
" lalu, apa kamu sudah punya pacar?"
BYURR
seketika pertanyaan yang dilontarkan Zen membuat Robin menyemburkan segelas susu yang dia minum.
" ahh?" Zen sontak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Robin, hm kini terlihat jelas wajahnya mulai masam. dia harus membersihkan dapur sekali lagi
~~
Author: poor Zen :'(
~~
" apa kamu tidak bisa lebih santai?" Zen menatap kesal pada Robin.
" ah, ma..maaf! kakak mengagetkanku sih!" Robin mengelap bibirnya yang masih terdapat sisa susu disana.
" hahh, jadi sudah belum?" Zen menatap intens pada Robin, Robin hanya mengagguk pelan dengan wajah yang agak memerah.
" ya sudah, jaga dia baik-baik! sekali-kali bawa dia kemari" Zen mengusap surai hitam legam yang ada disebelahnya
" eh, kakak tidak marah?"
"kenapa aku harus marah? lain kali ajak dia kemari!" Robin terkejut mendapati reaksi Zen, biasanya kalau menanyakan hal seperti ini berati si penanya berharap dia belum punya pacar, tapi kini Zen malah bersyukur dan memintanya membawanya kemari? WHAT??
" ah, i..iya" Robin menjawabnya dengan malu-malu.
Zen kemudian segera mengantar Robin menuju ke sekolah, selama perjalanan Zen terus menggoda Robin hingga wajahnya memerah seperti tomat. setibanya disekolah Zen mendapati seorang gadis yang tengah menanti Robin disana.
" apa dia pacarmu?" Zen menatap gadis yang tengah melambai pada Robin.
" hm, namanya Lilian!" jawab Robin singkat, kemudian dia bergegas menuju ke gadis yang tengah melambai pada dirinya.
" hm.." Zen menatap jelas gadis itu, sudah jelas kalau gadis itu hanya menginginkan harta dan kekayaan. Zen melajukan mobilnya kembali menuju ke Villa. setibanya di Villa Zen masih belum mendapati keberadaan Jade, dia mencari Jade ke kamarnya dan dia menemukan Jade masih terkapar lelah diatas ranjang.
" hahh, anak ini?" Zen menepuk pelan jidatnya.
" JADE!! CEPAT BANGUN!!" teriaknya membuat Jade terbangun dari mimpi indahnya.
" urgh, apa sih kak? " Jade membalikkan posisinya menghadap dinding.
" CEPAT BANGUN INI SUDAH PUKUL 10:00 AM!!" Zen menyibak selimut yang membungkus tubuh Jade.
" heh, biarkan aku istirahat sehari saja! aku sudah tidak tidur selama 3 hari!" Jade menarik kembali selimut yang diambil oleh Zen.
__ADS_1
" hahh.." Zen menghela nafas dan meninggalkan Jade begitu saja.
Jade kembali dengan hibernasinya, sedangkan Zen segera menuju ke kantor. hari ini akan menjadi sangat panjang hingga...
" wah, Robin ini sangat indah!" suara seorang wanita menggema diseluruh rumah.
" haha, ini bukan rumahku" Robin menyentuh lembut ujung hidung wanita itu.
" eh, tapi kamu tetap tinggal disini bukan_-"
" hm, duduklah dulu. aku akan mengganti pakaianku!" Robin berjalan menuju ke kamarnya, kemudian segera mengganti pakaiannya.
" urgh..berisik!" Jade terbangun dari tidurnya.
" ah" gadis itu terkejut mendapati Jade yang baru terbangun diatas sofa dari tidurnya. dia terkejut mendapati seorang laki-laki tampan yang hanya mengenakan piyama dengan motif galaksi yang kebesaran.
" hei, siapa kamu?" Jade langsung berdiri dan menahan pergerakan wanita itu dari belakang.
" ah, a..aku.." Wanita itu tergagap melihat ketampanan Jade.
" katakan!"
" Jade, apa yang ?" Robin terkejut mendapati pacarnya tengah dikunci pergerakannya oleh Jade.
" Kak, apa kamu mengenalnya?" Jade menatap tajam pada Robin.
" hahh..." Jade melepas wanita itu kemudian mendorongnya menjauh.
