Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Menghina


__ADS_3

AUTHOR POV


.


.


Semua orang tampak larut dalam obrolan pada pagi hari itu, saling melempar canda tawa dan menanykan banyak hal lalu mendengarkan cerita satu sama lain selama satu bulan belakangan karena jarak yang membentang di antara dua keluarga itu, beruntung Tama tadi bisa diberi nasehat oleh Dafa, bayangkan saja jika lelaki itu kekeuh dengan pendiriannya memaksakan cinta pada istri orang dan berniat membicarakan langsung di depan Ayah Bundanya, entah apa yang akan diterima oleh pemuda itu, belum lagi ada Daddynya Dave juga.


“Thank’s, Bang tadi udah dibantuin, kalau enggak? Aduh aku nggak tahu Mommy masih bisa senyum kayak gini atau enggak,” bisik Dave pada kakak iparnya itu dan malah membuat Dafa terkekeh pelan.


“Yang ada kasihan tuh bocah kalau sampai masuk sini, bisa dikeroyok, ha ha ha ha …”


“Eh, iya juga ya, Bang.”


“Eh ini  kala ka bisik-bisik,” tegur Bunda pada kedua anak lelakinya.


“Peace, Bun … ini nih menantu Bunda kangen sama Dafa katanya mau ngajak maiin badminton nanti sore,” kilah Dafa dengan mengacungkan dua jarinya.


“Eh, apa main badminton segala habis ini kita bebersih rumah dulu, Mas … biar nggak kelamaan rumahnya kosong ih, serem …” omel Kiyara sembari memakan serabi oncom yang dia beli tadi.


Tuh, Bang … nggak dibolehin Nyonya, Abang main sama El aja,” ucap Dave malah mendapat pukulan kecil dari Kakak iparnya itu.


“El, masih bayi dodol.”


**


Pagi tadi memang terasa sangat dingin bagi Kiyara dan Dave, tapi siang ini? Mereka sangat kegerahan, but kegerahannya  bukan karena anu-anu, tapi karena sibuk membersihkan ini dan itu di rumah Dave.


Haciiiing … Hacing … Hacing …


Srrroottttt …


“Ih, debunya masyaAllah banyak banget ini, haciiiinnnng …”

__ADS_1


“Sayang, jangan dipaksain lihat hidung kamu udah merah banget ayo aku antar plang ke rumah Bunda,” ucap sang suami sembari merangkul tubuh istrinya.


“Nggak apa-apa Mas, biar aku bantu … ini aku aneh deh sama diri aku sendiri Mas, biasanya debu segini tuh nggak sampai buat aku kayak gini, ini padahal Bunda udah manggilin tukang bersih-bersih seminggu sekali jadi nggak sekotor itu juga sih sebenernya, hidung aku lagi mode sensitif ini mah,” gerutu Kiyara sembari kembali membenarkan letak maskernya.


“Kamu memang lagi sensitif  banget, Sayang akhir-akhir ini, oh … astaga aku lupa mengajaknya untuk mengecekkan urinnya tadi pagi,” ucap Dave dalam hati.


“Sayang, lebih baik kita kembali ke rumah Bundamu saja sekarang, secepatnya … aku mau pesan jasa bersih-bersih aja biar cepet dan kembali kinclong, malam nanti siap di huni …,” ucap Dave tiba-tiba setelah mendapat pencerahan untuk memesan jasa bersih-bersih rumah secara onlen saja, karena dia memikirkan efisiensi waktu dan tingkat kebersihannya juga jika memanggil jasa onlen itu.


“Ih, Mas … kok nggak kepikiran dari tadi sih, aku udah kayak gini juga,” gerutu Kiyara.


“Tuh kan dia sensitif banget, biasanya juga kalem nggak gampang ngomel,” batin Dave, sembari melihat istrinya melepas sarung tangannya.


“Iya, maaf … maaf … tadinya kan Mas niatnya mau sekalian manja-manjaan sama kamu di sini, eh kok malah kotor banget gini rumahnya,” ucap Dave melemah.


“Ya sudah, ayo ke rumah Bunda dulu sambil nunggu orang yang dikirim buat bersih-bersih.”


Dan pada akhirnya pasangan suami istri itu kembali ke rumah Ayah dan Bundanya Kiyara, sembari menunggu orang-orang dari jasa bersih-bersih yang disediakan secara online.


“Es jeruk nipis seger kali ya, kalau cemilan seadanya di rumah aja … tapi kalau kamu mau bikinin gorengan atau camilan apa gituh ya nggak apa-apa, mana bisa nolak makanan buatan kamu sih Sayang, semuanya kan enak,” ucap Dave sembari sedikit menggombali istrinya itu.


“Oke, nanti aku sama buatkan gehi aja deh kalau gituh, biar bisa buat ngeganjel perutnya yang bebersih nanti, Mas nanti perhatiin betul-betul loh ya jangan sampai ada yang kelewat sedikit aja,” pesan Kiyara sembari menunggu suaminya membuka pagar rumah orang tuanya.


