
mereka kemudian pergi menuju ke stan makanan, Jade membeli dua buah burger, salad, dan freanch fries. sedangkan Robin membeli kroket, segelas americano coffee dan sekaleng soda. setelah selesai membeli apa yang mereka inginkan, mereka duduk ditempat kosong yang ada.
" ini!" jade membagi makanan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Jade mendapat sebuah burger, freanch fries dan soda, sedangkan Robin mendapat burger, kroket, salad, dan americano coffee.
setelah beberapa lama menyantap makan siang, Jade dan Robin memutuskan untuk pulang. saat perjalanan pulang mereka melewati jalan yang sama, dan Robin tidak sengaja melihat gadis itu diseret oleh ayahnya.
" Jade!" Robin masih menatap punggung gadis itu, dia tidak mengerti dengan apa yang dia lihat.
" ada apa?" Jade masih menatap jalanan yang ada didepannya, dia mulai memainkan perseneling dan mengurangi laju kecepatan agar suaranya bisa didengar.
" bisa kita berhenti sebentar?" Robin menatap ke arah Jade, dan Jade langsung memarkirkan mobilnya dibahu jalan.
" ada masalah?" Jade manatap Robin yang sedari tadi sibuk memandang keluar jendela.
" gadis tadi" Jade melihat keluar, dia melihat gadis itu tengah dihukum oleh ayahnya. dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
" apa kamu mau menolongnya?" Jade menatap intens pada Robin. Robin hanya menganggukkan kepalanya dan Jade langsung mengambil ponsel yang ada didashboard mobil. Jade menghubungi Zen, dia meminta Zen melaporkan hal ini pada lembaga perlindungan anak.
tidak lama kemudian lembaga perlindungan anak tiba disana dan menyelamatkan gadis itu. Jade dan Zen memberikan keterangan dan bukti. Robin menemui gadis itu, dia terlihat sangat kacau.
" hai" Robin memberanikan dirinya untuk menyapa gadis itu.
" thanks" gadis itu hanya tersenyum kecil, ada luka disudut bibirnya. sebuah senyum sederhana sudah membuat wajahnya perih.
" bukan masalah, dimana ibumu?" Robin menatap gadis yang sebaya dengannya itu.
" dia sudah tiada" jawab gadis itu, gadis itu hanya tersenyum sambil menatap Robin dengan tatapan sendu.
" ah, maaf!" Robin menyesal telah menanyakan hal itu, kini hatinya sakit. dia teringat akan kedua orang tuanya.
" tak apa, ini bukan salahmu" gadis itu tersenyum simpul. Robin bingung, apa luka diwajahnya tidak sakit? sejak tadi dia tersenyum, luka itu pasti terasa nyeri bukan?
__ADS_1
" lalu, apa kamu akan pergi ke panti asuhan?" Robin memberanikan dirinya untuk bertanya sekali lagi. dia bertanya dengan agak hati-hati supaya tidak menyakiti perasaan gadis itu.
" hm, aku tidak memiliki siapapun lagi" gadis itu hanya tersenyum pada Robin.
" ah, apa kamu mau tinggal dengan kami?" Robin langsung menanyakan hal itu tanpa meminta persetujuan dari Jade dan Zen. gadis itu hanya terkejut mendengar perkataan Robin.
" ah, hahahha...kamu sangat lucu. tapi, kamu tidak boleh membawa orang yang baru kamu kenal ke rumahmu!" gadis itu terkekeh sedikit, luka dibibirnya pasti terasa sakit. Robin sangat terkejut mendapati senyum gadis itu, begitu manis dan indah, bagai senyum bidadari.
" tentu saja boleh!" Zen dan Jade yang tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang itu langsung turun tangan dan membantu Robin. Zen pikir gadis itu adalah gadis yang baik, dan dia pikir mungkin Robin sudah jatuh cinta padanya.
" benarkan?" gadis itu sedikit tertarik, Zen jauh lebih dewasa dibanding Robin, karenanya mungkin dia bisa sedikit dipercaya dibanding Robin.
