
A**UTHOR POV**
Seperti janjinya kemarin kini , Dave akan membawa istrinya untuk periksa kandungan. Tapi kali ini pasangan itu tidak hanya berdua saja melainkan berlima, karena Grandpa, Ayah, dan Bunda ikut menemani mereka untuk periksa kandungan, karena sama-sama mengkhawatirkan kondisi kehamilan kembar 3 pada sang ibu muda itu dan juga tentu saja mereka semua penasaran dengan jenis kelamin baby triplets.
“El, di sini baik-baik ya sama Mama dan Papa, Nenek mau ikut Tante Kiyara dulu periksa adik sepupunya El, doakan ya sama El sepupunya El sehat semua," ucap Bunda Alana pada sang cucu, wanita paruh baya itu berpamitan pada cucu pertamanya seolah-olah bayi berusia 9 bulan itu sudah bisa menjawabnya saja.
“Iya, El akan jadi anak sholeh … Nenek juga hati-hati di jalan ya,” jawab Asti sembari menirukan suara anak kecil dan menggerak-gerakkan tangan kecil anaknya itu.
“Uh, gemasnya cucu Nenek. Bunda pamit dulu ya As, hati-hati di rumah,” pamit Bunda Alana.
“Iya, Bun …”
Bunda Alana menaiki mobil Dave, dia jadi yang paling akhir menaiki mobil karena harus berpamitan dulu dengan menantunya dan juga cucunya yang selalu ingin ikut dengannya, tapi dengan berpamitan baik-baik El selalu bisa mengerti dan malah melambaikan tangannya kepada sang Nenek.
Mobil hitam yang di kendarai Dave, sudah berjalan di atas aspal kota Bandung dengan kecepatan sedang karena akan terlalu berbahaya karena membawa ibu hamil dan juga Grandpa yang sudah masuk usia lanjut. Di samping Dave ada Grandpa, beliau ini selalu meminta untuk duduk di samping kursi kemudi, ya alasannya hanya satu
ingin menikmati jalanan dengan leluasa, sementara di kursi tengah ada Bumil yang duduk di antara kedua orang tuanya, biasalah manja mode on.
“Udah dapat antriannya, Nak?” tanya Ayah pada Dave.
“Sudah, Yah … tadi pagi Dave sudah memberi kabar pada dokter Risma dan sekarang bisa ambil antrian melalui chat itu. Jadi lebih enak di pasien juga, nggak harus duduk nunggu lama di rumah sakit karena sudah bisa memperkirakan sendiri dari rumah harus jam berapa sehingga pas dengan nomor antrian saat sudah di rumah sakit, tidak perlu mengantri lama lagi,” jawab Dave.
__ADS_1
“Alhamdulillah, jadi nanti bisa langsung masuk ya, Nak,” ucap Bunda.
“Iya, Bun.”
Tak membutuhkan waktu yang lama karena hitungan menit saja mereka sudah berada di rumah sakit, tempat Dokter Risma praktik.
“Nyonya Kiyara, silakan masuk …” ucap suster yang berjaga di depan pintu ruangan praktik Dokter Risma, dia sudah hapal betul dengan Kiyara karena kehamilan yang kembar 3 cukup langka di rumah sakit ini sehingga si Ibu mudah di hapal.
“Iya, Sus … terima kasih,” jawab Kiyara karena seperti biasa suster itu membukakan pintu masuknya.
“Sama-sama, Nyonya.”
Kelima orang itu sudah berada di dalam ruangan Dokter Risma, sementara sang Dokter masih sibuk menunduk karena terlalu fokus menulis.
“Eh, masya Allah … kaget saya, Nak Kiyara ini kebiasaan selalu mengangetkan saja kalau datang,” celoteh dokter Risma yang di sambut tawa kecil oleh Kiyara.
“Dokter sih terlalu fokus, lihatlah saya bawa siapa saja ini he he he, maaf ya Dokter saya bawa rombongan banyak,” ucap Kiyara.
Dokter Risma, tersenyum ramah melihat 4 orang yang berada di belakang Kiyara, menyapa satu per satu dengan ramah dan santun. “Tidak apa saya tidak masalah, malah senang melihatnya. Pasti Uyut, Nini dan Kakeknya ini juga penasaran dengan perkembangan cicit dan cucu tripletsnya, ayo apa langsung USG saja?”
