
KIYARA POV
Pipiku merona mendengar pertanyaan Mommy, apalagi tangannya masih bertengker di atas perutku yang kini masih memiliki satu belut yang sudah lumayan kecil, meski itu bagiku entah menurut orang lain yang melihat tubuhku.
“Doakan saja sama Mommy, semoga lekas ada cucu Mommy di dalam sini. Yang jelas kami tengah mengusahakannya … agar Mommy jauh lebih semangat lagi untuk berobat,” jawabku, semua ini sudah kami pertimbangkan matang-matang sebelumnya … dan Kak Dave memutuskan untuk tidak menunda momongan, meski awalnya aku ragu karena terpikir dibenakku bagaimana jika kehamilanku rewel dan malah menyusahkan Kak Dave yang sedang berjuang menemani Mommy untuk kesembuhannya. Tapi, suamiku itu berhasil meyakinkanku sepenuhnya sehingga kami tidak menunda apapun semenjak hari pernikahan kami yang serba dadakan, dan dengan sangat teramat malu Kak Dave sudah melihat belut yang melingkar diperutku, serta bonus lemak-lemakku di bagian tubuh lainnya, hufft … meski malu, tapi harus diperlihatkan juga, bagaimana pun sudah haknya dan kewajibannya juga menerimaku apa adanya.
“Terima kasih, Nak. Kamu memang menantu terbaik yang Mommy punya, sehat dan bahagia selalu, Nak.”
Aku tersenyum lembut ke arah Mommy, entahlah semenjak hari pertunangan itu Mommy dan Kak Dave sering mengucapkan kata ‘Terima kasih’ padaku, padahal aku hanya melakukan sesuai dengan apa yang hatiku inginkan, termasuk melihat Mommy kembali sehat seperti dulu meski kemungkinannya hanya kecil.
“Tidak usah berterima kasih Mommy, ini sudah tugas Kiyara sebagai istri dan menantu hehehe. Mommy apa punya foto sewaktu Kak Dave masih bayi?” tanyaku, karena aku sangat penasaran dengan paras tampannya sewaktu masih bayi apa suamiku itu memang sudah tampan sedari kecil atau saat sudah dewasa saja.
“Ada, tapi di rumah, Nak. Kenapa? Apa kamu penasaran dengan wajah suamimu saat masih bayi?” tanya Mommy.
__ADS_1
Aku mengangguk dengan pasti. “Iya, Mommy … he he he … aku mau melihatnya, karena aku sangat penasaran dengan wajah Kak Dave, mungkin bisa menjadi penyemangat untukku he he he, bisa membayangkan bagaimana wajah calon anak kami nantinya,” ucapku jujur dan malah di balas gelak tawa oleh Mommy.
“Apa ucapanku salah Mommy?” tanyaku.
Mommy, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum lembut. “Bukan, tidak ada yang salah dari ucapanmu, Nak. Tapi hanya saja Mommy merasa kamu sangat polos dan jujur. Huuuuftt …” jawab Mommy, sembari mengatur napasnya karena terlalu lama tertawa.
“Ah, Mommy jangan membuatku malu,” kataku sembari memalingkan wajah dari Mommy karena merasa malu sendiri.
“Oke-oke, Mommy akan memberikan potret Dave waktu kecil, tapi setelah kita kembali ke Indonesia, apa kamu sabar menantinya Sayang?”
“Anak baik,” kata Mommy sembari mengusap kepalaku lembut dan aku hanya membalas Mommy dengan senyuman manisku.
“Ayo, bantu Mommy, untuk naik ke tempat tidur,” sambungnya lagi.
__ADS_1
Dengan hati-hati aku membantu Mommy untuk naik ke ranjangnya, tubuh Mommy yang memang lebih tinggi dariku sedikit menjadi tantangan saat aku membantunya seperti ini, meski memang dari segi badan sekarang aku lebih gendut dari Mommy yang beberapa bulan terakhir ini menjadi lebih kurus dibanding saat pertama kali kami bertemu dulu.
Ceklek …
“Assalamu’alaikum …”
“Aunty, Ya Tuhan … Aunty benar-benar sakit dan semakin terlihat kurus. Astaga, ini siapa gendut sekali dan lihatlah pakainnya sangat kuno.”
Aku menjawab salam beberapa teman kuliah Kak Dave, tapi langsung memekik kaget dalam hati ketika ada salah seorang temannya yang tiba-tiba mengataiku secara tidak langsung.
.
.
__ADS_1
Maaf, kalau kurang seru ... nanti aku tambah satu bab lagi ya, sabar hehehe ... jangan lupa like dan komennya ya, readers ... Terima kasih