Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Teman


__ADS_3

AUTHOR POV


Mobil berwarna hitam metalic itu baru saja masuk ke dalam halaman rumah Dave, di susul beberapa mobil lainnya yang tak sengaja berpapasan di jalan dan mereka melakukan konvoi kecil menuju rumah Dave. Orang-orang yang berada di dalam mobil perlahan turun dari mobilnya masing-masing, dari mobil hitam metalic turun Dave beserta, Grandpa, Uncle Leff, dan Nico adik sepupu Dave atau anak pertama Uncle Leff, mereka baru saja pulang dari makam kedua orang tua Dave, sementara dua mobil lainnya adalah mobil Tama dan Rendi yang di dalamnya penuh dengan sahabat-sahabat pasangan muda itu.


“Hay, this is Grandpa Bro Dave yang from Jerman?” ucap Edo yang belepotan dengan bahasa inggrisnya, membuat Fani mencubit kecil pnggang suaminya itu.


“Aduduh, sakit Honey,” desis Edo yang seketika membuat riuh gelak tawa di halaman rumah Dave itu.


“Maluu ih, ngomongnya nggak bener begitu,” bisik Fani.


“Ha ha ha, kalian teman cucuku? Pakai bahasa saja, saya bisa berbicara dan paham bahasa,” ucap Grandpa dan diangguki oleh Uncle Leff dan Nico juga.


“Lah kan tengsin dah tuh, sok-sokan make bahasa inggris segala,” seloroh Cakra.


“Sudah-sudah ayo, ngobrol di dalam, semuanya,” ucap Kiyara yang berdiri di dekat pintu rumah, dia baru saja keluar dari dalam rumah setelah mendengar kegaduhan yang bersumber dari halaman rumahnya.


“Wah, bumilku Sayang,” ucap Fani dan Tiwi berbarengan dan langsung berjalan meninggalkan halaman depan diikuti semua pria tadi.


Rendi dan Cakra sibuk membawa beberapa kantong plastik berisi berbagai makanan khas beberapa kota di sekitaran Jawa Barat, inisiatif mereka berdua saat mendengar kabar jika keluarga Dave dari Jerman sudah datang, sebagai calon sepupu ipar bagi Dave dan Kiyara kedua pemuda itu berniat memberikan perhatian lebih pada kedua pasangan muda itu agar jalannya lebih mulus dalam menggapai restu semua orang yang berhubungan dengan Shakira dan Bianca. Moduslah ceritanya.


“Kalian bawa apa? Kenapa banyak sekali seperti ini?” tanya Bunda Alana yang ikut menyambut kedatangan sahabat Kiyara.


“Jajanan Tan, buat camilan nanti … tapi ada beberapa makanan berat juga,” jawab Rendi dan diangguki oleh Cakra, semenjak pertemuan mereka di acara tasyakuran 4 bulanan beberapa hari yang lalu keduanya menjadi dekat layaknya adik dan kakak.


“Ya Allah repot-repot bawa beginian kalian ini, ayo masuk-masuk,” ucap Bunda Alana dan di balas anggukan oleh Cakra dan Rendi.


“Cakra taruh di dapur ya Tan.”


“Iya, ayo Tante anter.”

__ADS_1


Sementara itu Grandpa, Uncle Leff, dan Dave sedang berada di ruang kerja Dave untuk membicarakan perihal perusahaan yang ada di sini, lalu Nico, Kiyara, Tiwi, Fani, Tama, Edo, dan Hisyam (Anak Fani dan Edo) sudah berada di ruang tengah, berbincang hangat mengenai pertumbuhan bayi, apalagi sedang ada Hisyam si balita emesh.


“Oh, udah mulai riweh ya Fan usia segitu, ini juga aku pas awal-awal hamilkan sering bantuin momong si El, iya sih udah mulai rewel usia segitu maksudnya sudah mulai ada keinginan dianya. Ini aku juga lagi banyak baca dan belajar lagi buat nanti ngatur waktu buat ngurus bayi, bayi, bayiku ini he he he he,” ucap Kiyara setelah mendengar cerita Fani dan Edo.


“Kalau ini, keponakan Niko perempan atau laki-laki, Kak?” tanya Niko sepupu kecil Dave yang berusia 15 tahun.


“Belum tahu Sayang, Kakak belum USG,” jawab Kiyara.


“Kapan USGnya Kak? Apa Niko boleh ikut?”


“Boleh saja, tapi USGnya masih lama sekitar satu bulan lagi,” jawab Kiyara.


