Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Semenjak Ada Dirimu


__ADS_3

~Bolehkan wanita gendut sepertiku ini mengharap seorang pangeran datang dan menawarkan segala kebahagian yang tiada duanya untuk masa yang akan datang?~ Kiyara Mentari.


Tak Pernah ku duga semuanya berubah


Saat kau memandangku bergetar hati ini


Kau berikan harapan tentang


Oh … warna warni hariku


Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya


Semenjak kau ada disini ku mampu melupakannya


Kini aku tak sabar ingin hati kau untukku


Katakanlah kepadaku janji indah yang kutunggu


Semua kini tlah bersinar lagi takkan ku ingat dia


Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya


Semenjak kau ada disini ku mampu melupakannya


Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya


Semenjak kau ada disini tak ingin melepaskanmu


Where are you when I needed you

__ADS_1


Now that I have found someone new


Kau berikan harapan tentang warna-warni hariku


Warna-warni hariku


Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya


Semenjak kau ada disini ku mampu melupakannya


Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya


Semenjak kau ada disini tak ingin melepaskanmu


Na-na-nanana-nananan-na-nanananana-….


Suara alunan musik terdengar menemani perjalanan Kiyara dan Dave petang ini, sesuai janjinya Dave kembali menjemput Kiyara di kampus dan kini mereka di dalam mobil yang sedang melaju membelah jalanan menuju rumah mereka yang berhadapan.


“Kamu kenapa, geleng-geleng kepala kayak gituh?” tanya Dave.


“Eh, nggak kenapa-napa kok Kak.”


“Nanti kalau keburu adzan di jalan, kita ngga usah nyari masjid ya Ki, salat di rumah aja baju Kakak kotor.”


Kiyara menganggukkan kepalanya. “Hem … boleh.”


“Ini kayaknya udah mau masuk waktunya adzan, mending audionya di matiin dulu Kaka tau stel radio aja nanti kan ada jeda buat adzan dulu biasanya.”


Dave, menganggukkan kepalanya, memilih mematikan audionya lalu mematikan ac dan membuka jendela mobilnya. “Nggak apa ya, gini?” tanya Dave.

__ADS_1


“Enggak apa-apa Kak, lengang ini … nggak terlalu banyak polusinya hehehe.”


Adzan maghrib sudah berkumandang, saat Kiyara dan Dave masih dalam perjalanan. Untung saja jalanan saat ini lumayan lengang, sehingga tak membutuhkan waktu lama agar bisa sampai rumah dan masih kebagian waktu salat, bukan berniat menunda salat hanya saja merasa tak layak menghadap Sang Pencipta dengan keadaan badan yang belum mandi lagi sejak tadi pagi dan baju yang serasa sudah bau dan kotor karena kegiatan padat hari ini.


“Ke rumah, Kakak aja. Kayaknya di rumah kamu nggak ada orang lagi,” tawar Dave yang melihat rumah Kiyara gelap.


“Nggak apa aku pulang ke rumah aja, Kak. Aku bawa ini …,” ucap KIyara sembari menunjukkan kunci rumahnya.


“Owh, ya sudah sana masuk. Nanti kalau ngga ada makanan apapun ke rumah aja isi tenaganya, jangan sungkan.”


“Siap, Kak … terima kasih banyak ya sudah mau direpotkan.”


Dave, tersenyum. “Enggak ada yang direpotin,” jawabnya.


“Assalamu’alaikum …,” ucap Kiyara sembari turun dari mobil Dave.


“Wa’alaikumsalam.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ... semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah S.W.T ... aamiin ...


__ADS_2