
AUTHOR POV
Sudah 5 minggu berlalu semenjak kejadian nahas itu terjadi, Baik Kiyara maupun Dave sudah mulai bangkit, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing meski Kiyara tak pernah lagi ke café karena semua bisa ia cek dengan mudah lewat mobile, sementara Dave masih sering keluar rumah untuk mengurusi pekerjaannya yang semakin banyak karena ia memilih menerima perusahaan yang sempat di pimpin oleh Daddynya, tentu saja ia menerima atas bujuk rayu Grandpa dan Unclenya, meski begitu ia tetap tak ingin menghak milik perusahaan tersebut yang direncakan akan menjadi warisan bagi anaknya tapi tetap saja tanggung jawabnya kini sudah ada di pundaknya.
“Sayang, sorry jadwal USGnya harus keundur lagi hari ini aku full di perusahaan Daddy ada meeting penting,” ucap Dave sembari menyiumi pipi tembam istrinya itu.
“Hem, iya tak apa … sana bekerjalah dengan baik jangan mengecewakan Grandpa,” jawab Kiyara dengan lirih, jujur saja dia yang kecewa saat ini. Usia kandungannya sudah 22 minggu yang artinya dia melewati pemeriksaan sudah dua minggu ini, tapi izin pergi periksa dengan diantar Ayah atau Kakaknya tetap saja, suaminya itu tak mengizinkannya padahal Dave selalu sibuk tak ada waktu untuknya.
“I love you,” ucap Dave.
“Too.”
Hanya ada lambaian tangan dari jendela mobil yang terbuka, lalu mobil hitam yang dikendarai suaminya tiba-tiba sudah hilang begitu saja di depan matanya.
Tes …
Air matanya kembali turun, ah dia sungguh benci menjadi sensitif seperti ini, sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit nggak enakkan sama orang, sedikit-sedikit mau makan ini itu, ah entahlah.
“Lebih baik aku menyusul Grandpa yang ada di rumah Ayah untuk melihat tanaman hidroponik,” ucap Kiyara yang kini tengah menutup pintu rumahnya dan berjalan pelan menujurumah di sebrang jalan sana.
Grandpanya itu sedari pagi sudah pergi ke rumah orang tuanya. Grandpa, sudah menganggap Ayah dan Bunda seperti anaknya sendiri, jadi senang pergi ke sana setiap pagi selama Uncle Leff dan Nico kembali ke negaranya, karena hampir setiap hari di rumah Dave, Kiyara di sibukkan untuk mengurus keperluan bekerja suaminya yang kini sudah memegang dua perusahaan sekaligus.
“El, jangan cepat-cepat, astaga … awas jatuh.”
Kiyara, mengembangkan senyumnya saat baru saja masuk ke dalam halaman rumah orang tuanya sudah di sambut oleh anak kecil yang kabur dari pengawasan orang tuanya.
“El, Sayang … kamu merangkak sejauh ini?” ucap Kiyara sembari memposisikan tubuhnya untuk berjongkok demi menjangkau tubuh mungil yang sedang menungging-nungging si atas paving.
“Stop … stop … stop … jangan mengangkat El,” ucap Dafa yang baru saja muncul dari dalam rumah dengan keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya.
__ADS_1
“Iya … iya, enggak aku berdiri lagi nih,” jawab Kiyara sembari mengangkat kedua tangannya di samping kepala.
“Ini juga, malah senyum-senyum pamer gigi 8 biji aja meni seneng banget kayak gini,” ucap Dafa sembari menyiumi pipi tembam anaknya.
“Ah, siniin aku mau cium baby El juga,” pinta Kiyara dan dengan sigap Dafa langsung mencondongkan anaknya ke arah Kiyara untuk di beri kecupan sayang.
“Ayo di dalam aja, jangan kelamaan berdiri, sini pegang Kakak … jalannya pelan-pelan,” kata Dafa sembari menggandeng tangan adiknya itu.
“Kamu tumben ke sini pagi-pagi,” ucap Dafa.
“Di rumah nggak ada orang, Papanya anak-anak lagi kerja bagai quda … huft, sampai nggak ada waktu buat nganter aku USG tapi aku mau minta tolong dianter Kakak atau Ayah, nggak dibolehin,” keluh Kiyara pada sang Kakak.
“Sabar ya, suami kamu kan lagi beradaptasi sama perusahaan barunya … eh dua-duanya kan perusahaan baru,” ucap Dafa.
“Ish, Kakak ini.”
“Iya kan bener dua-duanya perusahaan baru, yang satu baru dikembangkan sama suamimu yang satu lagi baru dipimpin sama suamimu, jadi ibu CEO musti banyak sadar dan sabar. Nanti kalau perusahaan sudah stabil bisa sering-sering di rumah, semua bisa diatur via mobile, zaman sudah canggih seperti ini tenang saja kalau uang sudah banyak semua bisa diatur, he he he yang penting jangan lupa hak anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan dari rezeki yang kamu dapat,” pesan Dafa.
