
" eh, apa kakak tidak percaya?" tanya Jade memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada pegawai itu.
" haha, adik kecil jujur saja, kamu mencari ibumu bukan?" tanya pegawai itu dengan nada sedikit menghina.
" ah, wanita ini benar-benar membuatku pusing? kalau begitu jika aku bilang kalau aku adalah presdir Jade, apa kamu akan percaya?" Seketika ekspresi wajah Jade berubah. wajah yang tadinya terlihat lucu dan menjengkelkan kini terlihat menyeramkan. tatapan matanya setajam elang, tekanan udara disekitarnya berubah, dia menunjukkan hawa kekeuasaaanya.
" urgh..haha...ahaha...ahahha...benar-benar lucu! adik kecil, kuberitahu ya...tidak mudah untuk membohongiku, lain kali coba lagi ya!" kata wanita itu sambil mendorong Jade dengan tangan kanannya
" ah, tuan muda!" saat Jimmy masuk dia sangat terkejut melihat tuannya ini dipermainkan oleh bawahannya.
" HEI, APA KAMU TAHU SIAPA DIA?" Jimmy naik pitam begitu melihat tuannya itu dipermainkan
" Jimmy hentikan, orang yang tidak bisa menghargai orang lain tidak pantas dihargai!" ,kata-kata itu keluar dari mulut Jade begitu saja, dia tidak memandang para pegawai yang ada disana. dia tertunduk, dia menurunkan ego dan harga dirinya, dia tahu melawan mereka adalah hal yang sia-sia.
" kalian semua yang ada disini, segera pergi ke HRD dan ambil gaji kalian bulan ini!" Jimmy memberikan perintah pada para pegawai itu.
" tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Jimmy, bagaimanapun selama Jade tidak megurus perusahaan, ayahnya memberikan kuasa penuh pada Jimmy yang sebelumnya adalah tangan kanan Jade untuk memerintah perusahaan.
" tunggu dulu, Jimmy..kenapa kamu disini?" tanya Jade bingung, seingatnya dia menitipkan perusahaan pada tangan kanannya. Zen Sparrow, dia adalah orang kepercayaan Jade.
" ah, sepertinya anda sudah tidak mengenali saya lagi, tuan muda!" Jimmy tersenyum didepan Jade.
" Ze...n?" Jade ingat senyum itu, senyum milik asisten kepercayaanya, Zen. tapi kenapa Jimmy memiliki senyum yang sama. seingatnya baru beberapa hari dia bersama dengan Jimmy, tapi kenapa rasanya sudah kenal begitu lama.
" hm, senang tuan muda masih mengingat saya!" Jimmy melepas ikat rambutnya, rambut hitam yang terurai itu benar-benar mengingatkan Jade akan Zen.
" ah, kamu benar-benar Zen!" Jade langsung memeluk asisten kesayangannya itu.
" tuan muda, apa anda sudah puas?" tanya Zen pada tuan mudanya itu.
" huh, panggil aku JD seperti dulu lagi!" Jade kesal begitu Zen memanggilnya tuan muda
" haha, baiklah JD kecil, ayo kembali bekerja!" Zen membawa tuan mudanya itu menuju ke kantornya.
saat mereka berjalan menuju ke kantor presdir, Jade menjadi pusat perhatian bagi semua orang. itu pertama kalinya Zen membawa seseorang bersamanya, apalagi kali ini dia membawa anak kecil bersamanya.
" hahh, sepertinya mereka memandangku sebagai anak kecil _-" Jade merasa kesal saat dia diremehkan.
" kita tiba!" Zen membukakan pintu untuk Jade.
__ADS_1
" ah, kantor ini sudah banyak berubah ya?" Jade merasa sedih melihat kantor lamanya yang penuh akan buku dan komputer, kini...semuanya berganti menjadi kantor yang lebih minimalis dengan sofa besar yang ada disana, juga lemari dengan penuh akan tumpukan berkas dan kontrak yang harus dikerjakan olehnya.
" haha, aku tahu kamu akan mengatakan itu!" Zen terkekeh melihat wajah jade yang seketika berubah, dia kemudian menunjuk pada salah satu sudut ruangan.
" eh? bukankah..ini..?" Jade terkejut melihat sudut ruangan yang ditunjuk oleh Zen. Jade terkejut melihat sudut ruangan itu, masih ruangan yang sama penuh dengan komputer dan rak yang penuh dengan ratusan buku. Jade langsung berlari masuk dan menatap sekeliling ruangan itu, 6 layar komputer diatas meja, 5 rak buku besar setinggi 2 meter yang penuh dengan buku masih berdiri dengan kokohnya. sebuah sofa panjang dan sebuah ranjang kecil masih ada disana, semuanya masih sama.
" i..ini...semua ini...masih sama!" matanya terbelalak dia langsung masuk dan melompat keatas ranjag yang ada disana.
