
AUTHOR POV
Suara sirine mobil polisi dan mobil ambulance saling bersahutan, beberapa korban kecelakaan beruntun itu sudah ada yang dievakuasi dan di bawa ke rumah sakit terdekat saat mobil yang dikendarai Dafa sudah merapat ke TKP.
“Astaghfirullahaladzim, kenapa separah ini Bang kecelakaannya aku nggak kuat, Bang, hiks …” tangis Dave pecah saat belum turun dari mobilnya, kakinya lemas seperti tak bertulang apalagi setelah melihat mobil kedua orang tuanya hancur mengenaskan.
“Itu, itu Uncle Jeff di evakuasi di bawa ke ambulance kayaknya Tante juga udah di bawa,” kita ikutin mereka aja, ucap Dafa dan kembali menarik sabuk pengamannya.
Keheningan menyelimuti kendaraan yang melaju cepat di belakang ambulan yang diyakini Dafa telah membawa mertua adiknya itu. Sampai di sana sungguh tak ada kata yang bisa menggambarkan hati keduanya dan hanya bisa mencoba tegar meminta orang rumah menyiapkan kepulangan jenazah yang sudah dalam keadaan tak baik-baik saja itu.
~
DAVE POV
Aku masih memandang kosong, tanah kuburan yang basah … bukan hanya satu tapi dua gundukkan sekaligus, terngiang juga diingatan saat semalam istriku menangis saat bangun dari mimpi buruknya, mungkin semesta sudah memberi petunjuk tapi sebagai manusia biasa kadang diri ini abai, dari saat pertemuan beberapa waktu terakhir sebetulnya semua mengarah pada hari ini tapi aku? Aku sama sekali tak pernah berpikir ke sana, terlalu jauh menurutku sedang mereka dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi, sekali lagi … aku abai. Aku lupa jika kematian tak harus dalam keadaan tua renta, sakit, miskin, atau dalam keadaan tak baik-baik saja. Semua orang akan kembali pada waktunya terlepas dari bagaimana keadaannya sekalipun. Tubuhku lemas sekali rasanya, saat melihat mobil kedua orang tuaku hancur, bahkan bukan hanya mobil kedua orang tuaku saja melainkan ada beberapa mobil dan motor lainnya juga di TKP, kata saksi mata ada sebuah truk yang remnya blong saat di dekat perlintasan kereta api, dan menabrak semua kendaraan yang sedang berhenti
karena tertutup palang kereta api di depannya, nahas bagi kedua orang tuaku yang berada di bagian paling depan harus terhantam kereta yang melaju cepat saat mobil-mobil debelakangnya melesak menabrakkan diri ke mobil Daddy.
“Aku jadi anak yatim piatu sekarang,” lirihku.
Bang Dafa, mengusap bahuku yang bergetar naik turun, dia yang menemaniku ke TKP pasti juga merasa terpukul dengan apa yang baru pagi tadi dia saksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, dia sudah mengenal baik kedua orang tuaku pasti juga merasakan kehilangan, terlebih melihat jasad kedua orang tuaku yang dikeluarkan dari mobil yang sudah hancur itu rasanya teramat sangat menyayat hati apalagi diriku sendiri rasanya kaki sudah melayang layang tak berpijak kuat di tanah.
“Sabar, sudah takdirnya seperti ini … ihklaskan, Dave tak baik menangisi orang yang sudah tiada sampai seperti ini,” ucap Bang Dafa dengan nada bergetar, dia tahu ini sangat berat bagiku.
“Aku masih tak menyangka Bang,” jawabku sambil melihat para pelayat yang sudah beranjak sedari tadi meninggalkanku dengan Bang Dafa di sini dan Ayah mertuaku yang duduk di mobil menemani istriku yang tak boleh ke sini oleh para orang tua, khawatir dengan kandungannya.
