School Lifes

School Lifes
Episode 13


__ADS_3

" hm, panggil mereka masuk!" kata Jade memberi kode, Nana bergegas memangil satu per satu peserta namun jade meletakkan kepalanya ke atas guling yang ada dipelukannya.


" permisi," kata peserta pertama yang masuk. dia melihat ke sekitar namun tidak mendapati orang yang bertugas mewawancarinya. dia hanya mendapati jade yang tertidur lelap dikursi, kemudian mencoba membangunkan Jade.


" urgh.." Jade yang baru bangun menggosok kedua matanya.


" ah, maaf membangunkanmu adik kecil! tapi, dimana orang yang bertugas mewawancaraiku?" tanya orang itu dengan sopan.


" ah, wawancaranya diundur besok kakak cantik!" jawab Jade, dia senang menemukan orang yang mengerti sopan santun.


" eh? tapi, kemarin saya mendapat e-mail bahwa wawancaranya hari ini?" wanita itu bingung, dia kemudian mengecek ponselnya kembali.


" ah, benar! adik kecil, terimakasih untuk infonya, dan maaf sudah membangunkanmu!" kata wanita itu memberikan cokelat yang ada didalam tasnya.


" eh, apa ini?" tanya Jade yang menatap cokelat itu.


" itu tanda permintaan maaf saya. kalau begitu saya permisi!" kata wanita itu yang berlangsung pergi.


" ah, kakak! bisakah kakak merahasiakan ini dari yang lain?" Jade menunjukkan wajah memelasnya. hal ini tentu saja membuat wanita itu tidak bisa menolak permintaan Jade.


" baiklah, adik kecil!" wanita itu segera pergi menjauh.


jam demi jam berlalu, senja pun datang. dengan penuh kemalasan Jade kembali ke kantor dan tidur. hari ini sangat melelahkan, dia menyeleksi 20.000 orang dari sopan santun dan tata krama mereka pada orang lain. hal ini membuatnya sangat lelah.


" hah, apa kamu segitu lelahnya?" Zen membaringkan dirinya ke sofa.


" hm, ini sangat melelahkan! jika.." Saat Jade bicara dia hampir mengatakan Jika Robin disini dia pasti akan menghajarnya namun, Jade berhenti sebelum sempat mengatakan itu.

__ADS_1


DRRR DRRR


" heh, ponselmu berbunyi sejak kemarin, apa kamu tidak mau menjawabnya?" Zen mulai kesal dengan ponsel Jade yang berbunyi sejak kemarin, namun respon Jade malah tidak peduli.


" biarkan saja! aku tidak mau dia tahu" kata Jade yang membalikkan dirinya, kini Jade terbaring menghadap ke dinding.


" hahh, kenapa kamu tidak mengangkatnya saja? kakak angkatmu pasti sangat khawatir akan dirimu, begitu juga dengan teman-temanmu!" kata Zen yang mengangkat tubuhnya. dia mendudukkan tubuhnya itu diatas sofa dan menatap ponsel milik Jade.


" hahh, iya-iya!" Jade bangun dari ranjang dan mengambil ponsel milknya. dia menatap ponsel itu sebentar kemudian mengangkat panggilan yang dilayangkan oleh Robin.


" ha.." belum sempat jade berucap dan dia sudah dipotong oleh teriakan Robin.


" JADE!!!!" terdengar suara Robin, dia sepertinya sangat khawatir dengan Jade. terdengar dengan jelas diantara teriakan itu terdapat isak tangis dari suara robin yang sampai pada Jade.


" Ro..bin?" Jade baru sadar, Robin begitu menyayangi dirinya dan dia dengan egoisnya pergi begitu saja tanpa pamit pada kakak angkatnya itu.


" Jade, dimana...dimana kamu sekarang?" Robin merasa gemetar. dia takut isak tangisnya terdengar oleh Jade.


* tenanglah\, kamu bukan Jade yang cengeng lagi!*


* tenang\, tetap tenang! *


** kamu tidak boleh membuat Robin khawatir!* *


kata-kata itu terus terucap dalam benak Jade, dia berusaha sebaik mungkin mengontrol dirinya. terlihat gumpalan mutiara bening mulai muncul dimata Jade, aliran air mata itu hampir keluar dari bendungannya. kini Jade hanya bisa mengontrol deru nafas dan suaranya, air matanya telah menetes jatuh kewajahnya. namun, isaknya tidak tersampaikan pada Robin, dia tidak mau orang paling berharganya ikut sedih karena dirinya.