" haha, sudah kuduga kamu masih sama saja!" kata Zen yang duduk disofa yang ada diseberang ranjang itu. dulu saat Jade masih memimpin biasanya Jade tidur dikantor, rasanya kantor itu sudah sama seperti dengan rumah.
" hei, sana pergi! biarkan aku menikmati waktuku dengan ranjang dan buku!" kata Jade mengusir Zen dari sana.
" hahhh..kamu ini?" Zen memijat keningnya
TOK TOK
suara ketukan pintu membuat jade dan Zen terkejut, mereka mengintip dari celah yang ada.
" masuk!" Zen langsung mempersilahkan orang itu masuk
" ah, Wakil Presdir?" suara seorang wanita yang masuk itu memenuhi ruangan.
" ah, dewan sudah menunggu anda!" kata wanita itu
" baiklah Nana, kamu tolong layani pria kecil ini!" kata Zen meninggalkan jade dengan sekertarisnya.
" baik, tuan!" jawab sekertaris itu.
" baiklah, tuan kecil siapa namamu?" tanya wanita itu
" kalau begitu siapa nama kakak? Zen bilang aku tidak boleh bicara dengan orang asing!" Jade membalikkan pertanyaanya
" ah? kamu begitu pintar, kamu pasti orang yang spesial bagi tuan Zen!" wanita itu menatap wajah Jade dengan tatapan penasaran.
" hm.." Jade mengacuhkan wanita itu, dia fokus membaca tumpukan buku yang sudah lama tidak disentuhnya itu.
" eh, anak kecil sepertimu apa mengerti tentang semua ini?" tanya wanita itu penasaran begitu dia melihat jade membaca buku mengenai saham dan pasar saham.
" eh, kenapa aku tidak harus mengerti? bukan kah perusahaan ini merupakan salah satu raksasa di Amerika, Eropa, dan sebagian Asia? perusahaan ini memiliki berbagai macam aset yang sering dijual belikan secara umum untuk memainkan pasar saham mereka!" Jade mengucapkan beberapa fakta yang ada.
__ADS_1
" eh, ba...bagaimana bisa?" sekertaris itu terkejut, bagaimana anak usia 16 tahun mengerti semua itu.
" hm, baiklah kakak Nana? apa kamu tidak mengetahui Presdir jade?" Jade menyunggingkan senyumnya, dia memamerkan deretan gigi putinya.
"eh, aku..tidak pernah melihatnya!" kata wanita itu ragu
" hm, kalau begitu selamat! kamu sedang berbicara dengan presdir Jade sekarang" Jade tersenyum pada Nana.
" APA?!" Nana percaya begitu saja dengan kata-kata Jade.
" hm, kakak percaya?" Jade memiringkan wajahnya.
" eh, memangnya salah?" tanya wanita itu polos
" ehm, kakak sepertinya umurmu tidak jauh dari umur Zen? apa kalian pacaran?" tanya Jade mengalihkan pembicaraan
" ah? a..apa yang?" wajah Nana tiba-tiba memerah.
" haha, kakak lucu sekali^_^" Jade terkekeh
" ah?" Nana memperhatikan wajah anak kecil yang tertawa begitu manis, dia jadi merasa tenang.
" kalau begitu, tuan presdir ingin minum apa?" tanya wanita itu
" ehm, aku mau cola!" kata Jade bersemangat.
" baiklah, kakak akan mengambilkan cola untukmu!" Nana pergi dan mengambil Cola, sementara itu Zen membawa seluruh dewan eksekutif untuk bertemu dengan Jade. saat dewan eksekutif melihat Jade yang kelihatannya tidak berubah banyak, mereka sempat meragukan Jade. hingga akhirnya Jade menunjukkan kekuasaannya dan kemampuannya, seluruh dewan kembali patuh dan berada dalam genggaman Jade.
" hm, baiklah anggota dewan semuanya, terimakasih atas apa yang kalian lakukan selama aku pergi!" kata Jade yang menunjukkan senyum liciknya.
setelah rapat yang penuh perdebatan selesai, posisi presdir kembali ketangan Jade. berita tentang kembalinya Jade juga telah tersebar ke seluruh perusahaan, namun para anggotanya tidak pernah sadar bahwa Jade kecil si perusuh adalah presdir mereka.
" ah, Jade?" Nana masuk kedalam kantor presdir dan membawakan cola untuk Jade.
" ah, tuan Zen! dimana jade?" tanya Nana pada atasannya itu.
" oh, dia bilang dia mau pergi ke ruangganmu!" jawab Zen
" eh?" Nana menjadi khawatir, dia akhirnya menjatuhkan sekaleng Cola itu kelantai dan bergegas mencari Jade. dia khawatir Jade akan terkena masalah. hm, dan benar saja. kini Jade dikerumuni oleh beberapa orang pegawai yang tengah membullynya.
__ADS_1