Berjalan dengan gontai menuju mobil Ayah mertuaku, di sana aku sudah bisa mendengar isak tangis itriku yang terdengar begitu pilu. Bagaimana tidak, ini semua terlalu mendadak bagi dia juga aku. Semua yang terjadi rasanya begitu singkat kurang dari kurun satu tahun semuanya sudah beranjak dari tempatnya masing-masing, rasanya baru kemarin ak upulang dari Singapura bersama istri dan kedua orang tuaku, baru kemarin juga pulang dari Jerman, bahkan baru beberapa hari yang lalu kami merayakan syukuran empat bulanan untuk triplets, tapi kini mereka telah tiada untuk selamanya, sebelum melihat wajah cucu-cucunya, sebelum mengucapkan selamat untukku nanti saat pertama kali mengadzani bayi-bayiku.
“Hiks … hiks … Mas,” lirih istriku sembari menggenggam erat tanganku yang masih menggantung karena aku masih berdiri di dekat pintu mobil, belum masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Aku tahu, selain aku dia pun merasa kehilangan yang teramat, selama ini dia sangat dekat dengan kedua orang tuaku terlebih Mommy, apalagi sejak jenazah kedua orang tuaku datang ke rumah sebelum di makamkan dia tak boleh mendekat barang sedikit pun, di temani Asti dan El dia tetap di dalam kamar kami begitu pun di makam dia tak boleh mendekat sampai prosesi pemakaman sudah selesai, badannya lemas dengan muka yang teramat sembab melebihiku.
Grep …
Tanpa aba-aba, aku langsung memeluknya mencurahkan segala apa yang aku rasa, sedih karena kehilangan, kecewa karena belum memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku, marah karena kenapa harus seperti ini, dan rasanya aku tak memilii pegangan lagi di dunia ini, meski pernah hidup sendiri tanpa keduanya selama beberapa tahun rasanya jauh berbeda tak akan ada lagi yang mengomeliku, menanyakan kabarku, dan lainnya yang biasa kedua orang tuaku itu lakukan, apalagi semenjak membaiknya hubungan kami belakangan ini.
Teringat juga Mommy sempat bilang padaku jika hidupnya kini jauh lebih tenang karena permasalahan masa lalu telah membaik, hubungan dengan orang tua Daddy sudah selesai, membuatnya jauh lebih tenang jika sesuatu terjadi padanya, tak akan merasa berdosa lagi katanya karena telah memisahkan anak dengan ayahnya, kakak dengan adiknya, meski itu bukan kemauannya dulu.
Kini aku tau, apa arti tenang yang dimaksud Mommy, terlebih cinta yang pernah terpisah itu kini sudah dibuktikan Daddy, membawanya ke tempat yang kekal di alam sana.
“Jangan sedih lagi ya Sayang, maaf tak mengizinkanmu untuk melihat Mommy dan Daddy untuk terakhir kalinya, tapi aku takut kamu nggak kuat saat melihat mereka, dan malah terjadi hal yang tidak diinginkan untuk calon anak kita,” ucapku lirih sembari memeluk tubuh istriku dengan erat.
Dia hanya terisak di dadaku tanpa berniat menjawab ucapanku, aku tahu dia terpukul dengan ini semua.
“Ayah, pindah ke sebelah aja biar Dafa yang nyetir.”
__ADS_1
“Hem …”
Mobil melaju pelan beriringan dengan rintik hujan yang turun dari pekatnya langit sore ini, seolah alam pun ikut berduka atas meninggalnya kedua orang tuaku, kedua orang yang tengah berusaha memperbaiki diri dan hubungannya dengan masa lalu. Semoga tenang di sana Mom, Dad, … meski berat Dave akan berusaha untuk tetap berjuang dan bertahan di dunia ini, demi membahagiakan kalian dengan doa-doa yang insya Allah akan selalu Dave panjatkan untuk kalian di sana, demi istri, ketiga anakku dan tentu saja orang-orang yang menyayangiku.