School Lifes

School Lifes
Episode 68


__ADS_3

"maaf ya kak, tapi kenapa kakak tidak menelfonku saja?" tanya Jade membuat Leo, Zen, dan Nana menatap dirinya dengan tajam. Jade tidak mengerti dimana letak kesalahannya, selama 2 bulan ini dia terlalu fokus dengan pekerjaanya hingga dia melupakan dimana ponselnya berada.


" oh jadi kamu masih ingat kalau kamu memiliki Ponsel, hah?" seketika Zen mengukir senyum iblis diwajahnya. Jade mencoba merogoh saku dan mencari keberadaan ponselnya, setelah cukup lama mencari Jade mulai membuka laci dan mencari ke bawah kursi dan lorong meja akan tetapi Jade tidak menemukan keberadan benda itu.


Jade menatap ketiga orang yang ada didepannya dengan ragu dan mengukir senyum tanpa dosa diwajahnya, tangannya mulai mengarah kebelakang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" hehe, maaf ya kak! aku lupa dimana ponselku" jawab Jade yang berakhir dengan tiga pukulan mendarat dikepalanya. Leo menghela nafas kemudian menatap kesal pada Jade, Nana melangkahkan kakinya menuju ke ruang istirahat Jade kemudian mencari ponsel milik Jade.


" hahh, kamu ini? " Zen menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengambil ponsel dari tangan Nana. Zen mengangkat ponsel itu dengan tangan kanannya kemudian menyalakan ponsel milik Jade.


1 menit sudah berlalu dan ponsel Jade tidak menyala, Jade mengambil ponselnya kemudian mencoba menyalakan ponsel miliknya.


" hehe, baterainya habis!" seru Jade dengan wajah tanpa dosa setelah mencoba menyalakan ponselnya beberapa kali. Leo menatap tajam Jade kemudian berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


" ah, ka...kak...a..aku..bisa...men...je..las...kan...nya" Jade mulai begidik karena aura mengerikan yang keluar dari tubuh Leo. Jade berdiri kemudian menarik dirinya perlahan menjauhi tubuh Leo, Zen mulai berjalan kebelakang Jade dan menahan tubuhnya.


" heh, kamu sudah berani menghiraukanku ya?" tanya Leo sembari memasang senyum iblis diwajahnya, kini Jade sudah tidak bisa melangkah mundur karena Zen sudah berada dibelakangnya.


" ah, kak Zen?" Jade mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Zen yang sudah ada dibelakangnya. Jade memejamkan matanya takut jika kedua orang itu akan membunuhnya karena kecerobohannya.


~~


Author: bodo*


~~


SRATT

__ADS_1


Jade merasa udara disekitarnya menghilang, bukan karena oksigen lenyap dari muka bumi. bukan juga karena dia terlempar ke ruang hampa udara, tapi karena kedua kakak angkatnya memeluknya dengan amat erat sehingga dia kesulitan bernafas.


Jade merasakan sesuatu membasahi bahu kanannya, dan itu bukan karena ada hujan badai dalam kantornya. bahunya basah karena Leo menangis diantara ceruk lehernya.


Jade kini hanya menatap sendu pada dinding disebrang matanya, dia merasa sangat menyesal dan bersalah dengan apa yang telah dia lakukan. seharusnya dia tetap menghubungi kakak-kakaknya walau sesibuk apapun dirinya.


Bekerja boleh, tetapi istirahat harus menjadi prioritas. selain itu ini adalah kesalahan bagi Jade yang membuang ponselnya sembarangan dan tidak menanggapi setiap panggilan dari kakak angkatnya.


" maaf.." kata itu terlepas keluar dari bibir Jade. Leo mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya, kini dia menatap Jade yang kurus dengan mata panda yang memghiasi wajahnya dengan tatapan membunuh.


" hari ini kamu pulang! jika kamu tidak mau pulang, kita kemarkas!" ketus Leo yang langsung diangguki oleh Zen dan membuat Jade terkejut. Jade memandang kedua kakaknya dengan tatapan tajam.


" aku tidak bisa, saat ini perusahaan masih membutuhkan keberadaanku!" Seru Jade menatap dingin pada Leo yang ada didepannya, Aura dingin mulai keluar dari tubuhnya dan membuat ruangan yang sebelumnya hangat jadi mencekam.

__ADS_1


__ADS_2