
" ah, Zen? apa sih yang kamu lakukan" Jade sangat kesal dengan tingkah laku Zen, ya kalau mau membangunkan ya pakai cara yang normal sedikitlah.
" hahh, cepat pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu!" Zen memberi titah sedangkan dirinya pergi menuju ke ruang makan. disana dia mendapati Robin yang sudah hampir selesai menyantap makanannya, Zen hanya terkekeh melihat Robin yang makan dengan lahapnya.
" ah, kakak?" Robin terkejut mendapati Zen ada disana, kini dia kembali fokus dengan sandwich yang ada didepan matanya.
" apa kamu suka?" Zen mengusap lembut surai hitam milik Robin, dia kemudian kembali menuju ke dapur dan membuat Segelas Susu untuk Robin dan Jade.
" kak, apa kamu bisa mengajarkanku?" Robin menatap punggung Zen yang sedari tadi masih fokus dengan susu yang ada didepannya.
" hm, mungkin lain kali!" Zen meletakkan segelas susu vanilla yang baru dia buat didepan Robin.
" bukahkah ini milik Jade?" Robin langsung tahu begitu mencium bau Vanilla dari susu itu.
" eh, benarkah?" Zen mencium bau susu nya kemudian segera mengganti Susu itu dengan segelas susu murni.
" aku akan memberikan ini untuk Jade, kamu tunggu dulu diruang tamu. aku akan mengantarmu setelah ini!" Zen berjalan menuju ke kamar Jade, dan Robin hanya mengangguki kata-kata Zen.
ya, kini Zen ada di kamar Jade. dia terkejut mendapati Jade yang kembali terlelap dalam tidurnya, Zen mengangkat kembali segelas susu vanilla yang masih panas itu dan bersiap menyiramnya, namun yang terjadi malah Jade mengambil susu itu dari tangan Zen begitu saja.
" hm.. " Jade menikmati susu vanilla yang dibawa oleh Zen, dia meneguk habis segelas susu itu kemudian berjalan ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya.
~~
**Author: kalau kalian tanya kenapa Jade mandi lagi\, soalnya tadi Jade ngak mandi. dia cuma masuk ke kamar mandi terus keluar lagi waktu Zen udah keluar :) **
~~
" hahh, anak ini?" Zen memijat ujung pangkal hidungnya kemudian turun dan segera mengantar Robin menuju ke sekolah.
__ADS_1
Jade kini berjalan menuruni setiap anak tangga dan berjalan perlahan menuju ke dapur, ya kini Jade sudah disana, matanya mencari keberadaaan makanan disetiap sudut dapur.
" ZEENNNN!!!" teriaknya mengaung keseluruh penjuru rumah.
" cih, dia tidak membuatkan sarapan untukku!" celetuknya kesal karena tidak dibuatkan sarapan oleh kakaknya itu, ya kini Jade tengah mencari apron. dia membuka setiap sudut lemari namun, tidak mendapati keberadaan benda yang tengah ia cari itu.
" ah, disini!" Jade menemukan apron itu berada diruang tamu, dia bingung kenapa benda itu ada disana tapi yang jelas dia yakin kalau Zen tengah pergi dengan terburu-buru.
" hm, aku akan masak apa ya?" Jade membuka lemari es miliknya dan mencari bahan makanan, dia sesekali bersenandung saat akan membuka pintu lemari es-nya. akan tetapi wajah senang Jade berubah masam ketika, dia tidak menemukan apapun didalam lemari es miliknya.
" hahh, lebih baik aku pesan makanan saja!" Jade melepas apron yang membalut tubuhnya, kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mencari ponselnya.
" hm, dimana ya?" Jade mencari keberadaan ponselnya disetiap sudut kamarnya, namun dia masih belum menemukannya.
" akhirnya!" Jade puas ketika mendapati ponselnya ada dibawah ranjang,dia tidak tahu bagaimana benda itu ada disana tapi, yang jelas kini dirinya tengah sibuk memikirkan makanan apa yang akan dia makan.
