School Lifes

School Lifes
Episode 32


__ADS_3

Nana sudah bosan melihat bosnya yang sejak tadi bermain dengan ponselnya, ya dia senang karena Jade sudah tidak berkutat dengan berkas-berkas akan tetapi Nana juga tidak suka jika Jade mengacuhkannya. Nana mulai berjalan mendekati meja Jade kemudian merampas ponsel milik sang atasan dengan santainya.


" ah, kakak apa sih?" ketus Jade kesal dengan tingkah Nana yang dengan seenaknya mengambil ponsel miliknya. Nana melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap Jade dengan kesal.


" ayo kita pergi makan!!" ajak nana yang sudah lembur selama satu bulan terakhir ini, ya sebulan ini Jade semakin sibuk dengan masalah kantor dan tidak pernah berisitirahat. dia bahkan belum pulang ke mansionnya selama 2 bulan ini.


kalau kalian tanya dimana dia mandi? jawabannya tentu dikantornya, ruang istirahatnya sangat mewah, disana ada dapur lantas kenapa harus tidak ada kamar mandi? kalau soal makan, Jade biasanya memesan makanan atau pergi ke cafe dimana tempat sang gadis pujaan bekerja, jika tidak sesekali ia memasak sendiri jika memiliki waktu senggang.


" hm, kita makan ke pusat kota! panggil kak Zen kemari" seketika sebuah senyuman mengembang diwajah Nana, dia segera menghubungi sang pujaan hati..eits..... sang wakil presdir. kemudian mengajaknya makan siang, Jade hanya terkekeh melihat tingkah Nana yang tengah memohon dengan manja pada Zen.


setelah cukup lama menunggu, Zen tiba dikator. akan tetapi betapa terkejutnya Jade ketika Zen tidak datang seorang diri, ya Leo bersama dengan Zen dan Jade tidak tahu kenapa kakaknya itu ada bersama Zen.


" JD!!" Leo berlari menghampiri Jade kemudian memeluk adik angkat kesayangannya ini, ya, selain dipercaya sebagai tangan kanannya didunia gelap, Leo juga merupakan ksatria penjaga Jade.


" kak Leo, kenapa kakak disini?" tanya Jade bingung, dia masih memandang wajah kakaknya itu dengan tatapan penuh kebingungan, sorot matanya menunjukkan beragam pertanyaan.


" huhu, apa kamu tidak merindukanku? aku menunggumu pulang selama 2 bulan ini" gerutunya pada Jade yang nampak penuh dengan kebingungan. Jade semakin bingung, Leo menunggu? dimana? kapan? kenapa Leo tidak menghubunginya saja?


" hah, bocah ini tinggal di mansion selama 2 bulan dan menunggumu pulang!" jelas Zen yang melihat wajah Jade penuh dengan pertanyaan. Jade mengangguk kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" maaf ya kak, tapi kenapa kakak tidak menelfonku saja?" tanya Jade membuat Leo, Zen, dan Nana menatap dirinya dengan tajam. Jade tidak mengerti dimana letak kesalahannya, selama 2 bulan ini dia terlalu fokus dengan pekerjaanya hingga dia melupakan dimana ponselnya berada.


" oh jadi kamu masih ingat kalau kamu memiliki Ponsel, hah?" seketika Zen mengukir senyum iblis diwajahnya. Jade mencoba merogoh saku dan mencari keberadaan ponselnya, setelah cukup lama mencari Jade mulai membuka laci dan mencari ke bawah kursi dan lorong meja akan tetapi Jade tidak menemukan keberadan benda itu.


Jade menatap ketiga orang yang ada didepannya dengan ragu dan mengukir senyum tanpa dosa diwajahnya, tangannya mulai mengarah kebelakang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" hehe, maaf ya kak! aku lupa dimana ponselku" jawab Jade yang berakhir dengan tiga pukulan mendarat dikepalanya. Leo menghela nafas kemudian menatap kesal pada Jade, Nana melangkahkan kakinya menuju ke ruang istirahat Jade kemudian mencari ponsel milik Jade.


" hahh, kamu ini? " Zen menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengambil ponsel dari tangan Nana. Zen mengangkat ponsel itu dengan tangan kanannya kemudian menyalakan ponsel milik Jade.


1 menit sudah berlalu dan ponsel Jade tidak menyala, Jade mengambil ponselnya kemudian mencoba menyalakan ponsel miliknya.


