
" good night my lord!" Leo membawa Jade menuju ke kamarnya dan meletakkan Jade ke atas ranjang king size nya
Sara dan Robin terkejut mendapati sikap Leo yang berubah 180 derajat. Zen hanya menggeleng melihat Sara dan Robin yang kini ternganga, muncul sebuah ide licik dipikirannya.
Zen mengambil beberapa lembar tisu kemudian memasukkannya ke dalam mulut keduanya. Sara dan Robin tanpa sadar mengunyah tisu itu hingga merasa aneh didalam mulutnya.
HUEKK
Sara dan Robin memutahkan tisu itu kemudian mencuci mulut mereka dengan air sedangkan Zen hanya tertawa terbahak bahak melihat keduanya.
" hahaha...kalian sangat lucu!" pekik Zen berlari menjauhi dapur.
" KAK ZEN!!!" teriak Sara dan Robin menggema ke seluruh penjuru rumah. mereka merapikan ruang makan dan mencuci piring kotor kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.
" kak, apa itu benar kak Leo?" tanya Robin yang menjatuhkan dirinya ke sofa kemudian menyalakan TV.
__ADS_1
Sara duduk disofa seberang Robin dan memakan keripik kentang yang dia ambil dari dapur. Zen hanya mengangguk dan kembali fokus dengan ponselnya.
ya, Zen sedang chatingan dengan Nana. Robin dan Sara hanya menghela nafas melihat tingkah kakaknya yang sedang dimabuk cinta.
tidak lama kemudian Leo turun dengan pakaian santainya kemudian duduk disamping Sara.
" apa yang kalian lihat?" tanya Leo yang tidak mendapat jawaban apapun dari Robin dan Sara, ya karena mereka masih sangat fokus melihat Fast and Fourius 7 .
" hahh.. " Leo mendudukkan dirinya kemudian sesekali berebut dengan Sara. susana diruang tamu begitu ramai dan hangat.
" apa hutangmu dengan Jade?" tanya Sara sangat penasaran sedangkan matanya masih sibuk menatap layar televisi. Leo menghela nafas pelan kemudian meneguk soda yang ada dimeja.
" sebuah nyawa!" jawab Leo yang membuat sara dan Robin menatap tajam pada dirinya. Leo hanya menampilkan senyum lembut kemudian menatap lembut kedua anak itu.
" hn, Robin berhutang sebuah keluarga! Sara berhutang sebuah kebahagiaan! Zen berhutang sebuah tembakan! dan aku? aku berhutang sebuah nyawa pada Jade!" seketika semuanya terdiam, kehangatan yang tadi muncul kini berubah menjadi kedinginam dan keheningan.
__ADS_1
Leo mengangkat tubuhnya kemudian mengusap lembut kepala Sara kemudian berjalan menjauh.
Sara, Zen, dan Robin menatap sendu pada Leo yang beranjak pergi. ada sebuah rasa sakit dan hutang budi yang muncul dalam hati mereka.
kini Leo berada dikamarnya, Leo melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya. Leo mendudukkan dirinya dipagar balkon kemudian menghisap rokok yang dia ambil dari laci kamarnya.
" maafkan aku, JD kecil" Leo menghembuskan asap rokok ke udara dan menyesap habis tembakau itu.
Jade mendengar kata-kata Leo, walau dia tertidur indranya tidak pernah salah. setitik air mata mengalir diwajah mulusnya membuat kedamaiannya terusik.
sedangkan Leo hanya bisa menangis dan melampiaskan rasa bersalahnya pada tembakau yang tengah dia hisap.
walau ini menentang aturan Jade tapi, dia hanya menginginkan ketenangan. Leo memandangi langit gelap dimana bintang menghiasi dan sang rembulan yang bersembunyi dibalik awan.
" katrin, apa kamu baik-baik saja disana?" guman Leo sembari menatap langit, air mata tanpa sadar mengalir ke wajah tampannya.
__ADS_1
Leo segera menghapus air matanya dan mengukir sebuah senyuman diwajahnya. bukan senyum bahagia bukan senyum kesedihan, hanya sebuah senyum tanpa makna yang memilukan.