
" ayo turun!" Zen membukakan pintu untuk Sara yang masih menatapnya bingung. Sara melangkahkan kakinya mengikuti kemanapun Zen membawanya.
Zen membawa langkahnya menuju ke ruang kepala sekolah, setibanya didepan ruang kepala sekolah tatapan Sara semakin menjadi, dia semakin bingung. untuk apa Zen membawanya ke ruang kepala sekolah STAR. Zen mengetuk pintu ruang kepala sekolah, setelah mendapat izin dia melangkahkan kakinya memasuki kantor yang...uhm...mewah itu.
" hei, bro!" Zen masuk diikuti dengan Sara yang mengekor dibelakangnya. saat didalam Zen sudah disambut dengan sebuah pelukan dan salam dari seorang laki-laki a.k.a kepala sekolah.
" hei, Alan!!" Zen memeluk pria itu kemudian memberikan salam padanya, Alan membalas pelukan dari teman lamanya itu. setelahnya Alan mendapati keberadaan gadis manis dibelakang Zen.
__ADS_1
" hei kawan, siapa nona manis ini?" tanya Alan sambil menatap ke arah Sara. Sara tidak mempedulikan tatapan dari Alan, dia malah membuang muka dan mengalihkan pandangannya.
" hei jangan menatapnya seperti itu. dia kakak angkat JD kecil!" seketika Alan mengalihkan pandangannya, dia tidak berani menatap gadis itu lagi. Zen melebarkan senyumnya, sebuah senyum kepuasan terukir diwajah Zen.
" jadi dia yang akan menjadi murid barunya?" Alan menatap ke arah Zen, ya dia tidak mau mencari masalah dengan Jade. terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
" hm" Zen menoleh ke arah Sara, mengukir sebuah senyum dan dijawab acuh oleh Sara. dia masih kesal dengan Zen dan Jade yang melakukan banyak hal dengan seenak mereka. dia juga bagian dari rumah itu, seharusnya dia juga tahu apa yang terjadi.
Sara mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, melemparkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan menatap ke setiap alat musik. Zen dan Alex hanya tersenyum melihat Sara yang asik melemparkan pandangannya ke segala sudut ruangan.
__ADS_1
Sara masih sangat asik mengamati seluruh ruangan hingga akhirnya pandanganya terkunci pada sebuah piano yang terletak disalah satu sudut ruangan. Sara mulai melayangkan jari jemarinya ke atas tuts piano itu, Sara mendudukkan dirinya ke kursi kemudian menarikan jari jemarinya di atas tuts piano itu.
Alan sangat terkejut mendengar alunan nada dari piano yang dimainkan oleh Sara. jari jemarinya kini tengah menari-nari dengan indahnya diatas tuts piano itu, Alan hanya bisa menganga melihat permainan indah dari Sara. bagia malaikat yang tengah memainkan piano dari surga, begitu indah dan menawan. Zen hanya menggeleng melihat tingkah Alan yang..uhm..menggelikan.
" apa dia benar-benar manusia?" tanya Alan pada Zen yang membuatnya mendapat sebuah jitakan di kepalanya. Alan menggerang kesakitan karena tingkah Zen. Sara tidak mempedulikan tingkah kedua laki-laki itu, dia hanya ingin menikmati alunan nada yang indah ini.
" hm, jadi bagiamana?" Zen menatap Alan yang masih dalam lamunannya, Sara mulai menghentikan tarian itu, jari-jarinya mulai melambat, sebuah senyum terukir diwajah manis itu.
" tentu saja, aku akan menerimanya!" jawab Alan dengan sangat yakin, dia tidak akan pernah membuang bakat yang begitu hebat. Zen hanya bisa tersenyum mendapati jawaban Alan.
__ADS_1
sedangkan itu\, disisi lain Jade kini tengah menghadapi badai besar\, ayahnya datang dengan tiba-tiba diperusahaan miliknya dan memaksa dirinya untuk kembali ke keluarga **Criss. **ya\, Jade adalah pewaris pertama dari keluarga criss\, keluarga terkaya no 2 di dunia\, dan jika Jade menjabat sebagai Presdir dan menerima takdirnya sebagai penerus. Keluarga Criss pasti akan menjadi keluarga terkaya no 1 di dunia.