
Kini Jade memberitahu Nathan siapa dirinya yang sebenarnya, alasan kenapa dia pergi tiba-tiba, latar belakangnya,ya.. semua tentang dirinya. Nathan hanya terdiam mendengar cerita Jade, terkadang ekspresinya berubah secara tiba-tiba, kadang kesal, kadang sedih, kadang kasihan.
Jade menghabiskan sepanjang sore untuk menceritakan kisahnya, kisah seorang pengeran paling hebat namun, dia dianggap sebagai aib yang terbesar.
"aku sudah mengerti kondisinya, tapi kenapa kamu tetap memberontak?" Nathan menunjukkan tatapan kebingungan, namun dalam manik matanya terlihat jelas dia tengah mengasihani Jade.
" itu adalah alasan pribadi, kalau soal itu aku tidak bisa menjawabnya" Jade menatap mentari terbenam yang sebentar lagi akan menghilang.
" ah" Nathan mengurungkan rasa penasarannya. kini dia menyesal menanyakan hal itu ketika melihat Jade yang menatap sinar jingga itu dengan penuh kesedihan.
" Nathan!"
"hm?" Nathan tidak tahu kenapa Jade memanggilnya, seketika Nathan mengalihkan pandangannya Pada Jade. manik hitam itu menangkap sebuah senyum siluet yang begitu indah. kini dia hanya terpana dengan wajah Jade, dengan senyum seindah bunga yang baru merekah diwajahnya sebentar.
" apa kamu tahu kenapa matahari terbenam begitu indah?"
" haha, matahari terbenam memang sering dicari namun matahari terbit jauh lebih indah, Jade!" Nathan menjawab pertanyaan Jade dengan sebuah fakta yang nyata.
"hm, kamu benar. tapi, bagiku matahari terbenam begitu indah, dia menunjukkan sisi gelap dan keheningannya dalam perjuangan besar. sinar jingga yang menghiasi langit biru sebelum ditelan kegelapan, rasanya seperti diriku saat ini. tengah dilanda oleh kesedihan dan kesepian. " Jade hanya meracau tidak jelas, Nathan bingung dengan kata-kata temannya itu.
" tidak apa!" Jade yang melihat wajah Nathan tengah penuh dengan kebingungan hanya menggeleng pelan, dia tidak mau Nathan memikirkan kata-katanya itu.
" nathan, besok ...bisakah kamu dan yang lainnya pergi ke bandara?" Jade menatap rembulan yang baru muncul mengikuti mentari yang baru tenggelam.
" eh, kenapa?" Nathan bingung dengan kata-kata temannya ini, dia pikir mungkin Jade akan pergi lagi. tapi kenapa, kenapa dia harus pergi lagi? bukankah dia baru kembali?
__ADS_1
" besok aku dan Robin akan berangkat ke LA!" Jade tersenyum simpul, kali ini dia tidak mau mereka pergi tanpa pamit. Jade tidak ingin dicari tanpa kepastian seperti sebelumnya, kali ini dia ingin memberikan perpisahan yang indah.
"APA!!" Nathan berteriak keras di telinga Jade, Jade sangat terkejut mendengar teriakkan Nathan. saat Jade ingin menoleh dan membungkam mulutnya, Nathan malah menghilang.
" eh, dimana dia?" Jade mencari Nathan kesekitar namun tidak mendapati keberadaannya.
Jade memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tempat Robin dirawat, kini dia tengah duduk di sofa dengan setumupuk e-mail penuh berkas yang membutuhkan tanda-tangannya dengan segera. sementara Robin kini telah terlelap, dan Zen? kalau kamu ingin tahu apa yang dia lakukan, ya kini Zen sedang mengurus kepergian mereka besok, selain itu Zen juga harus mengurus kepindahan sekolah Robin.
hari telah berganti, kini Jade sedang menunggu keberangkatan mereka, Jade hanya diam dan memandangi laptopnya dan Robin hanya fokus dengan buku-buku yang dia bawa. Zen saat ini sedang mencari makanan ringan, sebentar lagi waktu makan siang tiba dan mereka akan berangkat sebelum makan siang. saat ini jam menunjukkan pukul 12:00 waktu Inggris, Jade mencari keberadaan Nathan dan teman-temannya, dia takut kalau saja mereka akan marah padanya. ya, sekarang waktu keberangkatan.
Jade, Zen dan Robin sudah siap pergi. kini mereka sedang berjalan menuju ke Gate yang telah ditentukan, para pramugari segera memberi informasi dan membantu para penumpang, kini pesawat akan segera melakukan Take Off. merekaakan pergi, namun... sekilas Jade melihat dari jendela dipesawat, dia melihat Nathan dan teman-temannya tengah berdiri disana dan melambai pada mereka. jade menunjukkan hal ini pada Robin, dan ya, dia tersenyum melihat apa yang teman-temannya lakukan.
