
KIYARA POV
.
.
Matahari bersinar lembut pagi ini, selepas berenang bersama Mas Dave di kolam renang yang baerada di halaman belakang kini kami sedang berjemur bersama, dan kali ini aku hanya mengenakan kaos crop yang memperlihatkan kulit perutku yang putih dan buncit di bagian bawah, lalu bawahannya aku memakai daleman saja, perintah langsung dari Mas Dave tidak boleh di bantah, karena beralasan ‘mumpung di rumah hanya berdua, kapan lagi mau bermesraan di luar kamar’ begitu katanya membuatku tepuk jidat saja, padahal sebentar lagi sekretarisnya itu bakalan ke rumah untuk menyerahkan beberapa laporan.
“Aku mau ke kamar dulu ya Mas, mau ganti baju,” ucapku, sembari meraih jubah mandiku yang aku taruh di sandaran kursi santaiku.
“Sebentar aku mau cium perut kamu dulu,” ucapnya dan langsung saja mencium perutku yang tak pernah rata itu dan sebentar lagi mungkin akan bertambah buncit dan buncit seiring dengan bertambahnya hari.
“Hai, tripletsnya Papa dan Mama, bagaimana di dalam sana masih muatkan? Jangan berantem ya di dalem sana, sehat-sehat … nanti kalau kalian sudah kuat di dalam sana Papa jenguk kalian ya tiap malam,” ucapnya sembari terus mendarakan kecupan di atas perutku.
Aku pukul kecil bahunya, karena berkata mesum di depan triplets. “Jangan berbicara seperti itu, dasar mesum akut,” gerutuku.
“Tapi kamu suka kan Yang,” godanya sembari menaik turunkan alisnya, membuatku tersipu saja aku tak munafik setiap yang sudah berumah tangga pasti suka anu sama pasangan halalnya, bukan?
“Emh, udah ya aku mulai kedinginan ini,” kilahku dan dengan berucap seperti itu saja Mas Dave dengan sigap langsung membawaku masuk ke dalam rumah dengan memegang bahuku seolah aku ini wanita tua yang jalan sedikit saja akan limbung karena lemas.
“Sini, pakai baju ini ya,” ucapnya setelah beberapa menit mengobrak-abrik isi lemariku, selama beberapa minggu ini dia senang sekali memilihkan baju ini dan itu untuk aku kenakan dan selagi itu cocok plus nyaman aku tak pernah membantahnya selalu menurutnya biar jadi pahala untuk kami yang saling membahagiakan lewat hal kecil seperti ini.
Aku sudah berdiri di depannya, seperti biasa dia akan memakaikanku baju dengan hati-hati. “Yang, nggak muat,” ucapnya pas memakaikan HBku (bacanya di balik ya wkwkwk).
“Aku tuh aslinya udah curiga dari pas pulang dari Jerman, soalnya berasa tambah gede ini kamu tapi lama-lama aku mikir kalau ini gede gegara sering aku mainin, ternyata eh ternyata, emang udah isi kamunya Yang, mana banyak lagi … seneng banget aku tapi di satu sisi juga khawatir sama kamu,” sambungnya dan aku melihat sedikit gurat khawatir dan kesedihan di wajahnya.
__ADS_1
“Jangan berpikir aneh-aneh Mas, doakan saja aku dan bayi triplets kita selalu kuat dan diberi Allah berkah umur panjang dan sehat juga. Kamu harus lebih yakin lagi biar aku ada yang support, jangan sedih atau khawatir berlebih ya, kan kita nanti juga periksanya rutin ke Dokter Risma biar tahu bagaimana perkembangan triplets di dalam sana, sama lihat kondisi aku juga, pakai HB yang bentuk kemben itu aja Mas, kemarin sempet di beliin Bunda itu, nyaman kok itu dari kain bagian karetnya juga bagus nggak neken,” ucapku menenangkan suamiku ini, meski sebetulnya aku pun menaruh khawatir berlebih kadang-kadang, apalagi setelah membaca berbagai cerita tentang kehamilan yang kembar lebih dari dua, segala resiko yang ditanggung si ibu jauh berkali lipat dengan kehamilan tunggal, meski begitu aku tetap senang bisa merasakan kehamilan yang aku impikan sedari dulu.
“Iya Sayang, sorry… sini aku pakaikan.”
Aku sudah siap dengan pakaian gamis rumahan yang nyaman, tak lupa dengan kerudung instant juga. Sementara Mas Dave dia memakai celana trening panjang dan kaos polo berkerah yang longgar, sengaja aku pilihkan itu karena wanita centil akan datang ke rumah sebentar lagi, aku harus menjaga milikku dengan benar tentunya.
Ting … tong … ting … tong …
“Mas, tamunya sudah datang tuh, padahal kita belum sarapan,” ucapku memelas.
“Iya, padahal janjiannya jam 9 ini jam 8 sudah ke sini,” jawab Mas Dave, kami memang sarapan yang sedikit kesiangan karena pagi-pagi tadi memilih untuk berenang terlebih dahulu.
