
KIYARA POV
Gedung megah dengan dekorasi serba warna putih dan gold, menghiasi acara pernikahan Cakra dan sepupuku Shakira. Aku sangat senang mereka bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan, Cakra yang aku kenal baik, bertanggung jawab, dan tentu saja sangat cocok bila disandingkan dengan Shakira, sepupu kecilku yang kini sudah dewasa dan akan memulai kehidupan barunya bersama Cakra.
“Maaf ya, dulu kita bahkan tidak sempat melakukan resepsi seperti ini.”
Aku membalikkan tubuhku ketika suara yang berbisik dari arah belakang, ternyata suamiku. Selalu begini jika menghadiri nikahan saudara yang mengadakan resepsi megah, meminta maaf dan meminta maaf atas masa lalu yang sudah jauh terlewati.
“Aku tidak menginginkan seperti ini, Mas. Sudah lewat masanya, yang terpenting pernikahan kita langgeng, anak-anak kita jadi anak-anak yang baik budi pekerti, paham prioritas dunia-akhirat, dan selalu menjadi kebanggan kita sampai kapan pun itu, sudah lebih dari cukup untukku,” jawabku sambil mengusap punggung tangannya yang melingkar di pinggangku.
“Terima kasih, sudah selalu menerimaku apa adanya. Terima kasih sudah melahirkan, putra-putri yang menggemaskan seperti mereka, dan terima kasih selalu ada di sisiku dalam keadaan apapun aku,” ucapnya.
“Sama-sama, aku juga berterima kasih banyak atas segala yang sudah Mas lakukan untukku dan anak-anak,” kataku dengan tulus.
Puk … puk …
Pukulan kecil terasa di pahaku, dan saat aku menundukkan pandanganku ternyata gadis kecilku tengah mengerucutkan bibirnya padaku.
“Ini, Papa Syta, Mama ndak boleh deket-deket.”
“Eh, nih anak meni posesif pisan sama Bapaknya,” ucapku sambil menoel pelan hidung mancung anakku, sementara Mas Dave hanya terkekeh pelan di belakangku.
“Bialin wleeekk … Abang sama Adek jugakan posesif sama Mama, jadi Kakak posesif sama Papa,” balasnya, aduh meni gaya ngomong posesif udah kayak tahu artinya aja ini bocilku.
“Iya deh … iya,” jawabku.
“Abang sama Adek, dimana Kak?” tanya Mas Dave sambil mengangkat tubuh mungil Syta ke dalam gendongannya.
__ADS_1
“Lagi sama Kakek dan Nenek, di sana,” jawabnya sambil menunjuk salah satu meja khusus keluarga, dan ternyata di sana juga ada salah satu sahabatku yang datang.
“Mas ke sana yuk, itu ada Kak Tama sama Tiwi bawa anak mereka itu kayaknya,” ucapku mengajak suamiku menuju meja yang tadi ditunjuk Nasyta.
Dari jauh saja, Tiwi sudah melambaikan tangannya heboh … untung saja tamu undangan tinggal sedikit karena acara sudah akan selesai dalam dua jam yang akan datang menyisakan keluarga dari dua mempelai saja.
“Hai, Kiyara lama sekali aku nggak ketemu kamu,” ucap Tiwi sambil memelukku erat dan di gerakkannya ke kanan dan ke kiri.
“Hei, ingat sudah punya anak,” ucap Kak Tama yang berdiri di belakang istrinya itu.
“Iya-iya, aku hanya meluapkan rasa rinduku pada sahabatku ini, ayo Ki aku kenalkan sama bidadari kecilku,” ucapnya sambil menarik tanganku menuju Bunda.
“Nih, lihat Nayra sudah besar Tante Kiyara … dan ingat nggak, dari bayinya dulu selalu nempel sama Bunda Alana kalau lagi ketemu, sama kayak sekarang, padahal aku kira dia bakalan pangling sama Bunda dan nggak mau di gendong Bunda, eh ternyata aku salah dong hi hi hi,” ucapnya sambil mencubit gemas pipi anaknya.
“Iya, nih Nayra nemplok banget sih sama Nenek. Sini mau nggak di gendong Tante Kiyara?” ucapku sambil menoel-noel gemas pipi tembamnya, Nayra ini usianya baru mau 3 tahun sering ke rumah juga kalau weekend, paling deket sama Narendra meskipun anak sulungku itu selalu mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Tapi entah kenapa Nayra selalu suka deket-deket sama anak sulungku itu.