" hm, kalau mau aku bisa mengangkatmu sebagai saudara" Zen tersenyum pada gadis itu, dia ingin memberikan rasa aman padanya. kekerasan dalam rumah tangga adalah hal yang tidak mudah ditangani.
" tidak perlu, terimakasih. sungguh aku terima tawaranmu" gadis itu tersenyum, kini senyumnya begitu merekah. dia bahkan lupa kalau wajahnya terluka.
" apa tidak sakit?" Jade yang sedari tadi melihat gadis itu tersenyum bisa merasakan nyeri yang teramat pada tubuhnya.
" hahh..kalau begitu kami akan membuatmu lupa akan rasa sakit ini!" Robin mengambil sapu tangannya kemudian membersihkan luka itu dengan pelan dan hati-hati.
Zen akhirnya membawa gadis itu, sebelumnya dia sudah meminta izin pada orang-orang dari lembaga perlindungan anak. sebelum kembali ke rumah, Zen membawa gadis itu ke balai pencatatan sipil di LA. Jade sudah memutuskan untuk menjadikan gadis itu sebagai saudara angkat.
setelah selesai mendaftarkan gadis itu, mereka kembali ke villa milik Jade. setibanya di Villa..
" wahh, apa ini rumah mu?" gadis itu terpesona dengan keindahan bangunan yang ada didepannya itu. dia tidak henti memperhatikan setiap sudut dari rumah itu.
" bukan, itu rumah kita!" Jade melempar senyum manisnya pada gadis itu.
" ah" gadis itu tersipu malu, tapi dibalik itu dia sangat senang bisa bertemu dengan orang-orang yang baik seperti Jade dan yang lainnya.
" ayo masuk!" Zen membukakan pintu mobil untuk gadis itu kemudian membawa mereka masuk.
__ADS_1
Zen segera pergi menuju ke dapur dan membuat makan malam, sedangkan Robin kembali ke kamar dan mandi. Jade menunjukkan kamar tamu yang bisa digunakan gadis itu.
" kamu bisa memakai kamar tamu ini lebih dulu, besok kita akan pergi membeli perabot yang kamu mau!" Jade menunjukkan kamar tamu yang terlihat begitu luas dan elegant dengan kombinasi cat emas dan cream.
" cantik..." gadis itu mengamati setiap inchi dari ruangan itu, dia bahkan tidak sadar kalau Jade sudah pergi.
" thanks..." gadis itu menoleh ke arah Jade namun tidak ada siapapun disitu.
tidak lama setelah Jade pergi, kini Robin datang ke sana.
TOK TOK
" ah, siapa?" gadis itu membuka pintu dan terkejut mendapati Robin disana.
" hei" Robin memberanikan diri untuk menyapa gadis itu.
"ah\, hei" gadis itu membalas sapaan Robin\, walau atmosfirnya sangat canggung -_-||
" uhm...ini saatnya makan malam, ayo aku antar kamu kesana" Robin memberanikan dirinya untuk mengajak gadis itu.
" hm, thanks" gadis itu hanya tersenyum.
mereka kemudian berjalan menuju ke ruang makan, ya walau rumah itu minimalis tapi tetap saja, jika tidak hafal akan tersesat 😅
" wah, rumah ini sangat indah!" gadis itu mengamati setiap inchi dari bangunan megah itu.
" hm, mau melihat-lihat setelah makan malam?" Robin menatap gadis itu, dia melihat gadis kecil yang sangat manis.
" apa boleh?" gadis itu merasa ragu, bagaimanapun dia adalah orang asing disini. ya, walau sudah diangkat jadi saudara tetapi tetap saja dia masih baru.
" tentu saja!" Robin hanya tersenyum. gadis itu terpesona dengan senyum Robin, sangat manis dan indah.
__ADS_1
" kita tiba!" Robin langsung membantu Zen menyiapkan makan malam, dia pergi ke dapur dan mengambil makanan yang sudah siap. gadis itu hanya terdiam didepan meja makan, dia tidak tahu harus apa dan bagaimana.