" apa kita bisa bertemu dengan mereka lagi, Jade?" ucap robin lirih, dia tidak mau membangunkan Jade yang tengah tertidur lelap.
" hm..." Robin hanya tersenyum mendengar kata-kata Jade, dia memutuskan untuk kembali ke buku yang dibacanya sejak tadi.
10 jam telah berlalu, bukan waktu yang sebentar tapi kini sudah larut. sekarang jam menunjukkan pukul 10 malam waktu LA, dan kini Zen dan yang lainnya tengah dalam perjalanan menuju ke Villa milik Jade. butuh waktu 45 menit dari bandara untuk sampai Villa milik Jade.
" apa kamu mau tetap tidur di mobil, Robin?" Zen membangunkan Robin yang kini tengah terlelap dimobil.
" pindahkan saja!" tanpa banyak basa-basi Jade meminta Zen memindahkan Robin ke dalam, dia tahu kalau membangunkan Robin saat ini adalah hal yang tidak mungkin.
" hahh..." Zen menghela nafas kemudian mengangkat Robin dan membawanya masuk.
Zen membawa Robin ke kamar tamu, sementara Jade membawa koper mereka masuk. sekarang sudah hampir pukul 11 tepat, dan Jade mendapat panggilan mendadak dari kantor. Jade dan Zen terpaksa pergi ke kantor, mereka mendapat kabar bahwa perusahaan mereka sedang dalam keadaan darurat. ada yang mempermainkan harga saham mereka dipasar saham.
__ADS_1
" cih, sekarang sudah hampir larut. siapa sih yang mencari masalah denganku?" Jade kesal karena harus pergi ke kantor malam-malam begini.
" ayo cepat!" Zen tidak mempedulikan ocehan Jade dia hanya fokus dengan pintu masuk lift yang ada didepan mereka.
ya kini Jade dan Zen sedang sibuk menjalankan rencana B penanggulangan darurat. semuanya sibuk dengan komputer yang ada didepan mereka, semuanya terus bekerja hingga tengah malam. hal ini karena pasar saham akan ditutup pada tengah malam dan dibuka kembali pukul 7 pagi.
" ah, akhirnya selesai!" Jade merebahkan dirinya ke ranjang singel bed yang memang ada dikantornya, sekarang jam menunjukkan waktu tengah malam. perlahan mata jade mulai memburam, matanya mulai terpejam dan kini dia telah terlelap.
" selamat tidur, Jade" Zen yang melihat Jade tidur langsung menyelimuti anak kecil itu hingga ke pangkal lehernya.
" aku harus kembali sekarang, kuharap besok pagi dia tidak membuat masalah besar!" Zen memutuskan untuk kembali ke Villa, mau bagaimana lagi. tidak mungkin bukan jika dia meninggalkan Robin sendiri di Villa, jika saja Robin bangun dan mendapati dia sendirian didalam rumah yang cukup besar, apa yang akan terjadi?
esok harinya sinar mentari merambat masuk kedalam kamar Robin melalui celah-celah jendela kamarnya. Robin berusaha membuka matanya dan mendapati dirinya berada disebuah kamar dengan plafon putih dan dinding dengan kombinasi cat hitam putih.
" urgh.." Robin masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia bingung menemukan dirinya berada dalam kamar yang asing, robin menjelahi seluruh isi kamar itu. selepas puas menjelajah Robin pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, ya walau tadi dia sudah melihat kamar mandinya, dia masih saja terkejut dengan kamar mandi yang dilihatnya sekarang.
hm, sebuah kamar mandi dengan nuansa putih yang terkesan bersih dan menenangkan, Robin segera mandi kemudian turun kebawa untuk sarapan. setibanya di dapur dia masih tidak percaya lagi dengan apa yang dia lihat, sebuah dapur yang lengkap dengan desain sederhana dan minimalis berada dalam rumah itu.
"ah!" Robin menarik kursi meja makan dan kemudian duduk disana, dia menatap Zen yang tengah asik dengan acara memasaknya.
" eh, kamu sudah bangun?" Zen terkejut mendapati Robin ada disana. dia langsung menghidangkan sepiring pasta yang baru saja dia buat.
" ini, makanlah!" Zen menarik kursi dan melepas apron yang membalut tubuhnya, kemudian bersiap menyantap pasta yang ada didepannya.
" ah, thanks!" Robin hanya tersenyum, dia kemudian menyantap pasta yang ada didepannya itu.
__ADS_1