Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
13. You'r The Reason


__ADS_3

~Entah karena kamu adalah alasannya atau karena takdir yang menuntunku kepadamu~


.


.


.


Pagi yang cerah selepas hujan tadi malam menyambut hari yang akan dilalui setiap insan di Kota Bandung pagi itu. Aroma petrichor masih menguar memenuhi indera penciuman, tetesan embun di dedaunan masih terlihat segar memanjakan mata. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi Kiyara sudah sibuk dengan tanaman hidroponik di halaman depan rumahnya. Tangan gendutnya sibuk memindahkan rockwool yang sudah di tumbuhi sawi sendok ke dalam netpot, lalu


menaruhnya ke dalam pipa yang sudah di lubangi dan berisi air serta nutrisi AB mix di dalamnya.


Ekor matanya menangkap sosok pria yang sedari tadi sibuk memerhatikan dari atas,


lebih tepatnya di balkon sebelah kamarnya. Sengaja dia pura-pura tidak tahu, hatinya masih kesal bukan main dengan perbuatan Kakaknya yang menceritakan kehidupannya kepada orang yang entah siapa itu. “Maaf, Kak … aku masih kesel sama Kakak. Apapun itu alasannya, Kakak nggak ada hak buat ngasih tahu keadaanku pada siapapun itu, apalagi orang yang tidak aku ketahui,” lirihnya.


“Dek … ,” panggil Ayah Kiyara yang baru saja pulang dari jogging.


“Iya, Yah …”


“Ada yang udah bisa dipanen belum sayurnya?” tanya Pak Akbar, Ayah Kiyara.


“Ada, Yah. Selada sama bayam merah,  mau di


ambil sekarang?”


“Boleh, bayamnya nanti di tumis buat sarapan, seladanya buat nanti siang ya kita nyambel abis ini Ayah mau ke belakang mau mancing ikan dulu.”


Kiyara, menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Ayah, ini aneh-aneh aja. Mana ada


mancing, tinggal diambil pakai saringan ikan udah dapet banyak, kolam ikan Ayah kan banyak isinya.”


Ayah dan anak itu pun tertawa bersama, menenangkan hati pria yang berada di balkon.


“Syukurlah …,” ucap Dafa lirih.


“Ehem … Assalamu’alaikum Om, Ki,” ucap pria dari arah gerbang rumah Kiyara, terlihat


tangannya menenteng tas yang kemarin Kiyara kenakan.


Kiyara membolakan matanya lalu berjalan perlahan mendekat ke arah ayahnya.


“Wa’alaikumsalam.”

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekati Pak Akbar lalu meraih tangannya untuk disalimi. “ Saya, Tama Om temennya Bang Dafa.”


Pak Akbar yang melihat gelagat aneh dari putrinya, langsung paham bahwa putrinya


tidak nyaman dengan kehadiran pria yang sekarang berada di hadapannya ini. “Oh, iya … iya … ayo masuk, Dafa ada di kamarnya. Ki, kamu ambil sayurnya yang udah siap panen dulu ya, Ayah mau nganter Nak Tama dulu buat ketemu Kakakmu.”


Kiyara mengangguk, mengabaikan Tama yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Kenapa, dia tampak berbeda seperti ini saat di rumah. Terlihat menenangkan  dan menyejukkan hati,” monolog Tama dalam


hati, ketika melihat Kiyara hanya menggunakan piyama tidur berwarna abu muda yang tampak kedodoran serta kerudung bergo berbahan jersey berwarna senada, dan jangan lupa wajah putihnya yang tanpa bedak.


Kiyara masih sibuk memanen selada dan bayam merah seperti yang diminta Ayahnya,


mengabaikan tamu yang tiba-tiba datang sepagi ini. Pikirannya juga masih belum


baik-baik saja, mengingat kejadian semalam. “Apa, Lele Mata Biru itu Bang Tama? Tapi masak iya?” monolog Kiyara dalam hati.


“Nak, ayo bantu Bunda masak, Ayah kamu udah kelaparan tuh habis olahraga, minta numis


sayuran yang kamu tanem katanya, udah selesai metiknya?”


“Eh, iya Bun … ini udah selesai kok.” Kiyara mengangkat keranjang kecil yang sudah penuh dengan sayur bayam dan selada, lalu berjalan menghampiri Bundanya yang berdiri di dekat pintu.


