Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Limirin


__ADS_3

Gadis itu menatap intens wajahnya di depan cermin, jelas terlihat perubahan yang ia alami hampir 3 bulan belakangan ini, pipinya sudah tampak lebih terus dari 3 bulan lalu padahal ia hanya melakukan gerakkan kecil setiap harinya, tapi cukup menyusutkan berat badannya yang semula 87 jg menjadi 75 kg, meski masih dikategorikan gendut tapi dia sangat-sangat bersyukur bisa membuang sedikit lemak di tubuhnya itu.


Dia memakai lipstik untuk sentuhan terakhir make upnya hari ini, sedikit lebih berani menghias wajahnya karena hari ini adalah hari yang bisa dikatakan cukup istimewa baginya. Setelah satu bulan lalu mengiyakan permintaan Mommynya Dave, maka hari ini adalah realisasi dari permintaan Mommy saat itu.


Ceklek ...


"Sudah siap, Dek?" tanya Asti.


Kiyara, menolehkan kepalanya melihat Kakak iparnya berdiri di tengah pintu sembari tersenyum lebar, melihat adiknya sudah cantik dengan kebaya berwarna mocca senada dengan kerudungnya.


"MasyaAllah, cantik sekali," pujinya, karena sangat jarang melihat Kiyara berdandan seperti ini sehari-harinya.

__ADS_1


"Sudah, siap kok Teh. Jangan gitu ah, aku malu."


Asti, mendekat ... mengajak adiknya agar segera turun karena kedua keluarga sudah berkumpul di bawah. Kiyara, menganggukkan kepalanya lalu meraih tangan kakak iparnya itu.


Dia teramat deg-degan saat ini, ditambah lagi pikirannya yang sedang kacau, antara sedih dan senang yang bercampur menjadi satu. Senang, karena sebentar lagi akan memiliki hubungan yang lebih resmi dan jelas, sedih karena semalam ia bermimpi sangat buruk, ada keranda di depan rumahnya berbarengan dengan tanggalnya gigi graham miliknya yang terasa sakit bukan main.


Dia masih kalut dengan pikirannya sendiri, teringat ucapan orang tua dulu jika bermimpi giginya tanggal mungkin akan ada seseorang yang dikenal akan tiada. Ah, tapi ini hanya mitos semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.


"Jangan melamun, senyum," bisik Asti, pasalnya kini mereka sedang menuruni anak tangga dan di bawah sana sudah banyak keluarga yang menantinya.


Suara saling bisik sekilas terdengar di pendengarannya, banyak yang memuji dirinya yang kini sudah terlihat sedikit kurus dari sebelumnya meski masih tetap gendut, setidaknya belut besar si perutnya kini sudah sedikit menyusut.

__ADS_1


Dia mengedarkan pandangannya, lalu yerpaku pada satu sosok yang membuat hatinya selalu bergetar hebatnya. Dave, ya dia adalah sosok itu,


Dia, mendudukkan tubuhnya di antara Ayah dan Bundanya yang kini tengah memangku keponakan gemasnya.


"Calonnya sudah datang ya Nak Dave, sekarang mari kita mulai acaranya," ucap salah satu kerabat Ayah Akbar yang bertugas sebagai MC pada acara pagi hari itu.


Semua tampak sangat bahagia menyaksikan acara lamaran sederhana ini, terutama wanita paruh baya yang kini tengah memasangkan cincin ke jari manis milik Kiyara, senyumnya tak pernah luntur sedari tadi selalu merekah dan sedap dipandang.


"Mommy, titip Dave ya Nak ... semoga Mommy bisa menemani kalian sampai punya anak, cucu, Mommy sayang Kiyara, nanti setelah kalian menikah jadilah istri yang patuh pada suami tapi jangan lupa suamimu juga manusia biasa, pasti ada salahnya tugasmu nanti jika dia melakukan kesalahan adalah mengingatkannya," ucap Mommy Dave dengan membelai lembut punggung tangan Kiyara yang di jari manisnya sudah terpasang cincin yang begitu menyilaukan mata.


Kiyara terenyuh mendengar permintaan Mommy Dave, dia bisa merasakan kasih sayang tulus dari ibu kandung kekasih hatinya itu, membuatnya menganggukkan kepala dan langsung menubrukkan diri pada Mommy Dave, memeluknya erat.

__ADS_1


"Kiyara akan berbakti pada Kak Dave, dan akan selalu menyayanginya, Mommy tenang saja Kiyara kan sudah mendapat training dari Mommy langsung."


Brugh ...


__ADS_2