School Lifes

School Lifes
Episode 44


__ADS_3

" come on, Robin!" Jade sudah tidak sabar naik roller coaster, dia bahkan rela menunggu untuk bisa mendapat giliran.


~~


Jade: thor, kenapa ngak dibikin cepet aja antriannya. 


Author: jangan sombong, mentang-mentang yang punya LA _-


jade: :) 


~~


" hm.." Robin hanya pasrah mengikuti Jade yang semakin berjalan menjauh.


mereka akhirnya menikmati waktu bermain seharian, bahkan mereka tidak sadar sekarang sudah waktunya makan siang. perut Jade dan Robin sudah demo meminta makan, terjadi perang dunia didalam sana.


" Robin, bisa kita makan dulu?" Jade menatap Robin dengan pandangan penuh harap. dia berharap mereka bisa beristirahat dan mengisi perutnya sebentar.


" hm, aku juga lapar!" Robin membalas Jade dengan senyuman manis.


 mereka kemudian pergi menuju ke stan makanan, Jade membeli dua buah burger, salad, dan freanch fries. sedangkan Robin membeli kroket, segelas americano coffee dan sekaleng soda. setelah selesai membeli apa yang mereka inginkan, mereka duduk ditempat kosong yang ada.


" ini!" jade membagi makanan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Jade mendapat sebuah burger, freanch fries dan soda, sedangkan Robin mendapat burger, kroket, salad, dan americano coffee.

__ADS_1


setelah beberapa lama menyantap makan siang, Jade dan Robin memutuskan untuk pulang. saat perjalanan pulang mereka melewati jalan yang sama, dan Robin tidak sengaja melihat gadis itu diseret oleh ayahnya.


" Jade!" Robin masih menatap punggung gadis itu, dia tidak mengerti dengan apa yang dia lihat.


" ada apa?" Jade masih menatap jalanan yang ada didepannya, dia mulai memainkan perseneling dan mengurangi laju kecepatan agar suaranya bisa didengar.


" bisa kita berhenti sebentar?" Robin menatap ke arah Jade, dan Jade langsung memarkirkan mobilnya dibahu jalan.


" ada masalah?" Jade manatap Robin yang sedari tadi sibuk memandang keluar jendela.


" gadis tadi" Jade melihat keluar, dia melihat gadis itu tengah dihukum oleh ayahnya. dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


" apa kamu mau menolongnya?" Jade menatap intens pada Robin. Robin hanya menganggukkan kepalanya dan Jade langsung mengambil ponsel yang ada didashboard mobil. Jade menghubungi Zen, dia meminta Zen melaporkan hal ini pada lembaga perlindungan anak.


" hai" Robin memberanikan dirinya untuk menyapa gadis itu.


" thanks" gadis itu hanya tersenyum kecil, ada luka disudut bibirnya. sebuah senyum sederhana sudah membuat wajahnya perih.


" bukan masalah, dimana ibumu?" Robin menatap gadis yang sebaya dengannya itu.


" dia sudah tiada" jawab gadis itu, gadis itu hanya tersenyum sambil menatap Robin dengan tatapan sendu.


" ah, maaf!" Robin menyesal telah menanyakan hal itu, kini hatinya sakit. dia teringat akan kedua orang tuanya.

__ADS_1


" tak apa, ini bukan salahmu" gadis itu tersenyum simpul. Robin bingung, apa luka diwajahnya tidak sakit? sejak tadi dia tersenyum, luka itu pasti terasa nyeri bukan?


" lalu, apa kamu akan pergi ke panti asuhan?" Robin memberanikan dirinya untuk bertanya sekali lagi. dia bertanya dengan agak hati-hati supaya tidak menyakiti perasaan gadis itu.


" hm, aku tidak memiliki siapapun lagi" gadis itu hanya tersenyum pada Robin.


" ah, apa kamu mau tinggal dengan kami?" Robin langsung menanyakan hal itu tanpa meminta persetujuan dari Jade dan Zen. gadis itu hanya terkejut mendengar perkataan Robin.


" ah, hahahha...kamu sangat lucu. tapi, kamu tidak boleh membawa orang yang baru kamu kenal ke rumahmu!" gadis itu terkekeh sedikit, luka dibibirnya pasti terasa sakit. Robin sangat terkejut mendapati senyum gadis itu, begitu manis dan indah, bagai senyum bidadari.


" tentu saja boleh!" Zen dan Jade yang tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang itu langsung turun tangan dan membantu Robin. Zen pikir gadis itu adalah gadis yang baik, dan dia pikir mungkin Robin sudah jatuh cinta padanya.


" benarkan?" gadis itu sedikit tertarik, Zen jauh lebih dewasa dibanding Robin, karenanya mungkin dia bisa sedikit dipercaya dibanding Robin.


" hm, kalau mau aku bisa mengangkatmu sebagai saudara" Zen tersenyum pada gadis itu, dia ingin memberikan rasa aman padanya. kekerasan dalam rumah tangga adalah hal yang tidak mudah ditangani.


" tidak perlu, terimakasih. sungguh aku terima tawaranmu" gadis itu tersenyum, kini senyumnya begitu merekah. dia bahkan lupa kalau wajahnya terluka.


" apa tidak sakit?" Jade yang sedari tadi melihat gadis itu tersenyum bisa merasakan nyeri yang teramat pada tubuhnya.


" tidak, aku sudah terbiasa" gadis itu memegang sudut bibirnya. dia teringat sekilas kekejaman ayahnya.


" hahh..kalau begitu kami akan membuatmu lupa akan rasa sakit ini!"  Robin mengambil sapu tangannya kemudian membersihkan luka itu dengan pelan dan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2