“Iya, udah sana …,”


Kiyara berjalan dengan santai, sembari bersenandung kecil. Dia teramat senang,


hidroponiknya sudah setahun ini berjalan dengan lancar bahkan beberapa bulan


belakangan ini juga, dia berhasil menyuplai sayuran hidroponik untuk warga kompleks perumahannya. Keuntungannya juga lumayan, bisa digunakan untuk uang jajan dan keuntungan lainnya ya, seperti yang akan sekarang dia lakukan, memasaknya dan menyantapnya bersama keluarga tercintanya.


Deg … .


Mata Kiyara menyipit, ketika melihat dua sosok pria sedang duduk berhadapan di kursi santai dekat pintu samping rumahnya. “Kok Kak Dafa sama Bang Tama di sini sih,” lirihnya sembari menghentikan langkah kakinya, berniat memutar langkahnya.


“Woi, Le … sini … !” teriak Dafa ke arah Kiyara.


Bugh … .


Keranjang yang ia bawa jatuh, sedangkan dahinya menabrak sesuatu yang keras. “Lu, nggak apa-apa?”


Deg … .

__ADS_1


“Suara ini?” batin Kiyara, wajahnya masih menunduk ketika menyadari bahwa yang di tubruknya adalah manusia.


Pria di hadapannya berinisiatif untuk memungut keranjang sayur yang jatuh serta beberapa sayuran yang tercecer keluar keranjang. “Ini, lain kali hati-hati kalau jalan, jangan suka bengong.” Kiyara, tak menjawab hanya meraih kembali keranjang sayurnya lalu beranjak pergi dari tempat yang dia kira aman itu.


“Kamu kenapa?” tanya sang Ayah, yang kini tengah bersantai di depan televisi.


Kiyara menggeleng, lalu menyusut air matanya dengan lengan piyama yang dia kenakan. “Kiyara, ke dapur dulu Yah.”


Kiyara berjalan memasuki dapur, dari jauh dia sudah bisa melihat punggung wanita hebat


penuh pendirian tengah sibuk mengiris bawang untuk teman menumis bayam merah. Tanpa menunggu perintah lagi, Kiyara langsung mendekat ke arah keran air untuk mencuci sayuran yang dia bawa. “Bun, ini sayurannya udah Kiyara bersihin.”


“Iya, taruh di situ dulu aja airnya biar turun dulu.”


“Oke. Bun … Kiyara masuk ke dalam kamar dulu ya, mau mandi sama ganti baju dulu.


“Iya, udah sana mandi dulu, baru habis itu bantuin Bunda.”


Bunda Alana melihat kepergian anaknya dengan mata sendu, bukan tidak tahu dengan apa yang terjadi kemarin pada Kiyara, tapi dia diminta Dafa untuk pura-pura tidak tahu agar Kiyara tetap bersikap biasa tanpa merasa dikasihani, pun dengan rencana Dafa hari ini … mendatangkan orang-orang yang memiliki andil besar perubahan Kiyara.


“Semoga, kamu menemukan kebahagiaanmu, Nak. Mendapat teman, sahabat, pekerjaan, jodoh, dan lain sebagainya yang bisa menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Bunda


sayang, Ara … sayang sekali …,” monolog Bunda dalam hatinya.


“Assalamu’alaikum, Bun …,” ucap pria bermata biru.


“Wa’alaikumsalam, ada apa, Nak?” tanyanya lembut.


“Maafin, Dave ya Bun … sudah pergi tanpa kabar setelah apa yang dilakukan keluarga Bunda


untuk menolongku, merawatku di rumah sakit. Maaf juga, dulu waktu SMA suka bully anak Bunda.” Dave, pria itu menggenggam erat tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.


“Sudahlah, Nak … Bunda paham. Kalau urusan bully kamu minta maaf sendiri sama anaknya ya, jangan diulangi lagi. Kamu kok, makin bercahaya gini mukanya, tutur katanya lembut gini beda sama tiga tahun yang lalu?”


“Ini, karena anak Bunda, hehehe.”


Bunda Alana mengernyitkan dahinya. “Kenapa gara-gara anak Bunda?”


“Ya, karena anak Bunda, penyemangat perubahan Dave.”


Tanpa keduanya sadari, ada pria lain yang kini tengah mengepalkan tangannya erat di


balik dinding antara pintu samping dan dapur rumah Kiyara.

__ADS_1


__ADS_2