
Suara riuh bandara Husein Sastranegara, karena banyaknya orang yang riuh hilir mudik membuat Kiyara menggenggam tangan Mommynya lebih kuat, sementara Dave dan Daddynya mendorong troli di belakang para wanitanya. “Alhamdulillah, sudah di Bandung lagi, sebulan di sana rasanya kangen banget sama Bandung,” ucap Mommy.
“Iya, Mom … benar-benar lama rasanya,” jawab Kiyara.
Mereka berjalan dengan hati-hati, begitu pun dengan orang-orang lainnya … ada yang masuk, ada juga yang keluar bandara, pergi dan datang silih berganti, seperti kehidupan tak akan ada yang abadi.
“Kiyara … Dave …” teriak salah satu laki-laki sembari melambaikan tangannya dari kejauhan, membuat si empunya nama ikut melambaikan tangannya sembari tersenyum.
“Kak Dafa,” teriak Kiyara sambil melambai tangannya heboh, sementara Dave hanya melambai sekilas lalu kembali menurunkan tangannya kembali.
Jarak mereka semakin menipis, lalu Dave mengajak semuanya untuk segera masuk ke dalam mobil yang dia bawa.
“Akhirnya, sebentar lagi sampai rumah … masya Allah rindu rumah banget akuuu,” ucap Kiyara.
“Kamu rindu rumah yang mana, Dek? Rumah Ayah apa rumahnya suami kamu?” goda Dafa, sebab Kiyara baru tinggal di rumah Dave hanya beberapa hari, bahkan kurang dari seminggu.
“Eh, iya aku rindu rumah yang mana ya? Hihihi, tahu deh Kak, pokoknya rindu rumah, dua-duanya kan udah jadi tempat Kiyara berteduh, ya kan Mas, Mom, Dad?” jawab Kiyara sembari meminta bantuan suami, serta mertuanya untuk membelanya di hadapan sang Kakak.
“Ha ha ha ha … kamu itu lucu banget, pantesan aja Dave bisa luluh banget sama kamu, Nak … udah jago masak, gemesin pula,” kekeh Daddy Jeff.
“Ish, aku malah diketawain,” gumam Kiyara yang sayangnya di dengar semua orang dalam mobil dan malah mengundang gelak tawa kembali.
__ADS_1
“Astaghfirullah, bener kata si Lele, adikku yang polos, yang susah berbaur dengan orang,yang nggak beranian sama orang, sekarang kayak bukan Kiyara,” gumam Dafa dalam hati sembari melihat adiknya dari spion tengah mobil, karena sang adik duduk di bangku tengah bersama dengan suami dan ibu mertuanya.
“Oh, iya … Uncle Jeff mau di anter ke mana?” tanya Dafa dengan sopan.
“Ke perumahannya Dave yang dulu, Nak … Uncle tinggal di sana,” jawab Jeff.
“Siap, Uncle.”
Mobil yang dikendarai Dafa membelah jalanan kota Bandung, di iringi obrolan ringan melupakan sejenak permasalahan keluarga antara Jeff dengan keluarga besarnya di Jerman, teka-teki perubahan Kiyara yang begitu drastis, serta perawatan Mommy Sita yang harus diperhatikan sekali oleh semuanya bukan hanya Mommy Sita sendiri, belum lagi Jeff … mantan suami yang meminta rujuk.
“Nggak mau beli makanan dulu, Uncle?” tanya Dafa.
“Nggak usah, Nak … langsung pulang saja masih ada roti di dalam tas toh tadi sudah makan juga selama penerbangan. Nah, mau sampai juga,” jawab Uncle Jeff sembari menunjuk plang jalan menuju perumahannya.
Tak berapa lama berselang, rumah yang ditinggali pria paruh baya itu terlihat jelas. Sampai di depan pagar rumahnya Jeff diikuti sang anak turun dari mobil.
“Hati-hati, Nak … langsung ajak Mommy dan istrimu istirahat nanti, terima kasih sudah memberi Daddymu ini
kesempatan untuk memperjuangkan segalanya,” ucap Jeff sembari memeluk tubuh kekar anaknya.
Tangan Dave, mengusap pelan punggung Daddynya. “Sama-sama Dad, sorry juga sebelumnya Dave sempat tak memberikan kesempatan. Nanti Dave, akan langsung menyuruh Mommy dan Kiyara istirahat. Dan, satu lagi besok aku tunggu Daddy di rumah kita luruskan tentang keluarga Daddy agar aku tau semuanya, aku sudah dewasa,” ucap Dave.
__ADS_1
“Baik, Son … besok Daddy akan ke rumahmu sekalian memperjuangkan kembali cinta Daddy.”
Dave, tersenyum melihat Daddynya seperti ini, penuh semangat. “Baiklah, Dave pergi dulu … Assalamu’alaikum,” ucap Dave sembari menyalami punggung tangan Daddynya.
“Wa’alaikumsalam.”
Dave, masuk kembali ke dalam mobil hanya saja kini dia duduk di samping kakak iparnya. Melihat jalanan yang mulai gelap, membuat Dave semakin larut dalam pemikirannya sendiri.
“Cinta akan menemukan jalannya sendiri, meski sempat di belokkan oleh orang ketiga cinta Daddy pada Mommy
tetap menemukan jalannya untuk kembali. Meski aku tahu Tante Pelakor itu saat ini lebih cantik dari Mommy yang memang sudah berumur, tapi hanya mendapat cinta sesaat dari Daddy bukan rasa cinta seperti kepada Mommy. Semoga rumah tanggaku di beri keberkahan oleh Allah S.W.T sehingga bisa langgeng sampai maut memisahkan, aamiin,” gumam Dave dalam hati.
“Mas, ayo turun sudah sampai,” ajak Kiyara sembari menepuk pelan tubuh suaminya.
“Eh, iya … ayo-ayo.”
"Loh, Kak kok ke rumahnya Bunda?" tanya Dave bingung, tapi malah membuat ketiga orang lainnya tepuk jidat.
"Mangkannya jangan ngelamun aja, orang dari tadi kita udah ngobrolin ini juga. Aku ulangin aja deh, jadi gini malam ini, Bunda nyuruh tidur di sini dulu, istirahat ... di rumah kamu kan belum ada stok makanan lagi jadi kita semua makan di rumah Bunda dulu, sekalian istirahat di sini dan besok pagi-pagi tugas kamu ngecek keadaan rumahmu selama di tinggal satu bulan ini, soalnya aku ke sana jarang-jarang cuman buat nyalain dan matiin lampu aja, begitu," kata Dafa.
"Oh, iya ... iya Bang ... makasih udah dipikirin sampai sejauh itu," ucap Dava tulus.
__ADS_1
"Sama-sama, yaudah sana turunin koper-koper," ucap Dafa sembari melenggang pergi meninggalkan adik iparnya itu.
"Bang, woiii ... bantuin," teriak Dave setelah sadar di tinggal seorang diri di depan rumah.