School Lifes

School Lifes
Episode 20


__ADS_3

" ayo duduk" Zen menarik kursi yang ada di sampingnya kemudian mendudukkan Robin disana, sedangkan dirinya bersandar pada pantry yang ada dibelakangnya.


" ada apa?" Zen menatap lembut Robin, mata gelapnya kini tengah mengharap jawaban dari pemuda didepannya.


" dia berkhianat" Robin kini masih menundukkan kepalanya, dia menggenggam erat tangan yang ada diatas lututnya.


" eh?" Zen bingung dengan arah pembicaraan ini, siapa yang berkhianat? apa pacarnya?


" gadis itu hanya berpura-pura polos didepanku!" Robin menaikkan nada suaranya membuat bulir air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.


" kalau begitu putus saja!" Zen masih bersandar di pantry dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.


" aku...tidak bisa, ini sulit"air mata Robin tumpah, kini sebuah lengan mengulurkan sapu tangan padanya. dia tidak bisa melihat siapa yang memberikan sapu tangan itu padanya, yang jelas saat dia akan mengambilnya. tangan itu malah mengangkat dagu Robin kemudian menghapus air mata yang terus turun dari matanya.


" kalau begitu biar aku yang lakukan" Ya, itu Jade. dia menghapus air mata Robin dan menampakkan senyum manisnya.


Robin tidak mengerti dengan maksud kata-kata Jade, dia hanya terdiam menatap adik angkatnya itu begitu mengkhawatirkannya.


hanya aku yang boleh menangis, dan kakak hanya boleh tertawa.


kata-kata itu terus terbesit dalam pikiran Jade, setelah kejadian di dapur selesai Jade meminta beberapa bawahannya mencari keberadaan gadis itu.


keesokan harinya Robin pergi kesekolah seperti biasa. Zen pergi ke kantor sedangkan Jade masih terlelap.


Drrr Drrr


suara telfon membangunkan Jade dari tidur bayinya.


* halo..*


*.........*


* bawa dia kemari sebelum pulang sekolah!*


*.........*


" ya kamu bisa pergi*


Jade kembali menutup ponselnya kemudian membiarkan dirinya terlelap dalam tidur panjangnya. ini masih hari libur baginya, apa yang harus dia lakukan?


sekolah? dia sudah menyelesaikan kuliah diumur 8 tahun. dia bahkan sudah memiliki gelar profesor


kerja? sudah ada Zen yang menghandle pekerjaanya, selain itu sudah 1 minggu ini dia lembur. jadi tidak masalah jika dia istirahat beberapa hari.

__ADS_1


jadi Jade hanya menghabiskan harinya untuk makan dan tidur hingga anak buahnya tiba di mansion dengan gadis sialan itu.


" hahhh...kalian lama sekali" Jade berdecak kesal karena dia harus menunda drama yang akan dia mainkan.


"ma..maafkan kami, tuan muda!" Kedua pengawal itu tunduk kemudian memohon pada tuannya itu.


" hm, kalian boleh pergi!" Jade mempersilahkan mereka pergi setelah melepas ikatan gadis tadi.


" kau?" gadis itu terkejut mendapati Jade adalah orang yang menculiknya. dia tengah berpikir kenapa Jade mau menculiknya


" gadis, berapa yang kamu inginkan?" Jade tidak ingin berbasa basi, dia langsung bertanya to the point.


" hahh?" Gadis itu bingung dengan maksud ucapan Jade, kini dia tengah memiringkan kepalanya dan berpikir.


" apa 5 jt cukup?" Jade mengeluarkan sebuah cek dan bersiap menulis.


" ah, li...lima juta! cu...cukup sangat cukup!" gadis itu menerima tawaran Jade dan mengambil cek nya.


Jade lega akhirnya masalah ini bisa selesai, jadi saat Robin baru pulang dia mendapati pacarnya tengah menggoda adiknya


"KAU? WANITA MURAHAN!!"


PLAKK


" kita putus!"


kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Robin, kini rencana Jade telah berjalan dengan sempurna. wanita itu pergi dengan perasaan senang, ya mau bagaimana lagi.


kini cek sebesar 5 jt dollar ada ditangannya, dan sayangnya cek itu belum ditandatangani oleh Jade XD


" Jade, maaf" Robin meminta maaf karena pacarnya telah menggoda adiknya.