“Ya udah aku buka pintunya dulu, sama ajak dia sekalian makan aja,” ucapku.
“Jangan … jangan, aku baru tahu kemarin pas liat Cvnya dia, ternyata dia itu Arin kan? Temen sekelas kamu dulu yang pernah memfitnah kamu waktu ulangan harian? Nanti kalau kamu ajak makan malah kamu nggak napsu makan gimana?” cegahnya khawatir, membuatku tersenyum saja ternyata selama ini suamiku ini tak tahu jika sekretarisnya adalah adik kelasnya dulu entah lupa atau pura-pura lupa.
Sambil berjalan perlahan menuju pintu depan, aku memikirkan bagaimana caranya membuat Arin paham dengan posisinya, karena beberapa kali aku sempat melihat isi chatnya yang tak senonoh pada Mas Dave dan berkilah salah kirim chat, belum lagi cara berpakaiannya yang sangat tak pantas, yang membuat image seorang sekretaris wanita menjadi buruk,’Pelakorlah, simpanan boslah, atau semacamnya’ Meski Mas Dave tak bereaksi apapun aku tetap harus waspada dengan calon pelakor seperti ini, sungguh dia sangat nakal dan liar menurutku, sudah tidak dipermasalahkan oleh Alfi tapi malah tetap berkelakuan seperti dulu tidak mencoba menjaga hubungannya sendiri dengan tunanagan baik hatinya malah ingin memperkeruh hubungan dia dengan Alfi, karena memilih berurusan dengan rumah tanggaku.
Klek …
“Kok elu sih yang buka pintunya?” nah kan … nah kan … belum-belum dah sewot aja, nih bocah.
“Masuk,” ketusku dan dia langsung saja mengekoriku.
“Aku mau makan dulu sama suamiku, mau ikut ayo nggak mau ya tunggu di sini aja,” ucapku sewaktu sudah di ruang tamu, tapi tak disangka dia benar-benar mengekoriku lagi sampai di meja makan tak merasa sungkan sama sekali.
__ADS_1
“Yang, aku makannya bareng sama kamu aja ya kayak biasa,” ucap Mas Dave yang langsung meminta sepiring berdua seperti biasa katanya, ingin disuapi olehku karena memang jika tidak makan dari suapan tanganku dia selalu akan muntah-muntah, ini kali ya yang dinamakan sindrom kehamilan simpatik.
“Saya ikut makan ya Pak Dave,” ucap Arin tanpa malu sedkit pun, baiklah mari kita mulai beraksi baby triplets.
“Emh,” dehem Mas Dave yang langsung bersikap tak ramah pada sekretarisnya.
“Mau sama apa, Mas?” tanyaku.
“Samakan saja sama apa yang kamu mau,” jawab Mas Dave manis sekali sembari mengusap lembut perutku.
Aku tersenyum senang menanggapinya, lalu dengan segera mengisi piringku dengan nasi dan lauk-pauknya. Sementara Arin, masih diam saja di sebrang meja sana, dengan raut muka yang sudah bad mood. “Makan Rin, ambil sendiri ya terserah mau sama apa aja,” ucapku.
“Iya, Ki.”
Aku tersenyum tipis saja, saat dia terus mencuri pandang pada suamiku. “Aduh, Mas perutku rasanya kenceng banget,” ucapku.
“Kenapa Sayang apa baby kita di dalam sana sedang akrobat,” ucap Mas Dave yang langsung berjongkok di depan perutku sembari terus mengusap lembut perutku.
“Lagi royokan makan kali Mas, baby triplets kita,” ucapku.
“Hah, baby triplets?” pekik Arin.
“Kamu apa-apan sih, jangan teriak-teriak di rumah orang nggak tau tata krama banget. Istri saya lagi hamil jangan buat dia kaget seperti itu apalagi anak, anak, anakku,” tegur Mas Dave yang sebetulnya dialah yang kaget karena teriakkan sekretarisnya itu.
“Ma-maaf Pak saya kaget saja, saya kira Kiyara badannya gendut lagi eh ter- ternyata lagi mengandung,” gagapnya.
__ADS_1
“Jangan sembarangan kamu ngatain badan istri saya gendut, dia itu bukan gendut tapi sexy … dibanding kamu yang kerempeng seperti itu lebih sexy istri saya kemana-mana, jago masak, jago bebersih, jago cari uang, jago di ranjang, dan baik hati,” ucap Mas Dave mengunggulkanku di hadapan calon pelakor amatir ini.
“Satu lagi Mas, aku nggak kegatelan sama punya orang, dan cerdas juga karena nggak pernah mengulang kesalahan yang sama seperti contohnya salah kirim pesan berulang kali hi hi hi, seperti orang bodohhh saja antara modus dan tak punya otak itu beda tipis ternyata,” pancingku dan Arin? Ahahaha tentu saja langsung kicep dia, ah waktu mengubah segalanya hihihi welcome Kiyara Pemberani.