
AUTHOR POV
Mendapati suaminya yang di papah oleh karyawan laki-laki dan kakaknya masuk ke dalam ruangan membuat Kiyara panik seketika, apalagi wajah pucat suaminya itu, seperti hampir pingsan saja. Dadanya bergemuruh,begitu khawatir dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Tapi semua perlahan menghilang saat lengan kekar suaminya itu merengkuh tubuhnya lalu menyandarkan kepala di bahu yang tertutup kerudung itu, sembari berkata jika badannya kembali lemas.
Kiyara lebih memilih untuk menuntun suaminya menuju sofa yang berada di ruangan itu untuk merebahkan suaminya, meninggalkan sang kakak yang masih berbicara dengan karyawan suaminya. Tapi tak lama berselang Kakakknya berbicara setengah berteriak padanya dan juga Dave.
“Astaghfirullah, adik ipar lucknut, bisa-bisanya malah manja-manjaan sama istrinya gitu.”
Kiyara hanya tersenyum, lalu mengusap kepala suaminya agar bisa lebih rileks. “Maaf, Kak … Mas Dave aslinya memang kurang enak badan sedari pagi, jadi biarin begini sebentar ya,” ucap Kiyara.
“No … no … no … ayo kita bawa ke rumah sakit aja,” ujar Dafa sembari berjalan mendekat ke arah keduanya.
“Kalau di biarkan bisa nggak sembuh-sembuh, nanti pekerjaan dia malah terbengkalai nggak karuan,” sambung Dafa.
“Tapi obatku cuman Istri aku, Bang … bukan dokter,” jawab Dave tanpa mengubah posisi berbaringnya.
“Jangan bandel napa, Dave … mending di periksain aja dari pada ada apa-apa nanti, berabe jadinya,” kata Dafa, sembari mengambil botol minuman Kiyara dan meminum sisanya.
“Ish, Kakak doain suamiku kalau begitu mah, jangan aneh-aneh ah ngomongnya, berabe-berabe segala. Tapi Yang, ayolah ke rumah sakit aja aku takut, kamu pucet banget loh.”
“Emh, serah kalian deh,” kata Dafa.
“Oh, iya … Dave, Abang mau ngambil berkas yang kemarin, udah beres belum?” tanya Dafa dan membuat adik iparnya itu langsung bangun dari posisi rebahannya.
“Sebentar-sebentar, aku cari berkasnya dulu tadi pagi sempet aku cek lagi tapi lupa aku bawa ke ruang rapat apa di sini,” kata Dave dan langsung berjalan menuju meja kerjanya.
Dugh …
Brugh …
“Aaaa, Mas Dave …” teriak Kiyara saat melihat tubuh suaminya limbung, sementara Dafa hanya bisa menarik napasnya dalam.
“Tuh kan, apa kata aku juga, ke rumah sakit … ke rumah sakit … nggak mau denger sih,” ujar Dafa sembari berdiri dari duduknya dan berjalan menuju adik iparnya yang tengah pingsang dengan posisi tengkurap, entah bagaimana kondisi hidung mancungnya yang mencium lantai kantor yang keras itu.
“Kak, ayo angkat Kak …” ucap Kiyara dengan paniknya.
__ADS_1
“Ish, kamu kira Kakakmu ini pe- Sumo bisa kuat ngangkat badan segede ini, panggil staff suami kamu yang badannya keker suruh bantu bawa ke parkiran, kita ke rumah sakit saja di kantor suami kamu kayaknya kliniknya belum beroperasi,” kata Dafa dan langsung diangguki oleh Kiyara.
Klek …
Belum sempat Kiyara membuka pintu, pintu sudah terbuka dari arah luar, memperlihatkan dua orang pria yang sudah di kenal Kiyara, asisten pribadi suaminya dan juga salah satu orang kepercayaan Dave selama ini.
“Kak Indra, Pak Surya, tolong suami saya …!” teriak Kiyara.
“Apasih teriak-teriak, lu pikir ini hutan?” ketus Arin yang berdiri di belakang dua orang pria itu, tapi Kiyara sama sekali tak menggubrisnya dan malah langsung menutup pintu ruangan suaminya setelah kedua pria itu masuk ke dalam ruangan, membuat Arin mincak-mincak tak karuan di depan pintu.