" aku tidak peduli siapa dia, yang jelas jangan berisik!" Jade berjalan pergi dari ruang tamu menuju ke kamarnya.
" sayang apa kamu baik-baik saja?" Robin mengkhawatirkan pacarnya itu. dia bergegas menghampiri dan menanyakan kondisi pacarnya itu.
" i'm ok!" gadis itu memeluk Robin, tapi matanya terus menatap Jade yang berjalan pergi.
" Robin, siapa dia?" Tanya gadis itu sambil menunjuk arah kepergian Jade.
" dia adikku, namanya Jade!" Robin segera mengajak pacarnya itu untuk duduk dan membawakannya minum.
" dia sangat manis" gadis itu tersenyum.
" ya, kamu benar" Robin mengusap lembut kepala gadis itu.
berjam-jam telah berlalu, kini sudah pukul 6 PM dan Zen belum kembali dari kantor.
" urgh..aku lapar" Jade berjalan turun dari kamarnya menuju ke dapur. saat dia turun melewati tangga spiral dan berjalan melalui ruang tamu, dia melihat Robin dan gadis tadi siang tengah berciuman disana.
__ADS_1
" yakk, menjijikan " Jade langsung berlari menuju ke dapur.
" ah, tidak ada apapun disini π_π" Jade mencari bahan makanan di lemari es kemudian memasak sedikit makan malam untuk dirinya sendiri.
beberapa lama kemudian sepiring Steak, pasta, onion ring, burger, fish and chip, dan beberapa hidangan manis, puding mangga, chese cake, Churro, ice krim, dan segelas susu Vanilla.
"hahh, selesai!" Jade menelfon Zen yang kini masih berada di kantor. Zen bilang dia sudah tiba didepan rumah, dan baru saja ingin masuk.
Jade langsung saja menyantap makan malamnya tanpa menunggu Robin yang sibuk bermain dengan gadis tadi, sedangkan Zen baru akan masuk ke dalam rumah.
" ups, maaf mengganggu" Zen bergegas menuju ke dapur begitu melihat Robin dan pacarnya tengah bermesraan diruang tamu.
" oh ya, kalau bisa jangan diruang tamu" Zen menghentikan langkahnya sebelum kakinya melangkah masuk menuju ke dapur.
" Jade?" Zen terkejut mendapati Jade yang tengah asik menyantap makanan yang ada dimeja makan.
"kenapa kamu baru pulang, aku belum makan dari pagi!" celetuknya denga penuh rasa kesal.
" lalu dari mana makanan ini berasal?" Zen masih terpukau mendapati meja makan yang penuh dengan berbagai jenis hidangan , mulai dari makanan ringan, fast food, dan dessert semuanya tersedia.
" aku yang membuatnya" Jade masih fokus dengan segala hidangan yang menanti dirinya itu.
Zen hanya tersenyum mendapati Jade yang masih sibuk dengan makanannya.
" oh ya, apa Robin sudah selesai?" Jade menatap Zen yang kini sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Robin.
" eh, apa kamu melihat mereka tadi?" Zen terkejut mendapati pertanyaan dari Jade.
" hmm" Jade merapikan piring-piring yang ada di meja kemudian membawanya ke wastafel untuk dicuci.
" Apa? sudah sejak kapan?" Zen terkejut mendengar jawaban santai dari Jade.
" sudah sejak 30 menit yang lalu" Jade kini sibuk dengan acara mencuci piringnya.
Zen kembali fokus dengan acara masak memasaknya hingga akhirnya Robin tiba diruang makan.
" oh, kamu sudah kembali" Zen bertanya dengan nada canggung. dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
Robin berjalan menuju ke wastafel kemudian mencuci mulutnya sampai bersih, dia bahkan hampir mutah.
" apa kamu baik-baik saja,Robin?" Zen menghampiri Robin yang terlihat sangat pucat disana.
" hahh...hahhh....hahh..." Robin langsung memeluk erat Zen.
Zen bingung dengan apa yang terjadi, dia bingung bagaimana dia harus bereaksi. dia mulai memeluk lembut Robin kemudian air mata Robin tumpah.
__ADS_1
setelah menangis cukup lama dipelukan Zen, Zen hanya membiarkan Robin menumpahkan air mata dipelukannya. setelah beberapa lama Robin akhirnya berhenti menangis.