“Kamu ini ada aja, tapi ya aamiin ya Allah.”
“Kamu menyusul, Grandpa Ara?” tanya Grandpa.
“Iya, Grandpa he he he, kita di sini aja ya sampai Mas Dave datang … di rumah sepi, ayo Grandpa aku mau ikut sarapan di rumah Bunda … BUNDA … HARI INI MASAK APA?” teriak Kiyara.
“Astaga Ara, kamu mau membuat Grandpamu ini jantungan dan lagi bukankah kamu sudah makan di rumahmu tadi bersama Dave?”
“He he he sorry Grandpa, Ara terlalu bersemangat ini jalan ke rumah Bunda saja Ara jadi lapar lagi,” ucap Kiyara sembari mengelus perut buncitnya.
“Wajar saja, dia makan untuk empat orang Daddy jadi sediit-sedikit makan … sedikit-sedikit makan,” ucap Ayah Akbar yang baru saja ikut bergabung di ruang keluarga sementara Bunda masih berada di dapur untuk menyiapkan ramuan keluarga.
__ADS_1
“He he he, betul Ayahku sayang. Bunda masak apa Yah, pagi ini?” tanya Kiyara sembari bergelyut manja di lengan cinta pertamanya itu.
“Bunda masak nasi liwet sambel oncom dan Tetehmu masak cumi asam manis sama itu loh apa Dafa namanya yang dari bawang itu?”
“Bombay kripy itu loh Dek yang dalemnya ada keju mozarelanya, tapi itu mah dijadiin camilan bukan buat sarapan tapi ya terserah kamu deh,” jawab Dafa.
“Nah itu, bentuknya kayak donat tadi Ayah kira donat krispi ha ha ha ternyata bawang bombay.”
“Ha ha ha Ayah ini, ada-ada aja … tapi enakkan Yah, itu Adek pernah bikin dulu tapi nggak pakai keju mozarela,” ucap Kiyara.
“Ah, lupa Ayah mah … da kamu mah suka masak yang kekinian sampek Ayah bingung nama yang bentuknya bulat bulat itu apa yang ada kuahnya tapi kentel itu apa, tahunya Ayah mah cilok, rujak bebeuk, serabi, ha ha ha. Sudah sudah kamu makan sana.”
Kiyara, pergi ke dapur setelahnya makan dengan lahap makanan yang masih tersedia di atas meja makan di temani Bunda tercintanya karena ingin disuapi seperti dulu katanya, sementara Dafa, Ayah, dan Grandpa sedang duduk di ruang keluarga menemani El yang sedang asyik dengan mainannya.
“Adek kamu kok kelihatannya sedih begitu Kak, kenapa dia?” tanya Ayah.
Dafa, melihat sekilas ke arah Grandpa lalu menghembuskan napasnya berat, memikirkan sebentar jawaban apa yang harus dia beri agar bisa berbicara jujur tanpa menyinggung perasaan Grandpa. Karena jujur saja, Dafa takut Grandpa merasa bersalah karena melimpahkan perusahaannya yang ada di sini untuk Dave sehingga menguras perhatian Dave terhadap istri dan calon anak-anaknya.
“Itu jadwal cek kandungannya udah mundur beberapa waktu, jadi badmood sama Dave. Padahal maksud Dave itu sekalian nanti cek jenis kelaminnya juga he he he, jadi biasalah pasangan muda, tapi Davenya nggak tahu kalau istrinya ngambek,” jawab Dafa sedikit menggaruk tengkuknya karena jawaban asalnya tapi ya semoga saja tepat tidak menyinggung perasaan Grandpa meski dengan sedikit berbohong karena sebetulnya dia tidak tahu Dave paham tidak jika istrinya tengah merajuk.
“Oh, Ya Allah Ayah kira ada apa, kelihatan sekali soalnya Adikmu itu kalau lagi sedih. Ya sudah, nanti tolong sampaikan pada Dave untuk mengajak Kiyara ke dokter kandungan, karena seharusnya ya tiap bulan di cek kandungan apalagi adik kamu itu hamil kembar 3, ngeri sebenernya Ayah ngelihat perut adik kamu tapi ya di satu sisi seneng bisa dapat cucu langsung banyak begitu,” jawab Ayah sembari menerawang jauh ke depan.
“Nanti, Grandpa juga mau bilang ke Dave … sekalian Grandpa mau ikut, kamu juga mau ikut Son?”
“Yes, Daddy … ha ha ha, untung Akbar dulu toeflnya bagus Dad, udah tua begini dapet Daddy bule,” seloroh Ayah Akbar yang disambut gelak tawa oleh Dafa dan Grandpa.
.
.
__ADS_1
Besok 3 BAB lagi semoga bisa konsisten up 3 Bab setiap harinya. Sehat dan bahagia selalu readers ...