
~Dari sekian tahun tumbuh menjadi gadis remaja lalu sekarang menjadi perempuan dewasa, kenapa rasa ini begitu asing. Mengagumi seseorang dari kaum adam selain Ayah dan Kakak~ Kiyara Mentari.
.
.
Perjalanan menyebrang rumah, serasa sangat lamban bagi Kiyara … seolah dunia hanya berputar di tempat, antara dia dan Dave, laki-laki bulenya. Laki-laki jangkung, berkulit putih, yang dulunya adalah sosok remaja tanggung dengan segudang kenakalannya, kini sudah menjelma menjadi pria dewasa yang sangat menjajikan untuk dijadikan imam, tampak dewasa, rajin salat, pekerja keras, sayang Mommynya, dan jangan lupa wajahnya yang kini tampak lebih kalem dan pendiam.
“Kak Dafa, kenapa ke rumahnya Kakak? Kok nggak pulang ke rumahnya sendiri dulu buat bebersih badan?” tanya Kiyara memecah keheningan.
“Tadi di telepon Bunda, di suruh ke rumah pas makan malam. Eh malah, nggak lama dari kita pulang Kakak kamu udah muncul di depan pintu.”
Kiyara, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar, Kak Dafa … aneh-aneh aja kelakuannya, gituh gimana kalau udah punya istri. Terus mandinya gimana dia, Kak?”
“Udah mandi di kamar aku tadi, pakai kaos aku juga malah,” jawab Dave sambil terkekeh kecil.
“Tuh, kan pasti ngerepotin Kak Dave tadi di rumah.”
“Enggak, santai aja. Usia Bang Dave berapa sih tahun ini?” tanya Dave.
“27 Tahun, Kak. Udah waktunya nikah nggak sih kalau cowok usia segitu?” tanyanya.
“Udah sih, tapi nggak se-urgent cewek kalau udah masuk usia yang sama. Soalnya kan cowok musti udah bener-bener siap dari segala halnya, cewek juga sih cuman dalam segi tanggung jawabkan beda. Kalau cewek mau nikah musti siap mengurus suami dan anak dalam segala hal, cowok juga musti siap menafkahi dan membimbing keluarganya agar tetap di jalan yang benar, tanggung jawabnya gede. Jadi usia se Bang Dafa, belum telat-telat banget.”
Kiyara mengerjab takjub. “Jujur aku kadang masih nggak nyangka, kalau Kakak itu Kak Dave si bule tengil yang selalu ngatain aku waktu SMA. Auranya kerasa beda, ngomongnya sekarang lebih berbobot.”
Tangan Dave, terjulur ke arah dahi Kiyara lalu mendorongnya pelan. “Eh, kalau ngomong suka ngasal. Dari dulu juga, kalau ngomong aku mah berbobot terus kali.”
__ADS_1
“Tuh kan beda, sekarang aku-kamu kalau ngobrol teh, biasanya ge lu-gue.”
“Banyak hal yang sudah terjadi, dan mengubah Dave berandal jadi Dave yang sekarang. Semua orang pasti akan berubah, hanya saja entah itu lebih condong ke kebaikan atau keburukkan.”
“Tuhhhh … keren sekarang, pikirannya luas, pemilahan katanya juga enggak nyakitin orang sekarang kalau ngomong.”
Dave, mencubit gemas hidung mancung Kiyara. “Kamu juga beda banget, lebih ekspresif sekarang.”
“Ish, jangan pegang-pegang ngga boleh, bukan muhrim.”
“Eh, iya lupa,” ucap Dave sembari mendorong pagar rumahnya.
"Emh, kalau kamu usia kamu sekarang berapa Ki?"
"Bulan dua kemarin 20 tahun."
"SMP aku masuk kelas akselerasi, jadi lebih cepet setahun dari temen seumuranku."
"Bagus, deh jadi kita selisih dua tahunan nggak sebaya-baya banget."
"Emang kalau sebaya, kenapa Kak?" tanya Kiyara heran.
“Eh ... nggak apa-apa. Masuk dulu sana, aku mau kunci pager dulu.”
**
Suasana rumah Dave, ramai seketika, ah … siapa lagi jika bukan karena ulah Dafa yang dibantu Dave sedang menggoda Kiyara habis-habisan. Sedangkan Bunda dan Mommy, hanya mengamati dan memandang haru ketiga anak yang sudah beranjak dewasa itu. Bunda yang merasa bersyukur sekali karena kedua anaknya tak jadi berpisah dan Mommy yang bahagia melihat anaknya kembali ceria karena memiliki teman yang
__ADS_1
tulus seperti kakak beradik tetangga barunya itu.
“Seneng ya Teh, lihat anak-anak kayak gini. Rame juga …,” ucap Mommy.
“Iya, bener … aduh apalagi kalau udah punya cucu, makin rame pastinya.”
“Dafa, suruh nikah atuh Teh usianya juga udah mateng kayaknya, mapan juga … pengusaha muda mojang Bandung.”
“Hahaha… iya udah masuk waktunya tapi belum pernah ngenalin cewek ke Ayah-Bundanya.”
“Bundaaaa … Kakak, Bund,” teriak Kiyara yang kini terlihat berlarian ke arah Bunda dan Mommynya yang sedang bersantai di depan tv.
Dug… .
“Aduh … Ka…kakkk …”
.
.
.
.
.
Aduh Kiyara kamu kenapa sih?
__ADS_1
Bersambung