School Lifes

School Lifes
Episode 15


__ADS_3

sebuah mata dimana terdapat permata cokelat yang menghiasi bola mata itu, mata elang yang telah tertutup selama 8 tahun lalu, kini telah kembali. mata itu membuat Zen tersenyum, dia melihat bara api yang amat panas dari sana. dia tahu bahwa Jade sudah kembali, Jade yang serius dan perfeksionis.


" hahh, aku mengerti, aku akan menyiapkan semuanya!" Zen menghela nafas panjang, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu kemudian tersenyum.


" hm." Jade hanya tersenyum.


beberapa jam telah berlalu, kini Robin sudah sadar. Jade langsung masuk dan menghampirinya.


" apa kamu baik-baik saja, Robin?" jade memeluk Robin yang baru sadar, terasa jelas sesuatu yang basah berjatuhan kepundak Robin.


" Ja...de..?" Robin memeluk erat Jade, dia merasa sedih, senang, rindu, kesepian dan lainnya tercampur jadi satu mengalir dalam butiran mutiara yang mulai membasahi wajah Robin.


" Robin ikutlah denganku!" Jade melepas pelukkannya, dia menarik bahu robin dan memegangnya dengan erat.


" eh? " Robin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jade.


" ikutlah denganku ke LA! biarkan aku yang menjagamu" Jade menatap dalam mata pria yang ada didepannya, dia memfokuskan pandangannya dan mencoba menyakinkan orang yang ada dihadapannya.


" eh, aku...tidak bisa merepotkanmu" Robin memalingkan padangannya dari Jade, dia menundukkan kepalanya dan menatap selimut yang ada ditubunya.


" hahh, bukankah kamu kakakku?" Jade menghela nafas, dia mengalihkan pandangannya. kini Jade tengah menatap ke arah jendela yang ada diseberangnya, tepatnya ke langit yang ada diluar jendela. dia menatap jelas kelangit dengan tatapan setajam elang, dia menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal itu.


" Ja..de.." Robin kembali mendongakkan kepalanya, kini dia menatap wajah Jade dengan sangat jelas. dia merasa Jika Jade masih disini pasti dia juga akan melalukan hal yang sama seperti ini.


~~


**Author: bukannya Jade emang disini ya\, bin?**


** Robin: etdah\, gue lupa thor ●_●**


**Author: dah sana lanjutin dialog lu! _-**


~~


" Jade! aku...akan pergi denganmu!"

__ADS_1


sejenak kata-kata yang keluar dari mulut Robin membuatnya terpaku, Jade tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jade masih terpatung sementara Robin mencoba memukul pelan wajah Jade.


" Jade?" Robin menatap Jade bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang dilamunkan oleh temannya itu, eits adiknya


" ah?" jade segera tersadar dari lamunannya, dia kini menatap Robin dengan pasti.


" aku akan ikut denganmu!" Robin mencubit pipi Jade yang tirus.


" urgh, apa aku tidak salah dengar?" Jade melepas cubitan Robin, dia kemudian menyentuh wajahnya dengan kedua tangannya dan mengelusnya dengan lembut.


" hm, AKU AKAN IKUT DENGANMU!!" Robin menekankan setiap kata-katanya. membuat Jade membolakan matanay sempurna, dia tidak bisa kehilangan lagi. beberapa saat lalu Lia dan kini dia tidak ingin kehilangan kakaknya.


" haha, thanks Robin!" Jade memeluk erat Robin, hingga Robin sempat tersentak dan terpatung.


" hm" Robin membalas pelukan Jade, kini punggung kecil Jade terasa sangat kuat, rasanya dia bukan Jade yang dulu lagi. Jade yang ini sudah berubah.


" permisi!" Zen masuk tiba-tiba dan membuat keheningan diantara mereka, walau begitu Jade dan Robin tetap mengeratkan pelukannya dan tidak melepasnya.


" eh, siapa?" Robin yang melihat seorang pria yang masuk begitu saja tiba-tiba terkejut.


"Zen!" Jade menoleh pada pria yang berjalan masuk itu.


" semuanya sudah siap, tuan muda!" Zen memberi kode pada tuannya itu.


" hm, Robin kita pergi besok pagi!" Jade berjalan menghampiri Zen, kemudian dia meminta Zen menjaga Robin.


Jade pergi dengan mobilnya sementara Zen ditugaskan untuk menjaga Robin. Jade pergi menuju ke taman dimana terakhir kali dirinya dan mendiang adiknya menghabiskan waktu bersama, Jade duduk di bangku taman yang beberapa waktu lalu digunakan oleh mereka. melihat pemandangan matahari terbenam membuatnya teringat akan Camelia.


