitan menuju dapur.


“Grandpa kamu sudah keluar dari rumah sakit, semalam melalui Uncle kamu, Grandpa meminta kita untuk segera ke sana,” jawan Daddy Jeff dengan lesu.


“Memang kita akan ke segera ke sana kan rencananya, lalu apa masalahnya?”

__ADS_1


“Grandpa kamu menyuruh kita berangkat lusa, sedangkan Daddy dan Mommy menikah masih semingguan lagi,” jawab Daddy Jeff dengan sendu.


“Daddy, bingung hrus seperti apa di satu sisi mungkin ini tanda jika Grandpamu sudah mulai menerima Mommy dan


kamu tapi di satu sisi Daddy belum memiliki ikatan resmi lagi dengan Mommy kamu,” sambungnya.


Dave, tersenyum sinis melihat tingkah Daddynya itu padahal dulu dia yang menyia-nyiakan Mommynya tapi sekarang ? Ha ha ha ha.


“Tinggal nikah aja panggil pehulu ada saksi ada yang nikahkan Mommy, sudah beres nggak perlu pemberkasan lagi


kayak pertama kali nikah aja Daddy ini, kalian kan cerai talak biasa saja di mata hukum kalian masih suami istri,” ucap Dave dan seketika Daddy Jeff besorak senang seolah mendapat undian hadiah bernilai triliunan rupiah.


“Oh My God, aku melupakan fakta penting itu, thank’s Son kamu cerdas!”


“Sama-sama, so … kita berangkat lusa ke Jerman?”


Jeff, mengangguk semangat. “Besok Daddy akan menikahi Mommymu, habis ini Daddy mau ke rumah pengurus kompleks ini sekalian minta arahan ke penghulu,” ucapnya.


“Ya, pokoknya Daddy harus inget jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, satu tetes saja air mata Mommy menetes habis Daddy di tangan Dave,” kata Dave sembari mengepalkan tangannya kuat.


“Husss … ngomong apa kamu ini Mas, jangan kayak gituh Daddy juga orang tua kamu,” ucap Kiyara sembari menaruh 3 cangkir teh hangat di atas meja.


“He he he he, habisnya Daddy dulu sempet-sempetnya kelakuan kayak gitu Yang kan kadang aku masih suka kesel kalau ingat,” kilah Dave.


“Sudah-sudah, jangan berdebat terus nggak akan ada habisnya,” ujar Mommy Sita melerai perdebatan ayah dan anak itu.


“Ayo, ikut Kiyara Mom dari pada di sini nanti Mommy pusing sendiri. Kiyara lagi bikin lotek itu masih rebus sayurnya,” ajak Kiyara pada Mommy mertuanya itu dan langsung di sambut antusias.


Beberapa menit kemudian, di bawah rindangnya pohon mangga ke empat orang itu menggelar tikar kecil yang dia


atasnya sudah ada beberapa seperangkat alat makan, satu cobek besar lotek, lontong yang dibungkus daun pisang, dan juga kerupuk. Sementara orang-orangnya masih sibuk mengobrolkan acara yang serba dadakan untuk esok hari, siapa saja yang di undang, pesan cathering di mana, dan segalanya terbahas sampai ke akar-akarnya.

__ADS_1


“Udah ayo makan dulu, aku lapar,” potong Dave yang sedari tadi perutnya sudah berdemo.


Angin sepoi-sepoi mengiringi, acara makan sore itu dengan masalah hidup yang perlahan namun pasti akan segera terselesaikan perlahan, tentang masa lalu yang membuatnya rumit karena ketidak relaan. Jeff, dia bisa tersenyum dengan lebar sekarang ... dengan lotek yang ada di piringnya seakan menjadi lotek kebahagiaan untuk menyongsong hari esok agar lebih baik lagi.


__ADS_2