" hehe, baterainya habis!" seru Jade dengan wajah tanpa dosa setelah mencoba menyalakan ponselnya beberapa kali. Leo menatap tajam Jade kemudian berjalan mendekat ke arahnya.


" ah, ka...kak...a..aku..bisa...men...je..las...kan...nya" Jade mulai begidik karena aura mengerikan yang keluar dari tubuh Leo. Jade berdiri kemudian menarik dirinya perlahan menjauhi tubuh Leo, Zen mulai berjalan kebelakang Jade dan menahan tubuhnya.

__ADS_1


" heh, kamu sudah berani menghiraukanku ya?" tanya Leo sembari memasang senyum iblis diwajahnya, kini Jade sudah tidak bisa melangkah mundur karena Zen sudah berada dibelakangnya.


" ah, kak Zen?" Jade mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Zen yang sudah ada dibelakangnya. Jade memejamkan matanya takut jika kedua orang itu akan membunuhnya karena kecerobohannya.


~~


Jade:*alay lu thor :v


Author: bodo*


~~


SRATT


Jade merasa udara disekitarnya menghilang, bukan karena oksigen lenyap dari muka bumi. bukan juga karena dia terlempar ke ruang hampa udara, tapi karena kedua kakak angkatnya memeluknya dengan amat erat sehingga dia kesulitan bernafas.


Jade merasakan sesuatu membasahi bahu kanannya, dan itu bukan karena ada hujan badai dalam kantornya. bahunya basah karena Leo menangis diantara ceruk lehernya.


Jade kini hanya menatap sendu pada dinding disebrang matanya, dia merasa sangat menyesal dan bersalah dengan apa yang telah dia lakukan. seharusnya dia tetap menghubungi kakak-kakaknya walau sesibuk apapun dirinya.


Bekerja boleh, tetapi istirahat harus menjadi prioritas. selain itu ini adalah kesalahan bagi Jade yang membuang ponselnya sembarangan dan tidak menanggapi setiap panggilan dari kakak angkatnya.


" hari ini kamu pulang! jika kamu tidak mau pulang, kita kemarkas!" ketus Leo yang langsung diangguki oleh Zen dan membuat Jade terkejut. Jade memandang kedua kakaknya dengan tatapan tajam.


" aku tidak bisa, saat ini perusahaan masih membutuhkan keberadaanku!" Seru Jade menatap dingin pada Leo yang ada didepannya, Aura dingin mulai keluar dari tubuhnya dan membuat ruangan yang sebelumnya hangat jadi mencekam.


" TIDAK! " Leo menarik lengan Jade kemudian membawanya keluar dari kantornya diikuti dengan Zen yang mengekor dibelakangnya. Jade meronta mencoba menolak paksaan sang kakak dan ingin segera melanjutkan pekerjaannya.


Jade masih memiliki misi untuk membawa perusahaannya ke puncak dunia dengan segera, karenanya dia harus tetap dikantor dan terus bekerja. Jade mencoba melepas cekalan tangan Leo akan tetapi gagal, tubuh kecilnya tidak cukup kuat selain itu beberapa bulan ini dia tidak makan dengan teratur jadi tubuhnya semakin lemah.


" maaf, Jade!" Zen yang sudah bosan langsung memukul syaraf tidur Jade dan menangkap tubuhnya yang terjatuh. Leo langsung mengangkat tubuh Jade yang tersandar ditubuh Zen kemudian membawanya menuju ke parkiran basement.


setibanya di basement Zen langsung masuk dan menyalakan mobilnya, Leo meletakkan Jade dikursi belakang kemudian dia pindah ke samping kursi pengemudi. Zen segera melajukan mobilnya menuju ke rumah begitu Leo sudah masuk dan memakai sabuk pengamannya.


kini mereka sudah tiba dikediaman Jade. Leo mengangkat tubuh Jade dan membawanya menuju ke kamar Jade, Leo meletakkan Jade yang masih tertidur ke atas ranjang kemudian meninggalkannya. Leo melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu dimana Zen sudah menanti dirinya disana.

__ADS_1


" bagaimana ?" tanya Zen dan hanya dibalas dengan sebuah senyum tanpa dosa dari Leo. Leo merebahkan dirinya ke sofa yang ada disebelah Zen kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit ruang tamu. Zen hanya menghela nafas melihat Leo yang seperti itu, Zen sangat mengerti kalau Leo sangat khawatir dengan keadaan Jade.