" bukan masalah, maaf membuat dirimu terlihat jahat!" Jade memeluk Robin sejenak.


" tidak, aku yang harusnya meminta maaf karena membuatmu malu. lain kali jika, sesuatu seperti ini terjadi apa kamu bisa membantuku lagi?" Robin menatap Jade dengan lembut, manik hitam itu kini mulai terlihat kembali bersinar.


" bukan masalah" Jade langsung memeluk Robin.


" apa sudah selesai, Jade?" Zen masuk dan mendapati kedua anak itu tengah saling berpelukan melepas penat dan kesedihan .


" ya, seperti biasa!" Jade menunjukkan senyum penuh makna pada Zen.


" kali ini kamu membuang berapa?" Zen menatap intens pada Jade, Jade hanya bisa menggeleng kemudian menjawab.

__ADS_1


" aku memberinya cek sebesar 5 juta!"


" APA?" Robin yang mendengar Jade memberikan 5 juta dollar untuk wanita itu sangat terkejut.


" tenanglah, hanya 5 juta" Zen mencoba menenangkan Robin. memang bagi Jade 5 juta adalah kecil, mengingat kalau kekayaannya mencapai $95 million dollar.


" haha, hanya sebuah cek 5 juta kok. bukan masalah besar, selain itu aku tidak benar-benar memberikannya" Jade kembali tersenyum simpul


"eh?" Robin tidak mengerti dengan maksud perkataan Jade.


" Apa kamu tidak menandatanganinya!" Zen teringat akan kebiasaan lama Jade, kalau berhubungan dengan gadis kecil matre ya, hanya satu cara ini yang paling ampuh.


" nice!" Jade berjalan pergi menuju ke arah dapur.


" eh?" Robin masih bingung dengan percakapan itu.


" haha, sebuah cek tidak bisa dicairkan jika pemilik tidak membubuhkan tanda tangannya" Zen mencoba menjelaskan hal ini pada remaja didepannya itu


" ah, berarti cek itu tidak ada isinya!" Robin baru paham dengan percakapan mereka.


" hm, bisa dibilang begitu" Zen kini berjalan mengikuti Jade menuju ke dapur.


" apa kalian mau tetap bicara atau makan?" Jade berteriak dari dapur membuat kedua insan yang ada diruang tamu bergegas menghampiri suara itu.


" hm, kamu mau makan apa?" Zen tengah memakai apron hitam polos miliknya dan bersiap untuk memasak.


" aku mau sup jamur dan es krim mangga!" Jade membuat Robin terkejut. Sup jamur adalah makanan kesukaannya, sangat jelas kalau Jade ingin menghibur Robin.


Zen akhirnya membuat semua yang diminta oleh Jade, dan Robin menikmati semua hidangan itu. ya, sudah cukup lama mereka bertiga tidak makan bersama.


" hm, yummy!" Robin menikmati setiap kunyahannya setiap bumbu, setiap rasa, semuanya benar-benar dinikmati dengan khidmat.


" haha, syukurlah kamu suka!" Zen membersihkan beberapa piring yang kosong kemudian mencucinya. Jade hanya fokus dengan ponsel yang ada di tangannya, piringnya masih sangat penuh, dia baru memakan beberapa suap.


" hahh.." Robin mengambil ponsel milik Jade, Jade yang kesal akhirnya menyantap makanannya kemudian mengambil kembali ponselnya.


" jade!"  Jade hanya mengangkat kepalanya kemudian kembali fokus dengan ponselnya.


" apa kamu tidak mau kembali ke sekolah?" Robin memainkan kue yang ada di piringnya, Jade terkejut mendengar perkataan Robin.


" memangnya kenapa dengan sekolahmu?" Jade tidak bertanya kenapa dia ingin Jade sekolah, Robin tahu kalau Jade sudah sejak lama menyelesaikan studynya.


" membosankan" Robin mulai menyantap kembali cake coklat yang ada didepannya.

__ADS_1


" haha, kalau begitu kenapa kamu tidak cari pacar saja?" Jade menatap Robin dengan tatapan yang tidak menyenangankan, seakan dia tengah membully Robin.


__ADS_2