
KIYARA POV
“Mama, Nasyta boleh ke rumah Kakek dan Nenek?” tanya putriku, membuatku menghentikan aktifitasku sejenak.
“Boleh, tapi sebentar ya … Mama lagi ngobatin kakinya Abang,” ucapku.
“Iya, deh … Nasyta tunggu di di depan ya, Ma,” pamitnya.
“Eh, jangan di depan … di sini aja, sambil liatin Mama ngobatin kakinya Abang,” cegahku, bisa-bisa Nasyta nekat nyebrang sendiri ke rumah Ayah sama Bunda, bisa bahaya.
“Iya deh, Nasyta tunggu di sini. Itu kakinya Abang kenapa sih Ma? Dali Jakalta kemalin kok dipelban telus?” tanya Syta dengan wajah penasarannya mengamati luka di punggung kaki Abangnya sementara Rendra dia hanya diam saja sambil memainkan game pembelajaran anak usia dini. Wajar sih kalau Nasyta nggak tahu, karena sewaktu kejadian dia sudah tidur di gendongan Papanya.
“Waktu hari terakhir di Jakarta ingat ndak, kita main di pantai?” tanyaku dulu sambil meneteskan obat merah di atas luka Narendra.
“Iya, kita main di pantai sama Nayla juga kan?”
“Eumh, waktu pas mau pulang Nasyta sama Teteh kecil kan bobok sementara Bang Rendra, Lendra, Nayra sama Kakak El masih bangun, pas jalan mau ke mobil dari pantai Nayra lari-lari dan mau jatuh, nah Abang reflek mau pegangin Nayra biar nggak jatuh eh malah Abang kesandung batu karang yang ada di pantai jadi kakinya luka begini,” jawabku.
“Oh, begitu … nanti kalau Mama mau ganti pelbannya bial Kakak aja yang ganti, Kakakkan calon doktel,” ucap Nasyta sambil menepuk dadanya.
“Aaamiin … anak Mama yang paling cantik ini, nanti besarnya jadi dokter ya Nak,” kataku sambil mengusap lembut kepalanya.
“Nah ini sudah selesai perbannya Abang, Abang di rumah dulu ya Mama mau ngantar Nasyta ke rumah Kakek samaNenek, sebentar lagi juga Lendra keluar dari kamar mandi,” sambungku sambil membersihkan kembali peralatan kesehatan kedalam kotak P3K.
“Iya, Ma … Mama tenang saja,” jawabnya sambil mengulas senyum.
“Ya sudah, yang anteng ya Mama sebentar aja kok ke rumah depannya ya,” ucapku sambil berdiri dari dudukku.
“Hayu, Nak,” ucapku pada Nasyta dan dia langsung saja meraih tanganku.
Jalanan kompleks memang cukup lengang, tapi tetap saja sebagai Ibu mana tega membiarkan anaknya menyebrang sendiri di jalanan, apalagi anakku masih berusia 4 tahun. Ini hari kedua setelah kepulangan kami dari Jakarta, Mas Dave sudah harus kembali bekerja karena ditinggal hampir seminggu ke Jakarta sudah pasti banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya sana.
__ADS_1
“Nanti, Syta boleh nginap di lumah Nenek dan Kakek, Ma?” tanyanya, tumben mau nginep di rumah Ayah sama Bunda tanpa ngajak Mama sama Papanya.
“Boleh, nanti tapi tanya dulu sama Nenek dan Kakek ya,” jawabku dan diangguki antusias oleh Nasyta.
“Ayo, ucap salam dulu.”
“Assalamu’alaikum, Nenekkk …. Kakek … Uwaaaa … Kakak … Teteh Kecil,” teriaknya, membuatku tersenyum lembut, ternyata anak perempuanku yang paling kecil sendiri dari kembarannya ini sudah besar, anak manis dan cantikku ini teramat aku jaga, jangan sampai mengalami hal yang seperti aku alami waktu masih sekolah dulu, jika Abang dan Adiknya aku yakin bisa membela diri jika mengalami hal-hal buruk tapi semoga saja tidak terjadi apapun, sementara Syta anak perempuanku satu-satunya kadang aku sangat merasa khawatir dia tak cukup bisa membela diri seperti aku dulu.
“Wa’alaikumsalam … loh ada cucu Nenek, mana Abang dan Adik?” tanya Bunda yang langsung menggendong tubuh Nasyta.
“Di lumah, aku mau main sini Nenek. Nanti malam juga apa Nasyta boleh bobok sini?” tanyanya.
“Boleh, tentu saja boleh … Syta kan cucu Nenek juga, jadi boleh dong bobok sini,” jawab Bunda.
“Yeay, boleh Ma … kata Nenek boleh,” ucapnya padaku membuat tanganku terulur mengusap kepalanya.
“Iya, nanti jangan merepotkan Nenek sama Kakek ya, kalau mau apa-apa minta ke Uwa Dafa aja hi hi hi,” ucapku.
