
Kiyara
Sekitar pukul 06.00 waktu Singapura, Kiyara sudah kembali ke apartemen dia sengaja kembali lebih dulu ke
Apartemen untuk menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan mereka bertiga. Rasanya ingin membahagiakan ibu mertuanya itu, memberi perlakuan khusus yang baik dan tentunya menjadi ladang amal baginya sebagai menantu juga sebagai istri, karena membahagiakan Mommy berarti membahagiakan Dave, juga sebagai suaminya.
Dia masuk ke dalam apartemen sembari menenteng beberapa kantung belanjaan yang sengaja di taruh di depan pintu apartemennya oleh teman-teman Dave, yang dulu mengelolah club tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi supermarket mini, menjual bahan makanan segar dan khusunya juga menjual bumbu jadi masakkan khas Indonesia serta beberapa bahan makanan khas Indonesia yang sulit di jumpai di negara singa tersebut, dan kesemuanya di kirim langsung dari Bandung dan beberapa kota di Indonesia, dengan menggandeng beberapa UMKM di kota-kota tersebut sehingga menjadi ladang pekerjaan halal bagi mereka semua.
“Lebih baik aku mengganti pakaianku dulu, sama masukkin baju kotor ke dalem mesin cuci sekalian nyuci baju gituh biar masaknya lebih enak dan leluasa,” ucapnya sembari menaruh belanjaannya di meja dapur lalu bergegas menuju kamarnya.
Baju daster bermotif batik bunga itu menjadi baju kebesarannya saat memasak, karena selain kainnya ringan kain daster yang dipakainya juga adem, sehingga nyaman digunakan untuk memasak, plus saat memakai daster dia selalu merasa lebih kurus karena dasternya kedodoran, hahaha dasar Kiyara.
“Masak apa dulu ya?” ucap Kiyara sembari memandangi kantung belanjaannya yang sudah lengkap, karena semalam dia meminta Dave untuk ngechat temannya supaya dikirimkan bahan makanan untuk memasak masakkan kesukaan Mommy dan Suami tercintanya itu.
“Ah, mending gini aja deh … bikin nasi uduk tanpa santan dulu aja, terus bersihin ikan dan ayam sekalian sama sayurannya, marinasi ikan sama ayam pakai jahe parut, bawang putih parut, garam, dan sedikit lada, terus baru deh bikin bumbu pais ikan mas kesukaan Mommy, ayam kecap kesukaan Mas Dave, sama buat tahu tempe bacem kayaknya enak, masak-masak ... terus seladanya ini di biarkan segar buat lalapan, sawi sendoknya aku tumis aja, udah beres semua baru bikin puding sama salad buah buat camilan nanti menjelang makan siang," celotehnya sembari memisah-misahkan bahan makanan yang dia taruh di atas meja, lalu dengan segera memakai celemek masaknya dan memulai semua aktifitas memasaknya.
Kiyara dengan telaten membersihkan ikan, ayam, dan sayuran … lalu menyimpan sayur di tempat yang berlubang kecil-kecil agar airnya luruh, sementara ikan dan ayam sudah masuk ke dalam kulkas untuk di marinasi setidaknya 30 menit, dengan lihai Kiyara langsung membuat bumbu-bumbu masakkan yang akan dia masak nantinya, mengupas bawang-bawang, mengiris cabai, bawang daun, menggeprek jahe, kencur, sereh dan mengolah bumbu-bumbu masakkan lainnya sedemikian rupa, lalu saat masih ada sisa waktu selagi menunggu marinasi dia segera mengiris tahu dan tempe untuk dijadikan baceman, and then … mengiris daun pisang yang sangat bersih dan tertutup plastik seolah daun pisang adalah hal luar biasa, berbeda halnya dengan di Indonesia kalau mau membuat pepes tinggal metik daun pisang di lahan pekarangan sendiri atau milik tetangga, di sini daun pisang dijual dengan harga yang patut diperhitungkan.
Untung saja kompor listrik di apartemenya memiliki 4 tungku, 3 tungku utama dan satu tungku kecil, sehingga dia tak perlu menunggu lama untuk memasak semua kompor bisa dia gunakan asal tangan dan pembagian waktu yang mumpuni semua bisa selesai dalam waktu sekejap.