Tiga orang pria itu mengangkat tubuh Dave dengan bersusah payah, karena perawakan bule memang lebih besar daripada badan orang Indonesia, untung saja Dafa dan Indra memiliki tubuh tinggi dan juga badan besar hasil gym sehingga tetap bisa membawa tubuh Dave, meski Pak Surya tampak kepayahan. Sementara Kiyara, wanita itu berjalan cepat di depan sembari membawa tasnya sendiri dan tas kerja Kakaknya, sementara milik suaminya ia tinggalkan di dalam ruang kerja suaminya.
Di perjalanan Kiyara tampak gusar, ini adalah kali kedua melihat Dave, pingsan di hadapannya dan baik sekarang atau dulu dia tetap panik tak karuan sembari merapalkan doa keselamatan bagi suaminya itu. Sama seperti dulu di mobil hanya ada mereka bertiga, Kiyara, Dave, dan Dafa.
“Jangan panik atuh Dek, insyaAllah nggak apa-apa itu suami kamu, coba itu dilonggarkan dasinya,” ucap Dafa yang kini tengah memfokuskan kemudi, panik boleh tapi tetep kudu konsen kalau di jalan mah.
“Iya, Kak.”
Dengan sigap Kiyara langsung melonggarkan dasi suaminya, membuka dua kancing paling atas agar tak merasa sesak, lalu ia juga kembali membalurkan kayu putih di dada suaminya dan menaruh satu jarinya di dekat hidung mancung suaminya itu.
“Alhamdulillah, tuh kan … sadar juga,” ucap Dafa merasa lega.
“Alhamdulillah …” ucap Kiyara sembari langsung menghujani wajah suaminya dengan ciuman kasih sayang.
“Masih pusing atau apa yang di rasa Mas?” tanya Kiyara.
“Mual, bau kayu putih,” jawab Dave lirih.
“Apa? Mual gegara kayu putih?” kaget Dafa.
“Emh,” dehem Dave.
“Aduh, maaf Mas … padahal sebelumnya kamu biasa aja sama kayu putih, ikut makek juga nggak apa-apa ini kenapa jadi mual,” panik Kiyara saat muka suaminya memerah menahan gejolak dar perutnya lagi.
“Kakak, minggirin dulu mobilnya ini Mas Dave mau muntah,” sambung Kiyara dengan wajah semakin paniknya.
__ADS_1
Cit …
Dengan sigap Kiyara langsung membantu suaminya untuk bangun, dan sedikit menjauh dari mobil untuk memuntahkah isi perutnya.
Huwek … huwek …
“Curiga gue,” gumam Dafa sembari melihat tingkah adik dan adik iparnya.
“Udahlah, sana dulu kalau bener dugaan gue, kasihan Kiyara musti mapah badan segeda itu sendirian,” sambungnya sembari melangkahkan kakinya menemui adiknya.
5 menit setelahnya, mobil mereka kembali melaju di jalanan Kota Bandung, tapi kini menuju rumah Dave dan Kiyara sebab, lelaki blasteran itu menolak untuk di bawa ke rumah sakit, tapi tiba-tiba saat masih di tengah perjalanan Kakaknya itu menghentikan mobil di depan rumah sakit dan langsung turun begitu saja.
“Kakak, kamu kenapa sih malah berhenti di sini, aku udah nggak kuat nahan bau kayu putih ini,” gumam Dave di ceruk leher istrinya, karena dengan posisi seperti ini aroma kayu putih itu sedikit tersamarkan oleh aroma parfum istrinya.
“Nggak, tahu Mas … mungkin mau beliin Mas obat,” jawab Kiyara.
“Ih, dibilangin obat aku itu kamu,” gerutu Dave.
“Udah-udah, itu Kakak udah balik tuh bawa tentengan kresek.”
“Emh …”
Suara deru kendaraan kini terdengar kembali, setelah menaruh kantung kresek di kursi sebelahnya, Dafa kembali melajukan kendaraannya menuju rumah adik iparnya itu.
“Beli, apa Kak?” tanya Kiyara.
“Itu beli test pack, buat kamu nanti di coba ya … Kakak beli banyak biar kamu yakin nantinya,” jelas Dafa sembari tak mengalihkan perhatiannya dari jalanan di depannya.
“Haaa … ? kenapa aku harus make test pack?” tanya Kiyara.
“Kakak, curiga kamu isi ...”
Dave, mengembangkan senyumnya di balik ceruk leher istrinya … memeluk wanita yang berstatus sebagai istrinya itu dengan sangat erat, sembari mengaamiinkan praduga Kakak Iparnya itu.
“Semoga, ya Nak … kamu memang sudah ada di perut Mamamu,” gumam Dave dalam hati.
__ADS_1