School Lifes

School Lifes
Episode 82


__ADS_3

" apa?" ketus Jade sembari menatap garang pada Zen.


Zen mengukir senyum seribu watt kemudian mengangkat tubuhnya dan memeluk Nana. dipeluknya pinggang Nana degan posesif dan membuat Jade memutar bola matanya jengan sedangkan Zen mengukir senyum liciknya.


" minggu depan aku dan Nana akan menikah!" ucap Zen yang langsung membuat Nana dan Jade membatu.


1 detik..


2 detik..


3 detik...


" APA!!????" teriak Nana dan Jade bersamaan.


Zen hanya bisa menutup telinganya dan mengasihani nasib yang terjadi pada telinga indahnya. Jade menatap tajam pada Zen dan Nana, Nana kini masih mencoba mencerna perkataan Zen akan tetapi gagal.

__ADS_1


" kak apa maksudmu?" tanya Jade sembari menahan amarahnya.


Zen mengukir senyumnya dan kembali memeluk Nana, kali ini Lehernya yang dipeluk dengan posesif. diciumnya pipi kanan Nana dan Nana hanya bisa membolakan matanya. Jade mantap tajam Zen yang tengah asik bercumbu ria .


" aku sudah bilang bukan, aku akan menikahi Nana minggu depan!"


Jade hanya bisa menggeleng, Zen melepas pelukannya kemudian berjalan ke depan Nana. Zen mengambil sebuah kotak hitam dan berlutut didepan Nana. di bukanya kotak itu dan menampilkan sebuah cincin permata yang sangat indah, disana terhias sebuah berlian yang sangat indah. Nana meletakkan kedua tangannya didepan mulutnya, kini dia ternganga melihat Zen yang tengah melamarnya.


" will you marry me, nana?"


" i will!" jawab Nana yang membuat Zen mengukir senyumnya.


Zen berdiri kemudian mengangkat Nana ke gendonganya, diangkatnya gadis manis itu dan dia bawa terbang ke udara. Nana benar-benar bahagia saat ini, Jade hanya bisa mengukir senyumnya melihat kebahagiaan kakak angkatanya itu.


Zen menurunkan Nana dan mencium lembut kening gadis manis itu. Jade hanya bisa mengeleng melihat tingkah Zen, akan tetapi dia tidak peduli lagi dengan romansa mereka. Jade sudah memiliki cintanya sendiri, dia memilki Julietnya dan kini kisah cintanya tengah berada dalam perjuangannya.

__ADS_1


" baiklah, kalau begitu hari ini kita pulang dan tidur lebih dulu!" rengek Jade yang menganggu momen romantis Zen dan Nana.


Nana menganguk sedangkan Zen mendengus kesal, moment indahnya harus dihancurkan oleh Jade. Zen melangkahkan kakinya dan menyeret Nana juga Jade menuju ke parkiran bawah.


Jade segera membuka pintu mobilnya duduk dikursi penumpang dan memejamkan matanya. kenapa Jade duduk dikursi penumpang? ya karena dia tidak ingin mengganggu momen indah dari Zen dan Nana. jadi Jade lebih memilih untuk duduk dibelakang dan tidur.


Zen segera melajukan mobilnya menuju ke manison milik Jade. setibanya disana Zen tidak membangunkan Jade dan langsung mengangkat tubuh remaja itu dan membawanya menuju ke kamarnya.


" heh, kapan kamu akan tumubuh besar Jd?" gumam Zen yang mengangkat tubuh Jade. dan bukannya berat yang dia dapat akan tetepi ringan, tubuh Jade memang tidak terlalu berat, ditambah degan tidak makan seminggu membuat Jade menjadi semakin kurus.


" biar saja!" ketus Nana yang mengerti maksud kata-kata Zen.


Zen hanya memasang cengirannya dan menatap Nana degan wajah tanpa dosa. ingin sekali Nana melempar wajah itu dengan karung beras akan tetapi sayang, namanya juaga calon suami, masak ditimpuk pake karung kan sayang?


" hehe, maaf-maaf!"

__ADS_1


__ADS_2