“Yah, masih lama ternyata … keburu Niko pulang Kak.”


“Sorry, Sayang karena jadwalnya memang masih lama atau Niko masih mau di sini? karena Grandpa akan tinggal di sini sampai Kakak melahirkan,” tawar Kiyara.


“Aku tidak bisa meninggalkan sekolahku lebih lama lagi, Kak … aku akan datang nanti saat keponakanku sudah lahir saja,” putus Niko dengan sedih.


“Yes, I have.”


“Umurmu berapa boy? Apa sudah kuliah?” tanya Edo, melihat sepupu Dave yang tinggi dan dengan body yang cukup bagus untuk seorang remaja laki-laki.


“15 tahun, Kak.”


“Whatsssss ?????????” pekik Edo.


“Kenapa Do? Kalah keker? Padahal dia baru 15 tahun ha ha ha, lu sih perut di buncitin,” seloroh Tiwi meledek sahabatnya itu dan di sambut gelak tawa lainnya.


“He, ngetawain apa sampek pada ngakak semua,” ucap Cakra yang baru datang ke ruang tengah sembari membawa nampan berisi asinan Bogor.

__ADS_1


“Ah, makanannnn !!!” teriak Tiwi yang langsung mendapat pelototan tajam Tama.


“Santai aja kali Kak, memang Tiwi begitu kita sudah hapal jangan marahin dia, kalau nggak gituh nggak rame ya Tiw?” ucap Fani membela sahabatnya dan mendapat dengusan dari Tama.


“Bukan apa, aku hanya ingin dia lebih kelem … karena bagaimana pun dia perempuan yang nantinya akan memiliki seorang anak juga, jadi kalau bisa mulai sekarang agak sedikit kalem gituh mauku,” ucap Tama membela diri.


“Tuh denger Ti, kalem dikit … lu pasti kalau di rumah juga sering deh teriak-teriak nggak jelas sampai Kak Tama pusing dengerin lu,” gurau Edo.


“Ish, apaan sih … katanya cinta tanpa syarat kok nuntut?” sewot Tiwi membuat Tama garuk garuk kepala.


“Bukan begitu maksudnya, ah tau lah pokoknya gaak kalem aja,” ucap Tama frustasi.


“Udah-udah nih makan,” ucap Kiyara sembari mengangsurkan dua mangkuk berisi asinan bogor yang menyegarkan untuk kedua pasangan itu.


“Makasih Bumilku,” ucap Tiwi dengan heboh.


Kiyara, tersenyum tipis melihat tingkah teman-temannya … meski Tiwi sering berlaku absurd tapi dia adalah teman yang tulus dengan sikap ceria dan hebohnya, itu bukan kekurangan Tiwi tapi itu adalah kelebihannya yang bisa membuat orang disekitarnya tersenyum karena tingkahnya, ada juga Fani si bucinnya Edo … temen Kiyara dari kelas dua SMA sedikit kalem tapi moodyan sekalinya ngambek sama orang sukanya jahil banget sama seperti Edo suaminya temen Kiyara yang paling jahil dan sering jadi sasaran ngambek temen-temennya, dan jangan lupakan Cakra si jomlo sendiri dari mereka ber- 5 kadang misterius tapi masih suka bercanda dan semuanya adalah pelengkap Kiyara saat dulu hingga kini, selalu datang untuk menemaninya di kala suka dan duka.


“Sayang nggak baik melamun terus,” ucap Dave yang kini sudah duduk di sisi Kiyara di susul oleh Grandpa dan Uncle Leff yang duduk di atas sofa bersama Ayah dan Bunda menikmati berbagai macam jajanan yang di bawakan dua jomlo mencari restu.


“Aku nggak lagi melamun, lag mensyukuri punya teman seperti mereka semua, ketambahan lagi sama Kak Tama dan Kak Rendi, ternyata memiliki teman sedikit bukan hal yang menyedihkan, karena terkadang meski memiliki banyak teman tidak semuanya bisa tulus seperti mereka-mereka ini,” jawab Kiyara.


“Betul, seperti aku ini meski dulu memiliki banyak teman di sana-sini tapi yang selalu ada ya itu-itu aja dan aku beruntung si Rendi nongol lagi sekarang.”


.


.


.

__ADS_1


Sorry kalau part ini kurang bagus, he he he lagi ngantuk banget pas ngetiknya. Next satu lagi ya insyaAllah sebelum jam 8 malam sudah publish


__ADS_2