
"Ehem, kalian ngapain?"
"Eh, Kakak ... i-ini kita lagi mau tahajud Kak, bantuin Kiyara turun tangga dong Kak," jawabnya sembari meminta tolong pada Kakaknya menuju lantai satu, karena sedikit risih bahunya dirangkul Dave, apalagi aroma sabun yang tercium begitu maskulin membuatnya tergelitik untuk mencium aroma itu dalam-dalam.
"Iya sini," ucap Dafa sembari berjalan cepat menuju sang adik.
"Kakimu sudah nggak sakit?" sambungnya.
"Masih nyut-nyutan sedikit, tapi masih bisa ditahan kok sakitnya," jawab Kiyara sembati menerima uluran tangan Kakaknya.
"Alhamdulillah. Eh, Dave ... abis mandi?"
"Iya, Bang ...," jawabnya sembari tersenyum kaku.
"Sepagi ini?" tanya Dafa lagi, padahal dia tengah sibuk menuntun adiknya untuk sampai lantai satu rumah Dave.
"Hehehe, iya Bang beberapa hari ini lagi suka mandi sebelum tahajud, rasanya salat lebih afdol aja ngga bau jigong," jawabnya sambil terkekeh kecil.
"Tapi biasanya sih langsung cuci muka dan wudhu, bergantung mood aja sih Bang, yang penting salatnya sah," sambung Dave.
"Good, banyak perubahan ya lu Le," ucap Dafa.
__ADS_1
"Kak, jangan gitu," tegur Kiyara tak enak hati dengan Dave, karena sedari tadi ia mendengarkan obrolan kedua lelaki itu seolah-olah Kakaknya sedang menyudutkan Dave dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan.
"Nggak apa-apa Ki, santai saja ... aku kalau ngobrol sama Bang Dafa emang kayak gini, but ... aku dapet banyak pelajaran dari sana, aku bisa berubah sampai dititik ini juga nggak lepas dari peran Kakak kamu ini," jawab Dave yang mendapat senyuman manis Dafa dan kerutan yang terlihat jelas di dahi Kiyara.
Tak lama berselang senyuman tipis terlihat samar di wajah gadis berbadan gendut itu, sebab sudah paham akan arah pembicaraan kedua lelaki itu.
"Ehm, iya-iya ... yaudah ayo, Kak Dafa tungguin aku wudhu dulu Kak Dave, mangga salat duluan," ujar Kiyara yang kini sudah berada di lantai satu.
"Oke," jawab Dave.
***
"Kamu ngga keluar sama sahabat kamu, Dek?" tanya Dafa pada Adiknya yang sedang sibuk berkutat dengan tepung dan para rekannya, dibantu Bunda dan Mommy Dave.
Emh, mereka ... Kiyara sekeluarga memang belum pulang dari rumah Dave, sebab Mommy meminta Kiyara mengajarinya membuat cake yang pernah Kiyara beri beberapa waktu lalu. Yang nyatanya, memang sangat spesial bagi Dave dan Mommynya karena itu adalah cake hasil resep uji coba Kiyara sendiri.
"Habis ini, Mommy ngapain lagi Ki?" tanya Mommy Dave yang baru saja selesai membuat krim keju.
"Mommy sama Bunda, bantu Kiyara buat adonannya ... biar Bunda sama Mommy tahu takaran-takarannya," ajak Kiyara yang tadi sudah selesai membagi beberapa bahan agar mudah dihapal dan dipahami cara pembuatannya oleh Bunda dan Mommy.
Sementara itu Dafa dan Dave tengah sibuk membahas pekerjaan mereka, saling bercerita dan memberi saran keduanya larut dalam obrolan yang menyenangkan dan berfaedah tentunya.
__ADS_1
"Sorry, Bang sebelumnya, aku mau nanya sesuatu tapi agak menyimpang dari pembahasan."
"Tanya apa?"
"Abang, rencana nikah usia berapa?"
Dafa, menolehkan kepalanya ke arah Dave, jujur saja dia sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Kakak kelas Adiknya dulu, semenjak mereka akrab hampir tidak pernah sama sekali Dave menanyainya tentang urusan hati seperti ini.
"Sebelum usia 30 tahun pokoknya, kenapa?"
"Enggak apa-apa, aku cuman heran aja sama Abang, duit banyak, ganteng iya, otak jangan ditanya udah pasti topcer banget, tapi selama aku kenal Abang, Abang nggak pernah keliatan jalan sama cewek, padahal seusia Abang ini kenalanku banyak yang udah menikah bahkan udah punya anak."
Dafa tersenyum mendengar penuturan Dave, yang dengan gamblang berbicara sedemikian rupa padanya, tak ada marah ataupun tersinggung hanya saja dia kini sedang menahan tawanya.
"Ehem ..." dehemnya menetralkan mimik wajahnya.
"Menikah, bertemu jodoh itu takdir ... sejujurnya Abang nggak pernah menutup diri dari wanita manapun, tapi memang belum menemukan yang klik yang mantep banget gitu jadi skip-skip dulu aja pokoknya yang Abang pegang adalah no pacaran apapun alasannya. Dan yang paling penting, Abang mau memperbaiki diri sebaik-baiknya, sebelum dia datang, biar nanti rumah tangga yang Abang pimpin bisa berlayar dengan baik dan penuh dengan ridhoNya, bisa jadi ayah yang baik juga buat anak-anak Abang kelak."
"Ternyata, nikah bukan hal yang mudah ya Kak kalau dipikir panjang. Banyak banget yang perlu disiapkan, bukan ngandelin na*su doang, apalagi dizaman yang udah kayak gini jadi orang tua bukan lagi ngandelin naluri tapi juga kudu paham ilmunya."
Dafa dan Dave menoleh bersamaan tiba-tiba. "Kiyara.... !!!"
__ADS_1
"Astaghfirullah ngagetin aja punya Adik teh, lagi seru-serunya ngobrol malah ikut nimbrung nggak pakai kode."
Kiyara hanya bisa mengangkat tangan kanannya sembari menunjukkan dua jarinya pertanda damai, karena sudah mengejutkan kedua lelaki tampan itu.