DRRR DRRR
suara bel pintu menandakan bahwa makanan yang ia pesan telah tiba, Jade meninggalkan konsol video gamenya sejenak dan mengambil pesanan yang ia minta.
" aku sudah membayarnya lewat rekening!" Jade mengingatkan kembali pelayan yang mengantarkan makanannya itu.
" tentu tuan, selamat menikmati makanannya!" kata pelayan itu yang kemudian beranjak pergi dari sana dan kembali dengan pekerjaannya.
Jade kembali ke ruang tamu dengan sepiring pasta dan Smoothies yang tadi ia pesan, kini dirinya tengah menyantap habis sepiring pasta itu sambil menonton televisinya yang menurutnya sangat membosankan. belum habis Jade menyantap makanannya dan kini Zen telah kembali ke kediaman, dia terkejut mendapati Jade memesan makanan dari luar.
" ah, Jade!?" Zen menatap Jade dengan tatapan membunuh, kini aura membunuh sudah tersebar luas dan memenuhi ruangan itu.
" ah, ka...kak..?" Jade menarik dirinya mundur beberapa langkah dari Zen, dia takut akan murka kakak angkatnya itu.
__ADS_1
" kenapa kamu membeli makanan dari luar he?" Zen kini tengah menunjukkan Smirknya, tatapan membunuh ditambah Senyum sinis penuh makna itu membuat Jade bergidik ketakutan.
" ah..i..itu...ta..di...kakak lupa membuatkan aku sarapan!!" Jawab Jade spontan dengan penuh kejujuran.
" lalu kenapa kamu tidak membuat sarapan sendiri ha?" Aura membunuh semakin terpancar, kini suasananya sangat tegang. Jade tidak akan mampu menghindar.
" a..ampun kak!" Jade segera membuang makanan yang tadi ia pesan, padahal dia baru makan beberapa suap. ya, kini perutnya sangat marah, terjadi demo besar-besaran disana.
" ayo kemari, aku buatkan sarapan!" Zen menarik kerah baju Jade dan membawanya menuju ke dapur. Zen terkejut mendapati bahwa lemari es sudah kosong, dia ingat untuk membeli bahan makanan tapi ia lupa setelah membangunkan Jade dari tidurnya.
ya, beberapa bulan telah berlalu kini Robin sudah terbiasa dengan kehidupan sekolah barunya di LA, Jade masih sama saja. dia masih sangat fokus mengembangkan perusahaan dan kini dirinya tengah terkapar setelah 3 hari belum tidur.
" Jade..ayo bangun!" Robin mengusap lembut surai cokelat milik Jade, dia mengharap Jade akan segera bangun mendapati dirinya disana.
" urgh.." lenguhan kecil terdengar keluar dari mulut Jade, namun dirinya tidak kunjung bangun dia malah menarik selimut dan menutupi tubuh hingga kepalanya. Robin hanya tersenyum melihat tingkah adik laki-lakinya ini, kini dia meninggalkan Jade yang masih ingin tertidur.
" eh, Robin dimana Jade?" Zen terkejut mendapati Robin yang turun seorang diri tanpa Jade. dia ingat beberapa saat lalu dia meminta Robin membangunkan Jade.
" dia masih bermimpi!" jawab Robin sambil menunjukkan senyumnya.
" hahh, anak ini?" Zen masih sibuk mengaduk masakan yang ada di penggorengan dan terkadang dia sibuk memindahkan lauk ke meja makan.
" hehe.." Robin hanya terkekeh melihat reaksi dari kakak angkatnya ini, ya kini dirinya sudah menaggap Zen sebagai saudaranya sendiri.
" hahh, segera habiskan sarapanmu kemudian aku antar kesekolah!" Robin hanya mengangguk kemudian menyantap makanan yang di buat oleh kakak angkatnya ini.
" ah, bagaimana sekolahmu?" Zen duduk setelah selesai memasak, dia ikut menyantap sarapan yang telah ia buat selama 1 jam ini.
" baik, aku mulai terbisa dengan tempat ini" Robin masih fokus kembali dengan piring dan hidangan yang ada didepannya.
__ADS_1