
Angin sepoi-sepoi, menerpa rambut panjang gadis yang tengah duduk di bawah rindangnya pohon. Hari masih senja, tapi langit sudah gelap, segelap hari yang dilalui oleh gadis itu pada hari ini. Air matanya jatuh membasahi pipinya, mengingat kejadian kelam yang baru saja ia alami, gadis itu bingung harus mengadu pada siapa, harus marah pada siapa.
“Hiks … Ya Allah … kenapa jadi seperti ini, kenapa harus aku, kenapa harus aku ya Allah yang terkena amarah lelaki biadab itu dan berakhir menyedihkan seperti ini, aku harus bagaimana Ya Allah … aku sudah tak layak lagi, aku kotor!” teriak gadis itu dengan frustasi sembari memukuli dadanya yang terasa sangat sesak, ketika potongan-potongan kejadian pagi tadi teringat di kepalanya.
Setitik air langit, membasahi rambutnya … membuat dia memejamkan matanya menikmati tetes-tetes air langit lainnya yang mulai berjatuhan mengenai anggota tubuhnya yang lain. Meresapi dan memutar segala kejadian hari ini dalam ingatannya, berharap dia menemukan celah untuk hari esok, bagaimana dan kemana dia harus melangkah. Memutuskan segalanya dengan baik agar hidupnya di masa depan tak penuh dengan penyesalan.
“Aku harus bagaimana, mengapa takdirku sangat buruk seperti ini … dan laki-laki biadab itu dia sudah sangat keterlaluan, tanpa mau mendengar pembelaanku dia langsung membuatku pingsan begitu saja, aku benciii dan aku menyesal pernah mengidolakannya saat masih kuliah dulu!” teriaknya di tengah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras.
Brugh …
Suara derap langkah di tengah hujan perlahan terdengar mendekat ke arah gadis yang pingsan di bawah pohon, lalu dia berjongkok dan mengusap pelan pipi gadis itu. “Sorry, aku sudah merusakmu tanpa mau mendegar pembelaanmu terlebih dahulu, aku memang laki-laki bajingannn yang tak pantas untuk wanita sebaik Kiyara,” ucap lelaki itu dan langsung mengangkat tubuh gadis yang tergolek lemah di atas tanah, membawa gadis itu ke dalam gendongannya.
Flashback On:
“Lu, kurang ajar Fani …! Udah nipu gue, Kiyara bukan suka orang yang cool dan suka nyari gara-gara sama dia dan pura-pura nggak peduliin dia! Gue ketipu sama anak kecil, oh my God … gue bodoh,” racau lelaki yang tak lain adalah Tama, laki-laki yang sudah lama menaruh rasa pada Kiyara gadis gendut yang sudah dia hancurkan kepercayaan dirinya dan malah berbalik mencintai wanita itu karena ketulusan dan kebaikkan yang selalu saja menghantui langkahnya.
Menurutnya Kiyara bukanlah gadis gendut yang jelek, tapi gadis sexy yang manis … wajahnya begitu ayu dan tegas jika sedikit saja gadis itu percaya diri. Dan Tama mulai menyadari itu semua saat dia lulus dari kuliahnya di kampus yang sama dengan gadis gendut itu, mencari tahu ke sahabat-sahabat Kiyara tipe cowok seperti apa yang disukai gadis itu, dan jawabannya adalah cowok cool dan suka membuatnya naik tensi yang dia artikan Kiyara menyukai cowok cool, tidak peduli tapi selalu mencari gara-gara dengan gadis gendut itu, padahal semua itu hanya akal-akalan Fani saja kala itu menjawab pertanyaan Kakak tingkatnya seperti itu, karena dia sedikit kesal dengan Tama karena mengetahui masa lalu lelaki itu yang pernah membuat sahabatnya sampai harus menjalani terapi untuk menghilangkan traumanya.
Waktu berlalu Tama semakin gencar berlaku kasar dan berkata kasar pada Kiyara, karena kebodohannya yang percaya begitu saja dengan ucapan sahabat gadis incarannya itu, sembari mempersiapkan finansialnya agar jauh lebih stabil dia mulai mengembangkan usahanya agar bisa lebih maju lagi dan setelah itu dia akan datang untuk melamar Kiyara, karena dia juga tahu dari sahabat Kiyara jika Kiyara tak suka berpacaran maunya langsung halal.