" ah, syukurlah! tapi, dengan siapa kamu disana?" Robin khawatir dengan keadaan jade, namun dia sudah tenang karena mengetahui keberadaaan Jade.

__ADS_1


" aku disini dengan Zen!" saat ini Jade semakin mendekap erat gulingnya, dia begitu gemetar. tubuhnya hampir tidak bisa dikontrol lagi, dia memeluk gulingnya dengan erat dan semakin erat.


" baiklah, aku akan memberitahu yang lain kalau kamu baik-baik saja! jadi, jangan khawatirkan kami. kamu fokus saja dengan pekerjaanmu disana!" Robin tahu kalau sejak dulu Jade sudah membangun kerajaan bisnisnya sendiri, Robin tahu kalau setiap malam dia harus mengatasi masalah perusahaan, dan terkadang melakukan kerja sambilannya itu.


" hm, maaf merepotkanmu!" Jade tersenyum simpul, dia mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak turun. dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan isak tangisnya


" bukan masalah! lain kali datanglah dan berkunjung" Robin menghapus tangisnya, terdengar dari suaranya yang mulai bersemangat itu, menandakan dia mendukung keputusan Jade.


" sampai jumpa, Robin.." sebelum kata-kata itu berhasil terucap, Jade sudah mematikan ponselnya lebih dulu. kini dia tengah meringkuh diatas ranjang, dia menutup dirinya dengan selimut dan memeluk erat gulingnya. sesekali dia mencengkram erat dadanya, entah kenapa rasanya sesak.


Selama Jade menenangkan dirinya Zen pergi melanjutkan pekerjaannya, tumpukan pekerjaan yang tiada henti sedang menunggunya, dia kemudian membaca satu per satu berkas yang ada kemudian menandatangani nya. dokumen-dokumen penting diletakkan dimeja kerja milik Jade, dia tidak selancang itu dengan atasannya, setidaknya dia tahu berkas itu membutuhkan pertimbangan lebih untuk menentukan nasib perusahaan.


beberapa bulan telah berlangsung, Jade semakin fokus dengan pekerjaanya. setiap hari Jade dihadapkan dengan tumpukan berkas, puluhan rapat, beberapa konfrensi pers, dan satu atau dua pesta. begitu pula dengan hari itu, hari yang sangat-sangat membosankan seperti hari lainnya, walau Jade sudah berhasil mengusai Amerika dalam waktu beberapa bulan, hal ini tidak membuatnya puas. mengingat kalau dirinya memang sudah berhasil menguasai sebagian Amerika sebelumnya, kini dia mulai menjamah Eropa. Jade mengingat akan keadaan Robin, saat ini dia memikirkan apa yang dilakukan oleh kakak tercintanya itu.


" hahh," Jade membuang nafas panjang, hari ini seperti hari biasa lainnya, dia tidak menjawab panggilan atau Spam yang dilayangkan oleh Robin.


" maaf ya, Robin.." Jade mematikan ponselnya, kemudian dia melanjutkan rapatnya dengan anggota dewan petinggi perusahaan.


sementara itu disisi lain bagian bumi, di Eropa..


" Robin, ayo kita ke kantin!" Nathan dan yang lainnya memanggil Robin yang sedari tadi menatap jendela kelasnya.


"aku datang!" Robin berjalan malas, dia menghampiri teman-temannya. selepas dari kantin dia mendapati telfon dari rumah sakit mengenai kedua orang tuanya yang mengalami kecelakan. mendengar hal itu seketika tubuh Robin melemas, kakinya tidak mampu diajak berdiri, otaknya tidak bisa memproses apa yang tengah terjadi. seluruh teman-teman Robin panik melihatnya yang seperti ini. tanpa disadari air matanya turun dan membasahi pipinya.


" Hei, Robin?"


" apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


" apa ada masalah, Robin?"


semuanya begitu menghawatirkan Robin, sementara Robin masih sibuk mencerna kata-kata yang barusan dia dengar.


__ADS_2