
Zen hanya tersenyum mendapati Jade yang masih sibuk dengan makanannya.
" oh ya, apa Robin sudah selesai?" Jade menatap Zen yang kini sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Robin.
" eh, apa kamu melihat mereka tadi?" Zen terkejut mendapati pertanyaan dari Jade.
" hmm" Jade merapikan piring-piring yang ada di meja kemudian membawanya ke wastafel untuk dicuci.
" Apa? sudah sejak kapan?" Zen terkejut mendengar jawaban santai dari Jade.
" sudah sejak 30 menit yang lalu" Jade kini sibuk dengan acara mencuci piringnya.
Zen kembali fokus dengan acara masak memasaknya hingga akhirnya Robin tiba diruang makan.
" oh, kamu sudah kembali" Zen bertanya dengan nada canggung. dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
Robin berjalan menuju ke wastafel kemudian mencuci mulutnya sampai bersih, dia bahkan hampir mutah.
" apa kamu baik-baik saja,Robin?" Zen menghampiri Robin yang terlihat sangat pucat disana.
" hahh...hahhh....hahh..." Robin langsung memeluk erat Zen.
Zen bingung dengan apa yang terjadi, dia bingung bagaimana dia harus bereaksi. dia mulai memeluk lembut Robin kemudian air mata Robin tumpah.
__ADS_1
setelah menangis cukup lama dipelukan Zen, Zen hanya membiarkan Robin menumpahkan air mata dipelukannya. setelah beberapa lama Robin akhirnya berhenti menangis.
" ayo duduk" Zen menarik kursi yang ada di sampingnya kemudian mendudukkan Robin disana, sedangkan dirinya bersandar pada pantry yang ada dibelakangnya.
" ada apa?" Zen menatap lembut Robin, mata gelapnya kini tengah mengharap jawaban dari pemuda didepannya.
" dia berkhianat" Robin kini masih menundukkan kepalanya, dia menggenggam erat tangan yang ada diatas lututnya.
" eh?" Zen bingung dengan arah pembicaraan ini, siapa yang berkhianat? apa pacarnya?
" gadis itu hanya berpura-pura polos didepanku!" Robin menaikkan nada suaranya membuat bulir air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.
" kala begitu putus saja!" Zen masih bersandar di pantry dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.
" kalau begitu biar aku yang lakukan" Ya, itu Jade. dia menghapus air mata Robin dan menampakkan senyum manisnya.
Robin tidak mengerti dengan maksud kata-kata Jade, dia hanya terdiam menatap adik angkatnya itu begitu mengkhawatirkannya.
hanya aku yang boleh menangis, dan kakak hanya boleh tertawa.
__ADS_1
kata-kata itu terus terbesit dalam pikiran Jade, setelah kejadian di dapur selesai Jade meminta beberapa bawahannya mencari keberadaan gadis itu.
keesokan harinya Robin pergi kesekolah seperti biasa. Zen pergi ke kantor sedangkan Jade masih terlelap.
Drrr Drrr
suara telfon membangunkan Jade dari tidur bayinya.
* halo..*
*.........*
* bawa dia kemari sebelum pulang sekolah!*
*.........*
" ya kamu bisa pergi*
Jade kembali menutup ponselnya kemudian membiarkan dirinya terlelap dalam tidur panjangnya. ini masih hari libur baginya, apa yang harus dia lakukan?
sekolah? dia sudah menyelesaikan kuliah diumur 8 tahun. dia bahkan sudah memiliki gelar profesor
kerja? sudah ada Zen yang menghandle pekerjaanya, selain itu sudah 1 minggu ini dia lembur. jadi tidak masalah jika dia istirahat beberapa hari.
__ADS_1
jadi Jade hanya menghabiskan harinya untuk makan dan tidur hingga anak buahnya tiba di mansion dengan gadis sialan itu.