
Dafa dan Dave berada di depan ruang rawat Mommy, mereka termenung dengan pemikirannya masing-masing. Lalu suara derap langkah mengalihkan perhatian mereka, ada sahabat lama Kiyara yang datang dengan pakaian rapinya kemungkinan mereka ingin menghadiri pertunangan sahabatnya itu tapi malah berita duka mereka dapat.
Cakra, Timi, Edo, Fani dan anak balita yang berada di gendongan Fani, anaknya bersama Edo cinta masa kuliahnya.
“Bagaimana keadaan Tante?” tanya Cakra to the point, saat dirinya sudah berada di depan Dave dan Dafa.
“Alhamdulillah sudah sadar, sekarang lagi di suapi Kiyara, kalian kenapa menyusul ke sini? Itu bawa bayi juga, nggak masalah?” tanya Dave, sembari melirik sahabat tunangannya yang kini tengah bergantian berjabat tangan dengan Dafa.
“Tadi kita ke rumah Kiyara, tapi sepi mana pagernya di tutup lagi untung Bunda sama Ayah keburu dateng sama Mas Izam, terus di ceritain deh kalau Mommynya Kak Dave sakit, jadi kami langsung cus ke sini sekalian di titipi ini, mukenah buat Kiyara, sama beberapa baju buat Mommynya Kak Dave,” jawab Timi sembari memperlihatkan tas jinjing yang dia bawa.
“Dan, tenang aja Bro, aku ke rumah sakit sekalian mau periksa adiknya Hisyam, jadi insya Allah aman,” sambung Edo sembari membelai lembut perut datar istrinya, membuat yang lain memutarkan matanya malas, sedari dulu sudah hapal dengan tingkah Edo yang bucin sekali dengan Fani.
“Selamat ya, Do …” ucap Dafa.
__ADS_1
“Duduk, dulu di sini … kasih Kiyara sama Mommy waktu buat ngobrol, biar Mommy sedikit rileks, Kakak udah chat Kiyara, kalau sekiranya Mommy udah tenang nanti kita masuk bareng-bareng, soalnya Mommy masih sedikit merasa bersalah sama Dave,” sambung Dafa sembari mempersilakan sahabat adiknya untuk duduk di luar ruangan
terlebih dahulu.
“Iya, Kak.”
Mereka semua kompak duduk di sisi bangku yang masih kosong, paham dengan kondisi yang ada karena mereka juga sudah mendapat cerita dari orang tua Kiyara secara garis besarnya.
“Tadi baru tukar cincin, tapi kalau maunya nggak sampai lebih dari 3 bulan Kakak udah nikahin Kiyara biar nggak terlalu lama dari acaraa lamaran, pun Mommy sangat ingin Kiyara menjadi menantunya dalam waktu dekat ini, dan kalau bisa Kakak minta tolong sama kalian untuk support Kiyara soal pernikahan kami nanti, tolong bantu semampu kalian, soalnya pasti kami bakal sibuk dengan pangobatan Mommy yang di samping itu juga menginginkan acara pernikahan Kakak bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini,” jawab Dave.
Mereka mengangguk mengerti, semua orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya meski dalam keadaan apapun itu dan seperti itu jugalah Mommy Dave, yang merasa jika Dave sudah menikah dengan Kiyara itu berarti kesedihannya akan sedikit berkurang dan hatinya akan tenang, senang, melihat anak satu-satunya sudah memiliki istri yang tepat.
“Siap, Kak kami janji akan bantu Kakak dan Kiyara semampu kami, kita juga tahu kok konsep pernikahan impian Kiyara, jadi Kakak tenang aja, kenyamanan dan kebahagian Mommy dan Kiyara adalah prioritas kami nanti di acara pernikahan kalian,” jawab Fani dengan antusias, karena selama ini dia paling tahu di antara ke tiga sahabat Kiyara lainnya jika Kiyara menganggumi sosok Dave sedari dulu serta pernikahan impiannya yang sedari dulu selalu Kiyara ceritakan padanya.
__ADS_1
“Tenang aja, Bro kita semua akan mengawal kalian sampai sah,” ucap Edo.
Dafa, tersenyum melihat sahabat-sahabat Kiyara yang ternyata juga sudah akrab dengan Dave, jika itu Cakra mungkin Dafa tak akan seaneh ini tapi ini semua sahabat Kiyara sudah se-akrab ini dengan Dave, yang notabennya belum pernah mereka jumpai lebih dari 2x karena kesibukkan masing-masing sahabat Kiyara ini di perantauan mereka di luar Bandung. Dan perhatiannya buyar saat gawainya terasa bergetar di saku celanaya.
~~
From: Adikku
Kak, silakan masuk Mommy sudahlebih tenang
~~
“Ayo, kita masuk ke dalam,” ajak Dafa.
__ADS_1