Zen memang menghkhawatirkan kondisi Jade akan tetapi dia tidak akan pernah menentang ataupun melawan perintah Jade. berbeda dengan Leo yang selalu memikirkan kondisi Jade dibanding dengan perasaan Jade, Leo lebih memilih Jade marah dan membencinya. itu lebih baik dibanding dirinya yang harus melihat Jade menderita.


" hm, siap-siap saja dengan amarah sang pangeran!" ketus Leo yang merogoh ponselnya yang berdering sedari tadi. Leo melihat layar ponselnya, kemudian mengeser dialnya dan memutuskan panggilannya. Zen hanya menghela nafas kemudian mengambil ponsel Leo dan menjawab panggilannya.


setelah beberapa lama dan Zen memutuskan panggilannya, Leo hanya mendengus kesal melihat Zen yang dengan seenaknya mengambil ponsel miliknya. Zen mulai mengangkat tubuhnya dan melangkahkan kakinya menjauhi Leo dan menuju ke pintu.


" mau kemana?" tanya Leo yang membuat Zen harus menghentikan langkahnya. Zen menoleh ke Leo kemudian memutar bola matanya dengan malas. ya mau bagaimana lagi? Leo tahu dia mau kemana dan apakah Leo harus bertanya kemana Zen akan pergi? oh ini menyebalkan.


" aku harus menjemput raja dan ratu!" Zen kembali melenggangkan kakinya dan Leo hanya menatap punggung Zen yang berjalan menjauh. Leo kini memejamkan matanya kemudian memasuki dunia mimpi dimana ia bisa beristirahat dengan lebih tenang dan nyaman.


baru sejenak Leo dapat terlelap dan dua suara dari makhluk absurb membangunkannya.


" ok, semuanya ROBIN yang gans ini sudah pulang dengan calon istrinya ini!!!" teriak Robin dan disambung dengan sebuah pukulan dari Zen yang mendarat dikepalanya. Robin mengelus pelan kepalanya sedangkan Sara hanya terkekeh dan melangkahkan kakinya menuju tangga yang akan membawanya menuju ke kamarnya.


" cih, cepat mandi sana! " ketus Leo yang membuat perang membara diruang tamu. Zen tidak mempedulikan kedua mahluk absurb itu, dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk mereka.


kini waktu makan malam sudah tiba, semua orang sudah duduk dimeja makan dan menyantap makan malam dengan tenang. Jade kini masih berada dikamarnya, dia baru bangun dari tidurnya. Jade mendudukkan dirinya kemudian memandangi sekeliling. kamar berwarna putih bersih dengan barang-barang yang dia hafal dan kenal dengan jelas. ya , Jade ada dikamarnya.


" ah?" Jade teringat kalau seharusnya dia masih berada dikantor dan mengerjakan berkas-berkasnya.


Jade menggepalkan tangannya kemudian mengumpulkan tenaganya sebelum berteriak.


" KAK LEO!!" teriaknya yang menggema keseluruh rumah. Jade mengangkat tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi kemudian mengganti pakaiannya.


Jade melangkahkan kakinya menuju ke bawah dia menuruni anak tangga yang akan membawanya menuju ke dapur. saat ini ketegangan tengah terjadi di dapur, mereka menjadi sangat was-was jika saja Jade akan turun dengan wajah ditekuk. dan ya, kini Jade memasuki ruang makan dengan wajah ditekuk. Jade mendudukkan dirinya ke pangkuan Leo dengan kasar hingga kepala Leo terbentur kursi.


" ouch.." Leo meringis sedangkan Jade mengeluarkan aura dingin dari tubuhnya. rasa sakit masih tersisa dikepala Leo sehingga dia mengusap kepalanya dengan lembut.


entah kenapa hari ini Zen menata meja makan dan menyajikan banyak sekali makanan terutama hidangan manis.


Jade memandang semua hidangan itu dengan minat, akan tetapi ego menahan dirinya. Jade hanya diam dan membiarkan yang lainnya makan dengan tenang.


" apa kamu mau es krim, Jade?" tanya Zen lembut. Jade hanya memutar bola matanya dan menatap Zen datar.

__ADS_1


Zen langsung beranjak dari kursinya dan mengambil semangkuk es krim untuk Jade. walau tidak mengatakannya, Zen sangat memahami putaran mata Jade. seakan bola matanya berkata jika kamu tidak mengambilnya, maka kamu akan mati. Zen segera meletakkan es krim didepan Jade kemudian mengacak lembut rambutnya.


" makan pelan-pelan!" kata Zen sembari mengacak lembut rambut Jade.


__ADS_2