School Lifes

School Lifes
Episode 14


__ADS_3

BRAAKK!!!


suara pintu yang dibuka dengan keras, membuat ruangan rapat yang sebelumnya ricuh menjadi tenang. seluruh tatapan fokus pada seorang pengawal yang membuka paksa pintu itu.


" dimana sopan santunmu?" Jade berdiri kesal, dia melipat tangannya kedepan dada dan terus menatap pengawalnya itu.


" ma...maafkan saya tuan muda! tapi, ada berita darurat dari mata-mata anda di EROPA!" pengawal itu menekankan kata EROPA, supaya Jade mau mendengarkannya.


" APA? APA YANG TERJADI!?" begitu mendengar Eropa,wajah Jade langsung berubah masam. kini dia berpikir apa yang terjadi dengan kakak tersayangnya itu, dia berjalan dan memberi kode pada pengawal itu untuk mengikutinya menuju ke kantornya. Zen diberi kode untuk melanjutkan rapat tanpa dirinya.


Jade dan pengawal itu pergi ke kantor Presdir, setibanya Jade langsung duduk dikursi Zen, disana terdapat papan nama bertulis Wakil Presdir. pengawal itu langsung buka mulut dan memberitahu apa yang dia dengar dari rekannya yang ditugaskan di Eropa. pengawal itu bilang kalau kedua orang tuan Robin telah tewas dalam kecelakaan, kini Robin sedang berada dirumah sakit untuk mengambil jenazah kedua orang tuanya.


" a...apa..? ap...apa..kamu bilang??" Jade tidak percaya dengan apa yang dia dengar, kini seluruh tubuhnya gemetar, nampak bola matanya mulai berkaca-kaca, kini dia tengah terpatung. dia membeku mendengar hal itu, baru beberapa bulan semenjak kematian adik tercintanya, dan kini? dia tidak percaya dengan kematian orang tua Robin.


" KAK NANA!!!" Jade berteriak memanggil sekertarisnya itu. dia meminta pengawal itu keluar dan memberitahu rekannya untuk menghubungi Jade secara langsung. pengawal itu pamit undur diri sekarang, dan Nathalia masuk kedalam ruangan, mencoba mencari keberadaan Jade diruangannya, namun dia mendapati Jade tengah terpantung di depan meja Zen.


" apa ada masalah, Jade?" tanya wanita itu, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. dia bingung kenapa Jade terpatung seperti itu.


" siapkan tiket keberangkatanku ke Eropa sekarang juga!" Jade kembali tersadar dan segera meminta sekertarisnya untuk memesankan tiket untuknya.


Mendengar perintah Jade, Nana langsung mengurus kepergiannya bersama Zen ke EROPA. dia memang tidak mengerti kenapa Jade dengan sangat tiba-tiba membatalkan semua jadwalnya dan meminta pergi ke EROPA sekarang juga. dia melihat atasannya itu tengah terpatung dan melamunkan entah apa itu? dia pikir ada masalah mendadak yang terjadi di EROPA. Nana bahkan diminta untuk memanggil Zen yang sedang rapat dengan para petinggi dan membawanya pergi.

__ADS_1


hm, Nana berhasil melakukannya, walau akhirnya dia kena marah oleh Zen tapi, sepertinya itu tidak seberapa dibanding melihat wajah Jade tadi.


" jadi, ada apa?" Zen yang baru keluar dari ruangan bingung ketika Nana menariknya menuju ke kantor.


" sepertinya ada masalah di EROPA, Jade tiba-tiba mau pergi kesana!" Nana menjawab dengan singkat pertanyaan itu.


" ada apa, Jade?" Zen yang baru masuk ke kantor sangat terkejut melihat Jade tengah panik, dia telah memukul dinding kaca yang ada diruangan itu hingga kacanya pecah. melihat hal ini Zen langsung mengambil kotak obat dan mengobati luka ditangan Jade.


" sebenarnya ada masalah apa, JD kecil?" Zen masih fokus membalut lengan Jade dengan perban. sementara Nana sedang mengurus tiket kepergiaan Jade.


" Robin!"