“Iya, Sayang … ini nih gegera nggak kepikiran buat nitip rumah secara benar ke Bang Dafa, aturannya aku juga nyuruh orang buat bebersih tiap hari di sini, malah nggak kepikiran sama sekali akunya, malahan Bunda yang kepikiran nyuruh orang seminggu sekali ke sini dan nggak bisa nyuruh tiap hari juga soalnya Bunda takut nggak bisa nungguin yang bebersih di sini kalau tiap hari dateng,” ujar Dave sembari menutup pagar rumah kembali.


“Nggak apa-apa, Mas orang kita pergi juga pikirannya lagi kalut jadi wajar kalau ada yang nggak bener kayak gini, buat pelajaran aja ke depannya kalau mau keluar-luar lagi, ya kan?”


“Emh, betul … nanti habis maghrib, kita kasihkan oleh-olehnya Sayang, pagi tadi lupa padahal pas momennya lagi ngumpul semua.”


“Oh, iya-ya Mas, Assalamu’alaikum …” jawab Kiyara yang disambung sekalian dengan salam karena mereka kini sudah berada di depan pintu rumahnya, dan tanpa menunggu jawaban dari dalam mereka berdua langsung masuk ke dalam.


“Eh, penganten baru …” ucap seorang ibu-ibu yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Kiyara.


“Eh, Tante … udah lama Tan?” tanya Kiyara sembari menyalimi perempuan seusia Bundanya itu, diikuti suaminya yang hanya menangkupkan tangan di depan dadanya dan langsung permisi masuk ke dalam rumah, meninggalkan istrinya yang masih temu kangen dengan Ibu dari sahabatnya.

__ADS_1


“Baru aja, ini Bunda kamu sama Cakra juga baru masuk ke dalem sama ponakan kamu, tadinya Tante mau lihat ponakan gemes kamu eh baru di bawa ke sini sebentar udah nangis, minta ke ibunya lagi.”


“Oh, iya Tan … Cakra juga ikut berarti, kirain Tante dateng ke sini sendirian.”


“Nggak dong, malah Tante ke sini bukan sama Cakra aja … nah tuh mereka datang,” ucap Ibunya Cakra dengan memandang dua orang yang  baru masuk ke ruang tamu dari arah dalam rumah.


Deg …


“Tante, masuk dulu deh gantian mau lihat El lagi, sini Cakra, Tya, gantian sama Mama.”


Di ruang tamu itu mereka kini hanya bertiga, tetapi Cakra sengaja masih berdiri dengan Tya karena Cakra ingin mengenalkan pacarnya dulu pada sahabatnya itu.


“Hay, Ki … kenalin ini Tya, pacarku dan juga adiknya Kak Dafa, dia lebih muda dua tahun dari kita,” ucap Cakra memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.


“Sayang, ini Kiyara? sahabatnya Kakakmu Agam itu? Katamu dia sudah kurusan kenapa masih sangat gendut seperti ini, apa kamu nggak malu punya temen kayak gini?”


Kiyara, kaget dengan ucapan Tya yang tampak merendahkannya itu tapi pandangannya berubah menjadi sendu kala melihat seorang wanita paruh baya yang berada di belakang Cakra dan Tya, hatinya sakit melihat Bundanya sudah mengepalkan tangan menahan emosi karena anaknya di hina di depan mata kepalanya secara langsung, karena sejak dulu dia  belum pernah melihat secara langsung anaknya di bully.


“Hey, apa maksudmu berbicara seperti itu pada anakku?”


"Ha ha ha ha, Tante juga jangan merasa paling suci ... Tantekan yang menghancurkan rumah tangga Mamaku dengan suaminya yang pertama, cih ..."


"Tya, jaga ucapanmu jangan mencampuri urusan orang lain," ucap Cakra merasa tak enak hati karena pacarnya itu membuat onar di rumah sahabatnya, lebih parahnya berani menghina sahabat dan orang tua sahabatnya juga.


"Cakra, kamu harus tahu Sayang ... keluarga sahabat saudaramu yang sudah mati itu ... BEJAD ... dan kamu sepertinya harus mempertimbangkan gadis gendut dan jelek ini menjadi sahabatmu," ucap Tya dengan lantang membuat Mama Cakra kembali ke ruang tamu karena kaget calon menantunya berteriak-teriak di rumah orang.


"Ada apa ini Sayang?" tanya Mama Cakra.


"Hahaha, Tante  ... Tante juga harus tahu ... keluarga sahabat anak Tante yang udah mati itu  BEJAD Tan, BEJAD ... mereka berdua ini penghancur kebahagian orang, Tan ... Ibunya penghancur rumah tangga orang dan anaknya ini juga sudah mencuci otak Cakra biar Cakra tetap di sini dan nggak balik ke Surabaya Tan, Si Gendut ini juga yang udah ngerebut semua kasih sayang Kakak aku Tan, hahahaha .... mereka semua jahat," teriak Tya dengan menggebu-gebu.


PLAKKKK ...


"JANGAN HINA BUNDA DAN ADIKKU! CAMKAN INI BAIK-BAIK MAMAMU ITU YANG MURAHAN, BUNDA TIDAK PERNAH MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA MAMAMU ITU, TAPI DIA SENDIRI YANG MENGHANCURKAN RUMAH TANGGANYA DENGAN MENELANTARKANKU DI JALANAN DAN PERGI ENTAH KEMANA DENGAN SELINGKUHANNYA ITU!"

__ADS_1


__ADS_2