__ADS_1
Dug …
“Aduh, woy … liat-liat dong kalau bawa koper, ada kaki orang juga main tabrak aja,” teriak seorang gadis.
“Salah lu sendiri berdiri di jalan gue!” jawab lelaki itu yang tak lain adalah Tama.
“What’s … e … eh … ini Kak Tama bukan? Anak FTSL?” pekik gadis itu dengan heboh membuat Tama memicingkan matanya.
“Hem, siapa? Gue nggak kenal lu,” ucap Tama sembari melangkahkan kakinya kemali.
“Aku sahabatnya Kiyara, Kak …,” ucap gadis itu dengan riang karena bertemu dengan idolanya saat masih kuliah dulu.
“Emh, apa dia Fani? Aku lupa dengan wajah sahabat-sahabat Kiyara lagi kecuali si Cakra karena sempet mau adu otot sama gue dulu, gue harus balas dendam ke dia, gara-gara dia nipu gue, gue jadi kehilangan Kiyara dan didulin sama bule brengsekk itu,” ucap Tama dalam hati.
“Baru pulang dari Malaysia,” jawab gadis itu dengan senyuman lebarnya.
“Ayo, aku anterin pulang,” ajak Tama yang membuat gadis itu memekik senang dan langsung mengekor Tama ke arah parkiran layanan penitipan kendaraan di bandara Husein.
“Mampir ke apart temen gue dulu ya deket sini, mau ambil barang biar nggak bola-balik,” ucap Tama.
__ADS_1
Tama, tersenyum licik saat melihat anggukan wanita di sampingnya itu dan dia dengan mudah akan melangsungkan rencananya tanpa mengalami kendala sedikit pun.
Dengan alasan akan sedikit lama dan memutuskan mengajak gadis itu, membuat keduanya kini sudah berada di dalam apartemen yang sebenarnya adalah milik Tama sendiri.
“Temen Kakak lagi keluar ya? Kok sepi banget gini dan Kakak sampai punya akses masuk ke sini,” tanya gadis itu.
“Hahaha, no … sebenernya ini apart gue, dan gue mau lu tanggung jawab sama apa yang pernah lu omongin ke gue, gara-gara lu gue nggak dapet wanita sebaik Kiyara, dasar penipu. Fani, lu harus bayar mahal kegagalan gue ngedapetin Kiyara!”
“Aku bukan Fani, Kak dan aku nggak tahu apa yang ud …”
Dug …
“Awhhh … Kak kamu harus dengerin aku … aku bukan Fan … i.”
Brugh …
Dan dengar liarnya Tama melakukan hal yang sangat keji pada wanita yang mengaku sahabat Kiyara itu, wanita yang pingsan karena pukulan di tengkuknya sekarang terkulai lemas di bawah kungkungan lelaki penuh emosi seperti Tama.
Dan saat matahari beranjak semakin menyingsing ke arah barat, wanita itu mulai sadar dari pingsannya yang berturut-turut, berawal dari di pukul tengkuknya, lalu sadar sebentar dan kembali pingsan karena merasakan tubuhnya kesakitan luar biasa apalagi di bagian organ intimnya, kembali sadar saat kembali merasakan hentakkan demi hentakkan dan kembali pingsan saat bayangan menyeramkan itu seolah merenggut semua tenaganya. Dan terbangun saat sore hari seperti ini dengan lelehan air mata yang tak berkesudahan, dengan umpatan dalam hati yang tak mampu ia ucapkan karena kalah dengan isakkan menyesakkannya itu. Lalu memilih memunguti bajunya sembari memakainya perlahan mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa di bawah sana, karena ayang dia pikirkan hanya satu, segera pergi dari tempat ini.
__ADS_1
Dan sampailah gadis itu di sebuah taman kecil yang tak jauh dari apartemen lelaki brengsek yang sudah merenggut harta berharganya, dia tak mampu lagi berjalan dan menahan rasa sakit luar biasa yang ia tahan sejak tadi. Menangis sejadinya dan terus meneriaki diri bahwa dia tak lagi berarti, berteriak apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga ada seorang bajingann yang meminta pertanggung jawaban atas apa yang tidak pernah ia lakukan. Tanpa sadar tak jauh darinya ada seorang yang memerhatikannya dengan wajah penyesalan.
Flashback Off