“Ini nih, aku tumis bumbu ayam kecap dulu sebentar air masuk, mendidih, terus ayam masuk … diemin dulu, terus ngurus ikan mas masukkin ke daun pisang lipet sana-sini, kukus, cek ayam beres koreksi rasa, tumis sawi … beres deh,” gumam Kiyara sembari menumis bumbu ayam kecap.
__ADS_1
Dari dulu dia memang selalu melakukan apapun dengan terorganisir dan terencana, akibat ingin membuktikan pada semua orang bahwa memiliki badan yang gendut bukan berarti bisa di remehkan begitu saja, jadi sejak mengalami pembullyan dia mulai menata hidupnya, agar lebih baik lagi dan tentunya memiliki prestasi yang membanggakan sewaktu sekolah adalah salah satu pembuktiannya.
“Kalau dipikir-pikir, jadi perempuan harus serba cekatan dan serba bisa ya,” ucap Kiyara sembari mengangkat baju dari mesin cuci untuk ia jemur.
Kiyara kembali ke dapur lalu menaruh tangannya di pinggang. “Masakkan jadi, nyuci baju beres, tinggal bersih-bersih apartemen sekelumit ini, sekalian memasangkan sprei di kamar sebelah, mandi dan menunggu kedatangan suami serta Mommy tercinta, sip deh … ih, ini aku kok jadi ngebayangin kalau udah ada anak seru kali ya, manjamen waktu sama skill jadi Ibu-Ibu harus ditingkatin ini mah,” gumamnya sembari berjalan mengambil penyedot debu.
**
.
.
DAVE
“Mata Mommy masih sembab, Nak?” tanya sang Mommy, karena kebanyakkan menangis mata Ibunya itu menjadi sembab.
“Sudah mendingan kok, Mom … nggak apa, Kiyara pasti nggak akan tanya-tanya kalau nggak Mommy sendiri yang cerita, Mommy tahu sendirikan bagaimana sifat menantu kesayangan Mommy itu,” jawab Dave dan malah membuat Mommynya terkekeh.
“Ah, hampir saja Mommy lupa … iya anak itu kadang masih suka merasa tak enak hati jika ingin menanyakan sesuatu. Bahkan dia pernah malu-malu meminta … eh nggak jadi.”
Dave mengernyitkan dahinya, karena tiba-tiba Mommynya itu memutuskan ucapannya begitu saja. “Meminta? Meminta apa, Mom?” tanyanya penasaran.
__ADS_1
“Ah, anu nggak penting kok,” ucap Mommy.
“Mom, please … Kiyara minta apa sama Mommy?” tanya Dave, memelas malah kini tangannya sudah menangkup kedua tangan Mommynya. Memelas seperti anak kucing yang sudah lama tidak di beri susu induknya.
Dave, melihat sang Ibu menghembuskan napasnya … dia tahu jika Mommynya itu tak akan sampai hati tak menceritakan apa yang diminta Kiyara karena Mommynya itu sangat menyayanginya, terlebih itu kesalahan Mommynya juga karena keceplosan di depan dia, sehingga Dave mendesak Mommynya agar diberi tahu.
“Dia meminta potretmu waktu bayi,” ucap Mommy Dave.
“Eh, buat apa Mom?” tanya Dave heran, kenapa juga istrinya itu tak langsung meminta kepadanya saja atau mengambil langsung di foto album di ruang keluarga, pikirnya.
“Katanya, mau lihat wajah jelek kamu waktu bayi … takut anaknya mirip bule tengil ini,” goda Mommy Dave sembari mencubit gemas hidung mancung miliknya.
“Mommy, dilarang ngecein anaknya.”
“Hahahaha …”
***
.
.
__ADS_1
Gimana nih menurut para Ibu-ibu, Mbak-mbak, Teteh-teteh, Uni-uni, atau pokoknya peyempuan di luaran sana Kiyara udah cocok belum jadi Mamud? Komen ya di bawah … sama likenya ya Kakak-Kakak readers tersayang … Saranghyeo (Bener ga sih? Hehehe)