School Lifes

School Lifes
Episode 21


__ADS_3

" ehh...." Robin sangat terkejut mendengar kata-kata Jade, dia bahkan hampir tersedak.


"  haha, carilah gadis yang baik!" Jade beranjak pergi dari ruang makan dan pergi menuju ke ruang tamu. dia menyalakan video game miliknya kemudian bermain sepanjang malam.


Robin hanya berdecak kesal melihat tingkah Jade, sedangkan Zen hanya terkekeh melihat tingkah kedua makhluk absurb itu. Robin tambah kesal ketika Zen menertawai mereka. Robin memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan  mengerjakan tugasnya.


" can we play together?" Zen duduk disebelah Jade yang sibuk dengan konsol game-nya.


" hm.." Jade menggeser posisinya kemudian memberikan konsol lainnya pada Zen. mereka akhirnya bermain sepanjang malam hingga Zen terlelap lebih dahulu dibanding Jade.


" hahh, bukankah seharusnya kamu yang masih bangun?" Jade mengambil selimut yang memang sudah dia siapkan sebelumnya kemudian menyelimuti Zen.


" argh, saatnya tidur!" Jade akhirnya pergi menuju ke kamarnya, saat dia hampir memasuki kamarnya dia melihat kamar Robin masih terbuka.


" apa kamu belum tidur?" Jade mengintip dari celah pintu yang ada, dia menatap Robin yang tengah serius dalam belajar.


" ah, kamu juga belum tidur?" Robin terkejut mendapati keberadaan Jade.


" hehe, bukankah aku sudah biasa tidak tidur?"


Jade masuk kedalam dan duduk ditepi ranjang king size milik robin. dia mengamati seluruh penjuru kamar itu, ya semuanya bernuansa hitam putih. kamar itu terlihat sangat maskulin dan cool. rak buku berjajar dengan rapi disudut ruangan, meja belajar dan meja komputer berada disebelahnya. ranjang king size yang berseberangan dengan jendela terletak ditengah sudut ruangan.


" hahh...tidurlah!" Jade bangun dan menutup buku tugas milik Robin. dia menarik Robin dari kursinya dan membawanya menuju ke ranjang.


" selamat tidur, Robin" jade keluar dari kamar Robin kemudian bergegas masuk ke kamarnya.


" lia.." Ya, seperti biasa seberlum tidur Jade selalu mengingat kembali tentang adik kecilnya itu, kadang terbesit ingatan yang menyenangkan dan kadang terbesit kenangan yang menyedihkan. dia hanya berharap adiknya tenang disana.


" selamat malam, lia!" jade menatap ke arah Jendela, disana bulan tengah mengintip dirinya yang terlelap. Jade tersenyum pada bulan, angin malam yang menerpa pepohonan menjadi lagu nina bobo untuk dirinya. Jade kini telah terlelap, keindahan malam yang menjadikan dirinya penuh akan kedamaian.


hari ini hari minggu, jade dan Robin memutuskan untuk pergi ke taman bermain sedangkan Zen harus pergi ke kantor. Jade pergi dengan Robin mengendarai sebuah Porsche 911 Carrera 4 cabriolet berwarna hitam miliknya.


Jade melajutkan mobilnya dengan kecepatan standar dijalanan LA yang ramai, Robin hanya fokus dengan musik yang dimainkan oleh Playist lagunya hingga..


" JADE AWASS!!!" Seorang gadis lompat begitu saja ke jalan, Jade langsung saja menginjak rem-nya tanpa berpikir panjang hingga mereka hampir menabrak gadis itu.


" ah, apa kamu baik-baik saja,Robin?" jade menatap ke Robin yang masih terlihat syok dan kacau. mereka berdua kemudian memutuskan untuk turun dan memeriksan kondisi gadis itu.

__ADS_1


" apa kamu baik-baik saja?" Robin mengulurkan tangannya pada gadis itu. gadis itu menerima uluran tangan Robin kemudian berdiri.


" ouch.." gadis itu tersungkur kembali ke tanah, kakinya terluka. robin bergegas memeriksan kaki gadis itu sedangkan Jade hanya diam dan memperhatikan.


" SARA, APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI?" seorang laki-laki dengan badan yang kekar datang menghampiri, dia tampak kesal. pria itu menatap ke arah gadis yang kini tersungkur ketanah.


" tuan, apa anda mengenalnya?" jade bertanya pada pria itu dengan santainya.


" ah, maaf nak. apa dia membuat kalian kerepotan?" tanya pria itu dengan sopan, namun tidak menghilangkan ekspresi kesal dan marahnya.


