
AUTHOR POV
Suara adzan subuh pagi itu terdengar bersahutan dengan suara rintihan kecil dari seseorang yang tertidur di depannya, posisinya masih sama seperti semalam dia duduk bersandar dan didepannya ada istrinya yang bersandar pada badannya, ah sungguh pinggangnya terasa nyeri, perlahan ia turun dari ranjang sambil merebahkan perlahan istrinya pada tumpukkan bantal biar posisinya tidak langsung terlentang. Mengambil wudhu dan salat di sebelah ranjang, tapi saat dia tengah berdzikir suara rintihan istrinya itu semakin menjadi, membuatnya segera beranjak dari duduknya.
“Mas, sakit ssshhh,” rintih Kiyara, ternyata istrinya itu sudah terbangun dari tidurnya dan kini tengah memegangi perut besarnya.
“Ayo ke rumah sakit,” ucap Dave yang langsung menyambar jaket dan kerudung Kiyara.
“Ini aku pakaikan, astaghfirullah Yang, ini kamu ngompol?” tanya Dave saat melihat ranjangnya basah.
“Bu- bukan ini air ketuban … kayaknya baby nggak nahan pingin segera ketemu kita Mas,” ucap Kiyara yang langsung disambut kepanikan tingkat dewa sang suami. Tangan kokohnya langsung saja membawa tubuh istrinya ke dalam gendongan sambil berteriak memanggil Bi Omas, Dave keluar kamar.
“BI TOLONG BUKA PINTUNYA SAMA KUNCI MOBIL SAYA!” teriak Dave saat sudah berada di luar kamar dan dari ara dapur Bi Omas berlarian tergopoh-gopoh, untung saja Grandpa yang mendengar teriakkan cucunya santai saja, sambil mengambilkan kunci mobil Dave berjalan duluan ke arah pintu garasi yang terhubung dengan ruang keluarga paling pojok masuk lewat sana membuka garasi dan baru saja mau masuk ke dalam mobil cucunya sudah lebih dulu memintanya untuk membukakan pintu belakang mobilnya.
“Tenang Dave jangan seperti ini malah akan membahayakan kamu,” pesan Grandpa dan diangguki oleh cucunya.
Dengan sigap Grandpa langsung ke kursi kemudi tapi hanya untuk menyalakan mesin mobil cucunya itu, hitung-hitung memanasi mesinnya karena Grandpa sendiri sudah tak boleh mengendari mobil sendiri dalam keadaan apapaun jadilah dia tak bisa mengantar cucunya itu.
“Bi tolong beri kabar ke mertuaku kalau Kiyara mau lahiran, Grandpa thanks, sudah membantu Dave Grandpa di rumah aja ya,” pesan Dave sebelum melajukan mobilnya menuju jalanan kompleks yang masih sepi.
Sepanjang perjalanan, Dave tak henti-hentinya merapalkan segala doa saat melihat istrinya sudah seperti orang yang hampir pingsan sambil sesekali meringis ngilu, dari kemudi dia hanya bisa terus berdoa dan sesekali berteriak membangunkan istrinya agar tak kehilangan kesadarannya.
“Sayang, jangan tidur heeeyyy, jangan tidur, sebentar lagi kita akan melihat baby triplets kita, hiks,” teriak Dave berulang kali sampai tak sadar ia meneteskan air matanya sepanjang jalan menuju rumah sakit itu.
“Arrrggh … Mas sakit sekali,’ teriak Kiyara.
Citttt …
Mobil sudah sampai di depan lobby rumah sakit, Dave memarkirkan kendaraannya sembarangan di depan sana lalu berteriak sekuat yang dia bisa untuk memanggi perawat atau dokter jaga di sana. Sampai beberapa satpam pun ikut datang menghampirinya karena melihat keadaan Dave yang sangat kacau mereka memprediksi jika yang dibawa adalah pasien gawat.
__ADS_1
“Pecah ketuban, kembar multiple sepertinya, langsung hubungi dokter kandungan yang sedang berjaga, siapkan ruang observasi,” ucap salah seorang suster wanita dengan tegas dan cepat saat rekannya membawa tubuh Kiyara ke atas brangkar di bantu oleh Dave.
Suara roda-roda brangkar beradu nyaring dengan lantai rumah sakit yang berwarna putih itu, menambah kesan menengangkan bagi Dave yang sedang dalam keadaan tak baik-baik saja itu, sampai melupakan mobilnya yang mesinnya masih menyala di depan lobby.
