
AUTHOR POV
Kamar Kiyara dan Dave yang sudah pindah di lantai satu, didekor sedemikian rupa oleh Dave agar setelah kelahiran baby triplets kamar itu bisa nyaman saat dihuni. Usia kandungan Kiyara yang sudah menginjak usia 7 bulan atau setara dengan 28 minggu, membuat Dave lebih sering menghabiskan waktu di rumah karena selain ingin menemani istrinya terus, Dave juga sudah cukup tenang menyerahkan sementara perusahaannya pada orang-orang kepercayaannya. Selama di rumah Dave, tak pernah tinggal diam selalu saja ada yang dibenahi atau di tata, katanya semua harus nyaman dan safety.
“Sayang ini baju-bajunya si kembar suruh cuci Bi Omas dulu ya,” kata Dave sembari menunjukkan beberapa kantung baju bayi yang baru saja mereka beli kemarin.
“Iya, Sayang, kebetulan Bi Omas juga lagi cuci di belakang, sini aku antarkan ke Bi Omas dulu,” ucap Kiyara, ya semenjak usia kandungannya sudah 24 minggu Dave tak lagi tega untuk menuruti kemauan istrinya yang mau mengurus keperluan rumah seorang diri, rasanya dia menjadi laki-laki yang payah saat melihat istrinya dengan perut besar yang seolah akan meletus itu masih jalan ke sana-kemari membawa sapu, kemonceng, atau lap kain, rasanya hatinya itu ingin meledak saja. Dan setelah mengobrol panjang lebar dengan sang istri alhamdulillah isrinya itu bisa menerima permintaannya.
“No, biar Mas saja yang membawanya, kamu duduk sini aja sambil lihat-lihat kamar kita kurang apalagi buat mempermudah kita mengurus baby triplets kita,” ucap Dave sambil memunguti kantung-kantung berisi baju bayi.
“Aku ke belekang dulu Sayang,” sambungnya dan hilang di balik pintu kamar meninggalkan sang istri yang tengah menatap isi kamarnya.
“Tempat mandi bayi yang gabung sama buat tempat makein popok udah ada, keranjang bayi sudah ada jadi satu tapi ukurannya gede banget meski pun kayaknya aku mau taruh anak-anak di kasurku aja biar anget deket Mama, Papanya, terus itu ada baby bouncer juga buat dipake kalau siang, lemari baju bayi udah, kulkas khusus stok ASI udah ada, pompa dan segalanya yang berhubungan dengan per-ASIan juga sudah, popok bayi dan perintilan bayi sudah, semuanya aku rasa sudah sampai kamar yang seluas ini jadi sedikit sempit kalau Mas Dave nggak pinter natanya, dia selalu berbakat dalam segala hal emang the best deh Mas Suamiku itu, sampai kamar juga dihias begini niat banget warna biru dan pink, menggambarkan anak-anaknya yang mau lahir cowok dan cewek, uh gemas banget,” ucap Kiyara sambil memindai isi kamarnya yang tampak lebih penuh sekarang.
“Oh, iya kata Bundakan aku harus siap-siap masukin perlengkapan bayi dan aku untuk lahiran, jaga-jaga gituh biar nanti nggak ngeribetin lagi,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ceklek …
“Sayang, ada Bunda sama Ayah di depan, bawa tutut sebaskom seperti kemauan kamu, terus udah dibawain bebek sinjay asli beli di Madura, oleh-oleh Bunda dan Ayah dari Surabaya, tapi tututnya Bang Dafa yang bawa dikasih Ibunya Asti,” kata Dave.
“Waaaa, serius Mas?”
__ADS_1
Meski, masa hamil muda sudah dilewatinya tapi tetap saja ada aja yang Kiyara mau meski bukan hal yang sangat aneh tapi selalu membuat orang keluar rumah dulu untuk mencarinya, jarang sekali mau sesuatu yang memang sudah tersedia di dalam rumah.
“Iya, gih sana temuin aku mau cek kerjaan dulu di ruang kerja, tadi aku udah pamit sama Bunda dan Ayah juga,” kata Dave tapi tetap menuntun Bumil untuk menuju ruang keluarga.
“Aduh, Bumil ini di tinggal seminggu aja perutnya udah tambah gede gini, bikin ngeri yang liat aja,” ujar Ayah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Ayah dan Bunda memang baru saja pulang dari rumah Pakde Reza di Surabaya dan saat akan kembali ke Bandung dapat pesen kalau cucu-cucunya pingin dibawain Bebek Sinjay yang dibeli langsung di Madura, yang tempat makannya deket Jembatan Suramadu katanya.
“Iya, Daddy juga heran padahal tiap hari Daddy itu ketemu tapi ya perutnya memang tambah gede tiap harinya kentara sekali, beda sama Grandmanya Dave, dulu lama sekali perubahannya,” sambung Grandpa sambil menghentikan kegiatannya menyesap tutut kuah kunci.