“He he he, iya Bu Dokter saya meni penasaran sama cucu ke dua, ke tiga sama ke empat saya, he he he sudah punya jalu di rumah berharap ini ada yang cewek biar bisa didandani, langsung USG saja ya Sayang,” jawab Bunda Alana dan di balas senyuman ramah dokter Risma.
__ADS_1
“Iya, dok langsung USG, saja saya juga sudah tidak sabar melihat perkembangan mereka di dalam perut saya,” sambung Kiyara.
“Ya sudah, mari ke sana … seperti biasa ya Nak, berbaring dengan hati-hati atau di bantu sama Nak Dave ya,” ucap Dokter Risma sembari berjalan mendekat ke arah brangkar dan mempersilakan asistennya untuk melakukan tugasnya.
“Eleuuh, ini meni gede gini ya perutnya, kalau bayi satu ini sudah over harus segera di lahirkan ya Bu Alana,” sambung dokter Risma saat suster menyingkap gamis Kiyara, mengolesi gel dan dengan perlahan alat USG di tempelkan di perut buncit Kiyara.
Dave, Ayah, dan Granpa, sedari tadi sudah tegang dengan pemikirannya masing-masing karena ini adalah hal yang menyenangkan juga menyedihkan bagi para lelaki. Misalnya saja Dave, lelaki itu senang sekali akan melihat perkembangan anak-anaknya di dalam perut Kiyara tapi di satu sisi dia juga sedih karena melihat perjuangan istrinya yang tidak mudah, sedangkan dia sama sekali tidak bisa membantu apa-apa untuk meringankan beban sang istri selama mengandung buah hati mereka. Grandpa dan Ayah, sudah pasti mereka mengingat perjuangan istri-istri mereka sendiri … apalagi saat mengingat proses kelahiran buah hati mereka pada masa lalu, hanya samil satu anak saja luar biasa perjuangannya, apalagi anak dan cucu mereka ini yang hamil 3 bayi sekaligus.
“Nah, itu babynya loncat-loncat … wah ada yang saling adu jotos ha ha ha, lucu sekali. Mereka aktif ya Nak Kiyara, alhamdulilah sudah lengkap semua, nahh sekarang ayo mari kita lihat jenis kelaminnya satu satu,” ucap Dokter Risma sembari menggeser-geser alat USG di atas perut Kiyara.
“Nah ini ada belalainya yang baby bagian bawah ini Nak, dia cowok … pindah ke yang di sisi kanan ini ya, wah ini cowok lagi, Nak … nah ini yang di sisi kiri, alhamdulillah harapan Nininya tadi terkabul ada baby girl di sini,” ucap Dokter Risma yang disambut ucapan syukur tiada henti oleh Kiyara, Dave, Grandpa, Ayah, dan Bunda.
“Terima kasih ya Allah, terima kasih dokter,” ucap Dave sembari menitikan air matanya, ah dia ingat Mommy dan Daddynya bila dalam keadaan seperti ini.
“Lihatlah Mom, Dad, cucu-cucu kalian sudah berkembang dengan sebaik ini, mereka dua cowok satu cewek seperti harapan kalian,” gumam Dave dalam hati.
“Sama-sama, Nak. Di jaga ya istrinya, ini untuk berat sudah normal semua meski baby girl ini sedikit lebih kecil dari saudara cowoknya tapi masih bagus, vitaminnya, susu hamilnya, makanan bergizi, jangan lupa selalu dikonsumsi dengan rutin dan sesuai jatah ya Nak, nanti saya jelaskan lebih rinci lagi. Suster tolong dibersihkan gelnya.”
Peneriksaan hampir berlangsung selama satu jam, karena banyak sekali wejangan dan ilmu baru yang di dapatkan Kiyara, dan berhubung semua keluarga ikut jadi sekalian saja dokter Risma memberi pesan bagi para keluarga agar selalu mendampingi Kiyara, karena kehamilan kembar lebih dari dua memiliki resiko yang jauh lebih tinggi di banding ibu hamil tunggal.
“Alhamdulillah, dokter terima kasih ilmu dan wejangannya, sangat berguna bagi kami semua untuk membantu menjaga cucu kami,” ucap Bunda Alana dan diangguki oleh dokter Risma.
__ADS_1
“Sama-sama Ibu.”
Setelah saling berpamitan, Kiyara dan semuanya pamit undur diri, ingin segera kembali ke rumah karena Kiyara sungguh sangat mudah lelah di kehamilan yang baru memasuki usia 22 minggu ini.