“Bapak tunggu di sini, kami akan melakukan observasi pada pasien sembari menunggu datangnya dokter kandungan,” ucap salah satu suster sebelum akhirnya menutup pintu.
Dave, duduk di depan ruang obsevasi sambil terus merapalkan doa-doa sampai suara derap langkah kaki yang terdengar sangat cepat mengalihkan atensinya. “Dokter Risma? Alhamdulillah dokter yang sedang berjaga hari ini, tolong istri saya Dok,” ucap Dave dengan penuh syukur saat melihat dokter kandungan sang istri ada di sana.
“Pasti, saya akan membantu Nak Kiyara semampu saya, berdoalah,” ucap Dokter Risma sebelum masuk ke dalam ruangan.
Tak berselang lama Ayah dan Bunda mertuanya datang menghampirinya bebarengan dengan pintu ruangan yang terbuka dari dalam.
“Keluarga Nyonya Kiyara,” ucap Suster.
“Iya, Sus … bagaimana kondisi istri saya?” tanya Dave.
“Saya orang tua pasien, Sus, apa boleh saya ikut ke dalam?”
“Iya, silakan Pak, Bu.”
Pada akhirnya ketiga orang itu bisa masuk ke dalam untuk mendengarkan penjelasan dokter, ternyata kondisi Kiyara sudah sangat urgent, air ketubannya sudah tinggal sedikit, sehingga harus dilakukan tindakan operasi sesar secepatnya setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Dan tanpa ba-bi-bu lagi Dave langsung memberi persetujuan dan akan menemani proses kelahiran bayi tripletsnya, sementara kedua mertuanya ia mintai tolong untuk mengabari orang rumah, mengantar perlengkapan bayi serta membawakan gawai serta dompetnya di atas nakas dekat tempat tidur.
Ruang operasi sudah di siapkan, Kiyara sudah di bawa ke dalamnya di susul Dave yang baru saja selesai mensterilkan tubuhnya agar tak ada kuman yang ikut masuk, dengan baju, masker medis dan penutup kepala khusus akhirnya dia bisa menemani sang istri melahirkan di dalam ruang operasi tersebut.
“Sayang” ucap Dave, saat melihat istrinya sudah berbaring di atas meja operasi dan sudah berganti pakain pasien rumah sakit, tangannya terlentang di sisi kanan dan kiri sementara di tengah-tengah perutnya ada kain penghalang agar Kiyara tak melihat bagian perutnya yang di sayat nantinya.
“Mas,” lirih Kiyara sambil mencoba tetap memberikan senyuman pada suaminya itu.
Cup …
__ADS_1
Dave, mencium kening istrinya dan tanpa bisa di tahan air matanya malah semakin menetes deras apalagi saat dokter sudah melakukan tindakan pada perut istrinya itu.
“Sakit?” tanya Dave.
“Nggak, kerasa kok itu … kata Bu Dokter nanti setelah ini kalau biusnya udah ilang baru kerasa, Mas. Itu tadi kerasa waktu di beleknya tapi nggak sakit, gimana ya jelasinnya, he he he, nggak apa-apa kok ayo berdoa aja,” ucap Kiyara sembari terus menyunggingkan senyumnya ke arah sang suami.
Dave menurut, hanya diam sambil
berdoa dan menciumi seluruh wajah istrinya, begitu pun dengan Kiyara yang terus
merapalkan doa di dalam hatinya sampai tak terasa beberapa menit berlalu.
Oek … oek … oek …
“Bayi pertama laki-laki, lengkap sehat.”
“Alhamdulillah, Sayang … kita sudah jadi orang tua, sekarang hiks … terima kasih, sudah berjuang sejauh ini, terima kasih Sayang,” ucap Dave sambil menciumi wajah istrinya dengan syahdu dan lama.
Oek … oek … oek …
“Bayi kedua perempuan, lengkap dan sehat.”
“Alhamdulillah.”
Oek … oek … oek … oek …
Bayi ketiga suara tangisnya jauh lebih kencang lagi dari pada kedua Kakaknya, membuat Dave dan Kiyara saling pandang dan melemparkan senyuman bahagia, ketiga bayinya lahir dengan selamat.
“Spot Jantung banget nungguin istri lahiran,” ucap Dave sambil memegang dadanya dan beralih melihat bayi-bayi kecilnya.
__ADS_1