"lia, apa kamu baik-baik saja disana?" Jade menyandarkan dirinya ke bangku taman, dia mendongak ke atas menatap langit senja yang dihiasi awan merah. kini entah mengapa rasanya dadanya sesak, matanya mulai berkaca-kaca dan tanpa sadar, air mata mengalir membasahi pipinya.


" ah?" Jade langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipinya kemudian kembali mengukir senyum diwajahnya. dia teringat akan kematian adiknya.


kini Jade hanya bisa tersenyum simpul, otaknya terus menerus mengulang memori pahitnya dengan Camelia. dia tidak bisa berpikir jernih sekarang, yang terpikir hanya adik perempuannya itu. Jade memutuskan untuk beranjak pergi dan menikmati waktunya hingga dia tidak sengaja menabarak seseorang.


" ah, ma...maaf!" Jade mengulurkan lengannya pada pria yang ditabraknya tadi.

__ADS_1


" hm,tidak apa! ini salahku" kata Pria itu, dia meraih lengan Jade yang membantu dirinya untuk berdiri.


" Na...than?..." Jade terkejut mengetahui bahwa orang yang ditabraknya adalah temannya sendiri.


" Jade?" Nathan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia mendorong bahu Jade dengan kedua tanganya agak menjauh dari tubuhnya, kemudian menggenggam erat bahunya.


" bagaimana kabarmu, Nat.."


" BODOH!!" belum sempat Jade menyelesaikan ucapannya, Nathan sudah memotong kata-katanya. dia masih menunduk dan tidak berani menatap mata Jade.


" ah?" Jade sangat terkejut mendengar kata-kata Nathan, dia agak bingung namun, sepertinya dia mengerti maskud kata-kata temannya itu.


" BODOH! KEMANA SAJA KAU, APA KAMU TAHU KAMI SEMUA MENCARIMU!?" Nathan memaki Jade, kini dia mendongakkan kepalanya, nampak jelas butiran mutiara jatuh membasahi wajahnya. Jade hanya terpatung, melihat temannya menangis membuat dadanya sesak. kini dia hanya terpatung sambil menatap temannya yang kembali menundukkan kepalanya.


" Na.."


" APA KAMU TIDAK PEDULI DENGAN KAMI? APA KAMU PEDULI DENGAN ROBIN!? APA KAMU TAHU KEMARIN...KEMARIN...hisk...hisk...KE...KEMARIN AYAH...A..' Lagi-lagi Nathan memotong kata-kata jade, namun kali ini Jade tidak mau mengalah. dia tidak mau mendengar hal yang menyakitkan dari temannya itu.


" AKU TAHU!" Jade menaikkan nada suaranya, kini dia juga menundukkan kepalanya.


" ah?" Nathan terkejut mendengar jawaban Jade, dia kembali mendongakkan kepalanya berniat untuk menatap manik cokelat yang ada didepan matanya. namun, sang pemilik menundukkan wajahnya dan menyembunyikan manik cokelat itu agar tiada satupun yang bisa melihatnya.


" AKU TAHU!!, AKU TAHU APA YANG TERJADI KEMARIN, AKU TAHU APA YANG TERJADI PADA PAMAN DAN BIBI, AKU TAHU! AKU TAHU APA YANG TERJADI PADA ROBIN!! karenanya..karenanya aku datang kemari..." Jade mengangkat kepalanya dan membiarkan manik cokelat dimatanya ditatap oleh temannya itu, nampak jelas bola mata itu tengah berkaca-kaca, kini Jade sedang berusaha untuk menahan butiran air mata yang hampir jatuh dan membasahi pipinya itu


Nathan menyadari bahwa ada beberapa bulir air mata yang jatuh ketanah, dia menatap Jade dengan jelas. Nathan tidak pernah tahu bahwa Jade juga bisa menangis, bahkan dikala adiknya meninggal.


" jade?" Nathan mengangkat wajah Jade, dia berusaha menghapus sungai air mata yang mengalir diwajah lelaki itu.


" maaf, maaf aku membentakmu! maaf aku meninggalkan kalian begitu saja, maaf" Jade masih menundukkan pandangannya, dia tidak sanggup menatap mata Nathan. rasanya hatinya sakit, dia memutuskan untuk menghapus air matanya sendiri.


" maafkan aku" Nathan berkata dengan sangat menyesal.


" bukan masalah, jadi.... bolehkah aku menceritakan diriku yang sebenarnya?" Jade menatap intens mata Nathan, manik cokelat yang menghiasi matanya kini menunjukkan ambisinya.


" hm" Nathan menangguk, walau dia tidak mengerti maksud kata-kata Jade tapi, dia ingin mendengar penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2