“Ya atuh beda, ini mah isinya tiga Daddy, kalau satu mah ya atuh pas udah masuk trisemester 2 mau ke 3 baru tuh cepet keliatannya tambah gede, tambah gede tau-tau brojol aja, tapi ya ada yang bilang beda orang beda bentukan dan waktunya sih Daddy, nggak bisa di sama ratakan,” kata Bunda Alana sambil mengusap pelan perut buncit anaknya itu.
Grandpa dan Ayah mengangguk setuju perkataan Bunda Alana, memang bagaimana pun terkadang beda orang beda kondisi kehamilannya, tak bisa di babat habis sama semua.
Mereka bertiga menganggukkan kepalanya. “Sudah pasti akan di jaga, sana lanjutkan pekerjaanmu jangan sampai banyak yang terbengkalai," jawab Ayah dan diangguki oleh Dave.
“MasyaAllah, ini anak Bunda udah kayak yang kenak busung lapar. Ini asa kecilan bahunya Sayang, kamu nggak makan ya?”
“Makan banyak kok Bun, iya kan Grandpa?” jawab Kiyara dan meminta pembelaan pada Grandpanya.
“Heeuum, dia makan banyak tiap hari makanan yang masuk banyak tapi kayaknya pada pindah ke cicit-cicitku, soalnya Ibunya seperti tambah kurus kalau dilihat dari pipi tembamnya yang sudah sedikit menyusut itu, Nak,” jawab Grandpa apa adanya.
Ayah yang melihat raut khawatir istrinya itu mengusap pelan bahu Bunda Alana. “Tidak apa Bun, tenang saja … anak kita kan kuat ya kan Ki? Dan lagi bagus dong cucu-cucu kita nutrinya terpenuhi,” ucap Ayah.
__ADS_1
“Iya, Bun nggak apa-apa ini semua baik dan sehat … seperti yang dikatakan dokter Risma, eh ini triplets nendang-nendang, aduduh, kok tambah kenceng gini nendangnya.”
Sontak ketiga orang itu langsung beralih menatap perut Kiyara, yang sudah meleyot ke sana dan ke sini. Bunda yang ada persis di samping Kiyara langsung memegang perut sang anak dan mengusapnya pelan.
“Sayang, cucu, cucu, dan cucu Nenek … jangan berantem Nak, kasihan nih Mama kamu udah meringis kesakitan, yang anteng ya di sana, sebentar lagi kita akan bertemu, nanti Nenek gendong ya gantian semuanya kebagian di gendong sama Nenek,” ucap Bunda Alana di depan perut Kiyara dan gerakkan diperut Kiyara perlahan berkurang.
“Ya Allah, itu perut kamu bisa kayak gituh Nak, ya Allah Bunda … Ayah nggak nyangka, atuh meni ngeri begitu ini kali pertama Ayah liat orang hamil bayi kembar tiga naha meni kitu, atuh ngeliatnya meni ngilu pisan. Sakit Nak?” tanya Ayah dengan nada khawatirnya, biasanya Ayah Akbar hanya melihat pergerakan kecil diperut Kiyara kalau sampai meleyot pun hanya sebentar dan langsung kembali ke posisi awal, dan saat ini dia melihat pergerakkan yang cukup kuat dan meleyot ke kanan lebih lama membuatnya deg-degan bukan main, khawatir jebol saja saat melihat perut anaknya bergerak seperti itu.
“Tidak apa Yah, ini nggak masalah sebetulnya malah jadi indikator kalau bayinya dalam keadaan baik dan aktif. Bukan sakit sebetulnya, hanya kaget-kaget gimana gituh jadi ya kadang sering teriak kalau begitu soalnya nggak bilang-bilang dulu Tripletsnya kalau mau atraksi he he he,” jelas Kiyara.
“Oh, seperti itu alhamdulillah Sayang, Ayah bener-bener nggak tega liat kamu kesakitan soalnya.”
Kiyara tersenyum lembut mendapat perhatian dari Ayahnya itu. “Ini aku mau disuapi Bunda boleh?”
“Boleh Sayang, mau sama apa ini?”
“Bebek Sinjay campur tutut, he he he … tututnya Ayah yang congkelin ya, Bunda mau nyuapin aku sama bebek nanti campurin ya bun kalau nyuapinnya,” ucap Kiyara dengan mengembangkan senyumnya.
"Aaaa ..."
Baru beberapa suap, perut Kiyara sudah meleyot lagi dan itu membuat Ayah panik seketika. "Cucu-cucuku aktif sekali," gumamnya sambil melihat perut anaknya yang meleyot kanan dan kiri bergantian, apalagi sekarang Kiyara menyandarkan tubuhnya ke sofa.
__ADS_1