Hanya kata itu yang terucap dari mulut jade, setelahnya tetesan air mata mulai turun dari pelupuk matanya, dan turun mengenai wajah Zen. Zen sangat terkejut melihat Jade kecilnya itu menangis, untuk pertama kalinya Zen melihat Jade yang menangis. Jade sebelumnya tidak pernah menangis kecuali untuk keluargannya, saat pemakaman ibunya dia menangis deras, saat pemakaman adiknya dia membanjiri wajahnya, dia tidak pernah menangis saat terluka, bahkan saat dia merindukan adik dan ibunya dia tetap tegar, hanya saja jika berkaitan dengan Robin, Jade menjadi begitu lemah. Zen tidak tahu kenapa tapi, sepertinya Robin adalah keluarga yang baru bagi Jade.


setibanya dibandara Jade dan Zen langsung mengejar penerbangan dadakan mereka, kini mereka berlari menuju Gate keberangkatan mereka. butuh waktu 9-10 jam untuk sampai ke EROPA, selama perjalanan Jade sangat khawatir hingga dia kelelahan berpikir dan akhirnya memutuskan untuk tidur.


setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya tiba di EROPA. Jade dan Zen segera mengambil Mobil mereka yang berada di bagasi pesawat kemudian segera membawanya. mereka langsung pergi ke tempat tinggal Robin, setibanya disana Apartemen Robin sudah sangat sepi, jenazah kedua orang tuanya sudah dimakamkan sejak kemarin. kini dia tengah menangis dikamarnya, matanya sembab, suaranya serak, dadanya sesak, dia sangat berantakan.


" kita tiba!" Zen langsung memarki Mobilnya diparkiran sementara Jade langsung berlari begitu saja dan meninggalkan Zen diparkiran. jade berlari menuju ke apartemen Robin, setibanya disana dia mengetuk pintu, menekan bel beberapa kali kemudian berteriak memanggil nama Robin. tapi, setelah 10 menit menunggu Jade menjadi tidak sabaran, dia memaksa masuk ke apartemen Robin, dia masih ingat sandi apartemen kakaknya itu, dia hanya bisa berharap sandinya tidak diganti. :(


setelah berhasil masuk Jade, langsung meneriakkan nama Robin, dia mencari robin ke seluruh rumah dan dia terkejut mendapati Robin dikamar mandi. hm, Robin tengah mencoba membunuh dirinya dengan cara membenamkan kepalanya ke wastafel kamar mandinya itu.

__ADS_1


" ROBIN!!" Jade langsung menarik Robin dan memeluknya erat.


" Ja..de.?" Robin masih sadar, walau matanya buram karena terlalu lama didalam air setidaknya dia masih bisa mendengar dengan jelas suara Husky yang khas itu membuatnya tersadar.


" gawat, kita harus kerumah sakit!" Jade merogoh ponsel yang ada disakunya dan mencari nomor Zen. saat Jade tengah sibuk mencari nomor ponsel Zen, Robin memeluk erat Jade. air mata mulai mengalir dan membasahi wajah Robin.


" ssttss, jangan bicara! kakak bisa menangis kapan saja kakak mau" Jade menenggelamkan Robin dalam pelukannya, kini dia memeluk erat robin dengan sebelah tanganya dan yang sebelah lagi digunakan untuk mengetik dan mengirim pesan pada Zen.


tidak lama setelah menerima pesan dari Jade, Zen segera menuju ke apartement milik Robin. setibanya disana Zen sangat terkejut melihat Robin yang sangat berantakan dipelukan Jade.


" Zen!" Jade yang sedari tadi khawatir sambil menunggu kedatangan Zen langsung membuka matanya dan memanggil pria yang ada didepan pintu.


" ah, Robin?" Zen langsung masuk dan mengangkat Robin ala bridal style kemudian membawanya menuju ke mobil yang mereka parkir dibawah.


" Zen, cepat!" Jade meminta Zen menaikkan kecepatan mobilnya, dia benar-benar khawatir dengan kondisi Robin. Zen kemudian menaikkan kecepetan melampaui 100km/h yang bisa dicapai dalam hitungan detik.


jarak apartemen Robin ke Rumah sakit sekitar 120 Km, jadi hanya butuh waktu 7 menit untuk tiba. setibanya dirumah sakit, mereka langsung membawa Robin ke ICU. dokter mulai memeriksa kondisi fisik dan psikis Robin. sementara Jade dan Zen tengah menunggu di lorong.


" Jade" Zen mulai memecah keheningan yang sedari tadi menghantui.


"hm?" Jade hanya menoleh sebentar dan kembali fokus ke ponselnya.

__ADS_1


" apa ini layak?" Zen memainkan tangannya, dia menatap langit-langit sambil menanyakan pertanyaan aneh itu.


" hahh, ini tidak cukup! Robin adalah keluarga bagiku, keberadaannya sama seperti mu, Mama dan Lia. dia adalah cahaya milikku, dia yang melindungi dan membawaku keluar dari kegelapan ini. karenannya, aku tidak akan membiarkannya menderita!" Jade mematikan ponselnya kemudian menatap Zen dengan tatapan serius. mata elang yang telah tertidur selama 8 tahun ini, kini terbuka sekejap.


__ADS_2