“Kiyara, nggak boleh gituh … nanti Nasyta boleh minta sama Nenek atau Kakek kok,” kata Bunda.
“Cucu, Nenek nggak rewel kok ya Nak?”
Nasyta, mengangguk antusias … “Iya, Nasyta kan sudah besaaallll,” jawabnya.
“Udah besar kok masih cadel, dasar bocil,” ledek El yang berdiri di belakang Bunda, anak ini memang suka sekali menggoda Nasyta meski begitu sebetulnya El sangat menyayangi Nasyta.
“Nenekkkk … Kak El jahadddd … masa Nasyta dikatain bocil,” adu Syta pada Neneknya membuat Bunda hanya menyunggingkan senyumnya saja.
“Tuh, Bun … yakin nggak apa-apa nih Nasyta tidur sini?” tanyaku khawtair Bunda akan kewalahan.
“Nggak apa-apa, santai saja ada Ayah dan Tetehmu di dalam nanti juga Dafa keburu pulang, nggak akan merepotkan dan mana ada Nenek ya direpotkan cucunya sendiri. Sudah sana pulang, kasihan Rendra dan Lendra,” kata Bunda.
__ADS_1
“Loh, Bunda ngusir aku?” tanyaku pura-pura sedih.
“Hi hi hi, Mama diusil.”
~
AUTHOR POV
“Ma, boleh bobok sama Mama nanti?” tanya Lendra saat Mamanya sibuk menata piring-piring berisi makanan di atas meja makan.
“Heum? Lendra mau bobok sama Mama? Apa Abang juga?” tanya Kiyara pada anak sulungnya.
“Telselah Mama, kalau Lendla bobok di kamal Mama, ya Abang ikut,” jawabnya.
“Ya sudah, kita bobok berempat di kamar Mama sama Papa,” jawab Kiyara.
“Siapa yang mau bobok sama Mama dan Papa?” tanya Dave yang baru saja masuk ke ruang makan setelah bebersih sepulang kerja tadi.
“Aku sama Abang, kan Nasyta eh maksud Adek, Kakak kan lagi di lumah Kakek sama Nenek, jadi aku sama Abang boleh dong Pa, bobok di kamal Papa dan Mama, malam ini aja,” mohon Lendra sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
“Boleh nggak ya?” goda Dave sambil menaruh telunjuknya di bawah dagu, berpose seperti orang yang tengah berpikir serius.
“Please, boleh ya Pa,” pinta Lendra kembali, sementara sang Abang hanya diam mengamati Papa dan adiknya itu.
“Eum, ya sudah deh boleh, asal besok subuh mau salat di masjid sama Papa,” ucap Dave dan diangguki antusias oleh Lendra.
Dan seperti kemauan Lendra sewaktu makan malam kini mereka berempat ada di kasur yang sama, saat jam dinding menujukkan pukul 10 malam dan tentu saja Dave yang paling akhir naik ke atas ranjang, berbaring tepat di sebelah Rendra, anak yang paling mirip dengannya.
“Nggak nyangka ya Ki, kita sudah dikaruniai 3 orang anak sekaligus padahal pernikahan kita belum ada 5 tahun. Kalau, lagi tidur sama anak-anak kayak gini rasanya adeeeem banget di hati, kayak tidur meluk kamu padahal kita terbentang jarak tubuh anak-anak kita,” ucap Dave sambil tangannya terjulur mengusap punggung tangan istrinya yang tengah memeluk Lendra.
“Jangan gombal ujung-ujungnya Mas, tapi emang sih ya Mas, lihat anak-anak tidur anteng begini rasanya masya Allah banget. Dulu sebetulnya aku masih bingung takut salah mendidik anak, apalagi di zaman seperti sekarang ini naluri aja yang diandelin buat jadi orang tua, waahhhh nggak bisa banget kasihan anak-anak malah, untung saja kita sudah membicarakan banyak hal tentang cara mendidik anak-anak dengan masukkan Grandpa, Ayah, dan Bunda juga, rasanya nggak nyangka bisa sampai di titik ini, dengan anak-anak yang tumbuh dengan baik, sesuai dengan usianya malah cenderung kemampuan anak-anak kita lebih cepat daripada anak seusianya loh Mas,” ucap Kiyara sambil mengusap-usap rambut tebal milik Lendra.
__ADS_1
“Apa, kita lakukan tes IQ dan EQ aja ya Yang, buat anak-anak sambil tes yang buat penentu bakat itu loh Yang, biar kita lebih fokus lagi buat membimbing anak-anak ke depannya dengan tidak mengeyampingkan bakat dan potensi diri anak-anak.”
“Belum bisa Masku Sayang, aku sempet cari tahu usia potensial untuk tes IQ dan EQ itu antara 5-8 tahun, tahun depan ya kita ajak anak-anaknya biar lebih akurat hasilnya nanti, sekarang kita ajarkan anak-anak seperti biasanya saja naik level perlahan ngajarinnya pokoknya nggak sampai stuck di tempat,” jelas Kiyara dan diangguki oleh Dave.