Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Shock Terapi I


__ADS_3

AUTHOR POV


.


.


Perhatian karyawan kantor teralihkan pada dua sosok insan manusia yang baru saja menginjakkan kakinya di atas lantai gedung perkantoran. Ada yang memandang kagum pada sosok lelaki yang terlihat berkharisma itu, lelaki tinggi, berkulit putih, dan berbola mata biru, membuat para karyawannya selalu takjub dengan ketampanan bos mereka apalagi tak banyak yang tahu jika lelaki berusia 25 tahun itu sudah menikah.


“Aw, bos gue tambah hari tambah ganteng aja, wajahnya itu loh … bikin pengen gue ciumm aja dah, terus tuh badannya bagus banget pelukeble banget, uhhh, otak gue makin ngeres jadinya,” ucap salah satu resepsionis yang melihat kedatangan bosnya itu.


“Eh, tapi itu siapa cewek gendut yang sama bos, cantik sih tapi badannya nggak banget.”


“Adeknya kali, atau tetangganya, nggak mungkinkan pacarnya, secara bos bule kita kn gantengnya kelewatan tuh.”


“Tau deh, yuk kerja lagi ntar denger kita ngegosip malah berabe.”


Sementara itu Dave dan Kiyara sudah masuk ke dalam lift, yang khusus digunakan oleh petinggi-petinggi perusahaan dan juga para tamu penting.


“Mas, tadi kayaknya mereka pada ngegosipin kita deh,” ucap Kiyara.


“Udah biarin aja, seperti yang aku bilang nanti pokoknya kamu harus ikut rapat sama karyawanku dulu, aku mau ngenalin kamu sama karyawanku biar mereka tahu kalau bosnya ini sudah punya buntut, nggak boleh diganggu-ganggu,” jawab Dave sembari memeluk mesra istrinya.

__ADS_1


“Iya, Mas … aku juga mau ketemu sama karyawan kamu siapa tahu ada yang aku kenal,” kata Kiyara dan diangguki oleh Dave.


Ting …


Lift terbuka di lantai yang di tuju pasangan suami istri tersebut, menapakkan kaki menuju ruangan sang suami Kiyara bergelayut manja di lengan kekar suaminya yang sudah tampak berenergi tak selemas seperti tadi pagi saat di rumah.


Kiyara, memandang ke kanan dan ke kiri melihat interior yang digunakan sang suami di kantor barunya, terlihat sangat rapi dan bagus di matanya. Lalu matanya terhenti di meja yang cukup besar di depan ruang kerja suaminya. “Kok kosong, Mas? Sekretaris kamu di mana?” tanyanya.


“Mungkin di ruang rapat, itu komputernya udah nyala, kemungkinan sudah datang,” jawab Dave.


“Udah biarin aja, ayo masuk ke ruangan aku dulu,” sambungnya lagi dan diangguki sang istri.


“Mas, mau minum dulu atau gimana? Udah keliatan nggak pucet sih, tapi gimana emang udah enakan kah perutnya?”


“Alhamdulillah, Mas.”


Dave, berkutat sebentar di meja kerjanya melihat beberapa email yang masuk lalu mengeceknya lagi sembari menunggu waktu rapat tiba, sementara Kiyara … wanita itu tengah sibuk menarik dan menghembuskan napas, mengumpulkan kepercayaan dirinya yang kadang-kadang suka pergi begitu saja.


“Yang, ayo ke ruang rapat,” ajak Dave sembari berdiri dari duduknya.


“Iya, Mas.”

__ADS_1


“Sini tangannya masukkin sini, kita gandengan,” ucap Dave sembari menyikukan tangannya dan di sambut senyuman manis oleh istinya itu.


“Bismillahirahmanirahim, PD … PD … PD …!” gumam Kiyara, membuat Dave menyunggingkan sedikit senyumnya.


Ceklek …


Pint tiba-tiba terbuka dari arah luar, melihatkan seorang wanita cantik dengan pakaian kerjanya yang tampak ketat serta jangan lupakan make up tebalnya.


“Eh, maaf Kak … emh maksud saya Pak Dave, rapat sudah siap Anda sudah di tunggu karyawan lain,” ucap wanita itu dengan pandangan berbinar saat menatap atasanyaa itu.


“Emh,” jawab Dave, membuat wanita yang berada di balik bahunya tersenyum cerah.


“Hi hi hi hi … ternyata Mas Dave dingin banget kalau ngobrol sama cewek, masih sama kayak dulu,” gumam Kiyara dalam hati.


“Sayang, ayo …” ucap Dave.


Wanita yang menyapa Dave tadi kaget bukan main ketika memfokuskan pandangannya, dan mendapati tangan perempuan yang merangkul bahu atasanya itu.


“Iya, ayo Mas.”


Deg …

__ADS_1


“Kiyara?”


__ADS_2