“Dedek Nayra, itu Abang Rendra bawa apa tuh, ayo ke sana yuk,” ajakku sambil menunjuk anak-anakku bersama Papanya sedang mengambil snack tradisional yang disiapkan sebagai suguhan.
“Mau ndong Tante, Kiyala,” lirihnya sambil merentangkan tangannya ke arahku, tuh kan jurusku ampuh ha ha ha, dan langsung saja dia ku bawa menuju meja hidangan setelah mendapat persetujuan dari Ayah dan Bundanya Nayra.
“Abaaaangggg … atu tok ditindal ? ndak diajak ambil matatanan?” rajuk Nayra pada anak sulungku.
“Kamu mau?” bukannya menjawab pertanyaan gadis kecil yang sedang berada di gendonganku, Rendra malah menyodorkan puding buah pada Nayra dan dijawab dengan anggukkan kepalanya, sungguh menggemaskan.
“Nak, atu mau Bang, tuapi ya tama Abang,” pinta gadis yang berada di gendonganku ini dan malah membuat Rendra menghela napasnya panjang.
“Iya, kamu duduk di sana, kasihan Mama aku kebelatan gendong kamu, tulun!” astaga, besarnya akan seperti apa anak sulungku ini kecilnya saja sudah sangat tegas.
__ADS_1
“Iya, Tante atu tulunin syini,” ucap Nayra, membuatku tersenyum dan langsung mencium pipi gembulnya sebelum menurunkan gadis kecil ini.
Hap …
Tangan kecil yang penuh dengan geretan itu langsung memegang erat tangan putra sulungku, ha ha ha … rasanya ingin tertawa keras saat melihat wajah datar anakku tiba-tiba memerah menahan kesal, tapi tak bisa meluapkannya pada gadis imut yang berdiri di sampngnya itu.
“Ayo, Bang tesana,” ucap Nayra.
“Hem, Mama aku ke sana dulu ya ke Nenek sama Kakek,” pamit Rendra padaku, aku menganggukkan kepalaku tanpa berniat mengantarnya karena memang acara sudah semakin sepi hanya ada keluarga besar di sini dan dilihat dari sini pun insyaAllah keduanya akan baik-baik saja tanpa diantar.
“Anak kita sudah diincar gadis kecil sepertinya, Yang.”
Aku membalikkan tubuhku saat bisikkan lembut terdengar di telingaku. “Hem, sepertinya Mas … lucu sekali tapi melihatnya seperti itu,” jawabku.
“Iya, emh kamu mau ambil sesuatu? Aku dan anak-anak sudah selesai,” ucap Mas Dave padaku dan aku hanya menggeleng karena memang niatku ke sini tadi mengantar Nayra.
“Ya sudah ayo kita ke sana lagi, oh iya kata Tama tadi, mereka akan pindah di samping rumah kita beberapa bulan lagi setelah rumah itu selesai di renovasi,” ucap Mas Dave sambil menggandeng tanganku, sementara di lengan satunya menggendong Syta yang kini sedang merebahkan kepalanya di atas pundak Papanya, sementara Lendra berjalan di sampingku sembari menggandeng tanganku juga.
“Wah, senang sekali kalau mereka pindah di samping rumah kita, anak-anak jadi punya temen main lagi Mas selain Kakaknya sama Teteh kecilnya,” jawabku.
“Ya, semoga saja menyenangkan. Aku cuman takut Tama masih menyimpan rasa sama kamu, jadi nanti jangan sering-sering keluar rumah tanpa aku,” katanya sambil terus menantapku.
“Eh, naha jadi cemburu begini? Nggak bakal atuh dia suka sama aku lagi, dia udah punya buntut aku juga udah punya buntut 3 malah, nggak akan berani dia macem-macem, orang suami aku kayak macan begini mau dia di cakar sama macan? Hi hi hi,” jawabku sambil menggoda Mas Dave.
“Kamu mah, malah becandain aku begini. Aku serius ini, jangan pernah keluar rumah kalau nggak sama aku,” ucapnya tegas.
“Iya, Masku Sayang …”
__ADS_1