" gadis ini melompat ke jalan begitu saja, untung saja saya masih bisa mengendalikan mobil jadi, tidak ada yang terluka." jade menatap tajam pada pria yang ada didepannya.


" maaf, tapi gadis ini terkilir. apa kami perlu mengganti rugi?" Robin ikut bicara dengan pria kekar itu, ya walau separuh tubuhnya bergetar dia tetap mencoba memberanikan diri.


" APA!? GADIS BODOH, KAMU INI HANYA MEREPOTKAN SAJA!" pria itu menarik lengan gadis itu dan mencengkramnya dengan sangat kuat.


" argh.." gadis itu meringis kesakitan. jade hanya diam dan mengambil beberapa ratus dollar dari dalam dompetnya.


" maaf paman, kalau dia putrimu ini. kami akan ganti rugi biaya pengobatannya" Jade memberikan beberapa lembar uang pada pria yang ada didepannya, dia kemudian menarik tangan Robin dan membawanya pergi.


membawa gadis itu kembali ke dalam rumah. Robin hanya memperhatikan gadis yang mulai berjalan menjauh itu.


" ada masalah?" Jade menatap Robin yang sedari tadi melamun, Robin menatap ke luar jendela dengan tatapan yang penuh kesedihan.


" ah, tidak!" robin kembali menfokuskan dirinya dengan ponselnya, walau begitu dia semakin memikirkan gadis tadi.


tidak butuh waktu lama mereka tiba ditaman bermain, Jade dan Robin kini sudah berada diparkiran. Jade sudah turun dan membeli tiket, sedangkan robin masih melamun dimobil.


" ayo pergi, robin!" Jade menatap kebelakangnya, tidak ada keberadaan Robin disana. Jade terus mencari keberadaan Robin, hingga dia menemukan sosoknya yang tengah duduk dalam lamunannya dimobil.


" Robin?" Jade menatap Robin, dia pikir Robin mungkin masih sedikit trauma dengan hal tadi.


" ah, Jade? kenapa kamu turun?" Robin terkejut mendapati Jade ada didepannya, dia benar-benar larut dalam lamunannya karena seorang gadis.


" kita sudah sampai! aku juga sudah membeli tiket!!" jade menunjukkan dua tiket yang ada ditangannya pada Robin.


" ah, maaf! ayo kita pergi" Robin membuka pintu  mobil kemudian berjalan menuju ke area taman bermain.

__ADS_1


" apa kamu baik-baik saja, Robin?" Jade masih memikirkan Robin yang sedari tadi melamun. dia takut kalau Robin teringat dengan kecelakaan yang di alami oleh orang tuanya.


" aku tidak apa, hanya saja... paman yang tadi terlihat aneh?" Robin menatap ke bianglala yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


" eh, kamu masih memikirkan yang tadi?"


" maaf!" Jade khawatir kalau Robin benar-benar memikirkan orang tuanya.


" tidak, kenapa kamu minta maaf?" Robin bingung dengan Jade, memang cara mengemudi Jade tadi agak membahayakan gadis itu, tapi kesalahannya tetap ada pada gadis itu.


" hahh, ayo kita naik itu!" Robin menunjuk ke arah bianglala. daripada hanya duduk dan memikirkan gadis itu, lebih baik mereka bersenang-senang.


" hahh? serius?" Jade terkejut Robin mengajaknya naik bianglala. bukan karena Jade takut ketinggian, tapi bianglala adalah tempat yang ..uhm... romantis?


" hm, kenapa?" Robin bingung dengan tatapan Jade, Jade menatapnya dengan penuh kebingungan.


" hahh, ayo kita naik roller coaster!" Jade mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju ke antrian panjang roller coaster, Robin hanya pasrah mengikuti keinginan adiknya ini


" come on, Robin!" Jade sudah tidak sabar naik roller coaster, dia bahkan rela menunggu untuk bisa mendapat giliran.


~~


Jade: thor, kenapa ngak dibikin cepet aja antriannya.


Author: jangan sombong, mentang-mentang yang punya LA _-


jade: :)


~~


" hm.." Robin hanya pasrah mengikuti Jade yang semakin berjalan menjauh.


mereka akhirnya menikmati waktu bermain seharian, bahkan mereka tidak sadar sekarang sudah waktunya makan siang. perut Jade dan Robin sudah demo meminta makan, terjadi perang dunia didalam sana.


" Robin, bisa kita makan dulu?" Jade menatap Robin dengan pandangan penuh harap. dia berharap mereka bisa beristirahat dan mengisi perutnya sebentar


" hm, aku juga lapar!" Robin membalas Jade dengan senyuman manis.

__ADS_1


__ADS_2